Dari Dojo Lokal ke Panggung Internasional, Jasmine Gunarto Rebut Dua Gelar di Silent Night Malaysia

Karateka cilik Jasmine Gunarto meraih perak dan perunggu di Malaysia International Championship.

Dari Dojo Lokal ke Panggung Internasional, Jasmine Gunarto Rebut Dua Gelar di Silent Night Malaysia
Aksi Jasmine Ashadiya Gunarto, karateka cilik asal Jogja yang berhasil merebut dua gelar di Silent Night Malaysia. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Event tahunan "Silent Night Malaysia International Championship" menjadi panggung bergengsi bagi ratusan karateka dari berbagai negara. Tahun ini, lebih dari 500 peserta ambil bagian, termasuk atlet dari Singapura, Thailand, Sri Lanka, India, dan tuan rumah Malaysia.

Di tengah persaingan ketat itu, nama Jasmine Ashadiya Gunarto mencuri perhatian. Karateka cilik asal Yogyakarta ini berhasil meraih medali perunggu di kelas Kata dan medali perak di kelas Kumite—sebuah pencapaian membanggakan di level internasional.

Perjalanan Jasmine menuju podium bukan tanpa tantangan. Di kelas Kata, ia harus tampil tiga kali hingga akhirnya melaju ke final sebelum dikalahkan oleh atlet tuan rumah. Hal serupa terjadi di kelas Kumite—lagi-lagi harus mengakui keunggulan lawan dari Malaysia di partai puncak.

Meski begitu, hasil ini tetap menjadi bukti kualitas dan daya juang Jasmine. Terlebih, ia hanya memiliki waktu istirahat satu hari setibanya di Malaysia sebelum bertanding.

Latihan Keras, Disiplin, dan Dukungan Penuh Orang Tua

Di balik prestasi Jasmine, ada rutinitas latihan yang luar biasa disiplin. Dalam seminggu, ia berlatih hingga 11 kali—pagi dan sore. Hari-harinya dimulai sejak pukul 04.00 pagi, berangkat ke dojo pukul 04.30, dan berlatih hingga pukul 07.00 sebelum berangkat sekolah. Sore harinya, ia kembali berlatih dari pukul 16.00 hingga 18.00. Istirahat penuh hanya ia dapatkan pada hari Minggu dan Rabu sore.

Tak hanya soal teknik, Jasmine juga menjaga pola makan dan pemulihan tubuh. Ia rutin menjalani terapi seperti berendam air es dan pijat bulanan untuk menjaga kondisi otot akibat intensitas latihan tinggi. Bahkan, menjelang pertandingan, konsumsi minuman manis dihentikan dan pola makan diatur ketat sesuai kebutuhan berat badan kelas Kumite.

Sang ibu, Kingkin Pitaningrum, mengakui kekhawatiran yang kerap muncul melihat kondisi fisik anaknya setelah latihan. Namun, seiring waktu, keluarga memahami bahwa proses ini adalah bagian dari perjalanan menjadi atlet.

Bersama sang ayah Arjunadi dan Ibu Brigitta Kingkin Pitaningrum. (istimewa)

Pelatihnya, Isvan Alfredatama, melihat Jasmine sebagai atlet yang punya kemauan kuat dan cepat menyerap materi. Kepercayaan diri dan kecerdasannya dalam memahami strategi menjadi nilai tambah yang menonjol.

Sejak kecil, Jasmine sudah akrab dengan dunia karate. Ia mulai latihan sejak taman kanak-kanak dan semakin serius menekuni olahraga ini sejak kelas 3 SD. Kini, sebagai siswa kelas 5 dengan sabuk biru, ia telah menguasai empat kata dan menargetkan menguasai 5–6 kata dalam tahun ini. Menariknya, Jasmine tidak terburu-buru mengejar sabuk hitam. Baginya, proses dan pengalaman dari setiap kejuaraan jauh lebih penting.

Perbedaan Gaya dan Mental Bertanding

Ditemui di tempatnya berlatih Dojo Almahyra Training Camp di Sleman, Jasmine menuturkan pengalamannya bertanding di luar negeri. Ia mengaku keikutsertaannya di Silent Nigth Malaysia, membuka wawasan baru dalam banyak hal. Ia menyadari adanya perbedaan gaya bertanding antara atlet dalam negeri dan luar negeri—baik dari segi teknik, ritme, hingga strategi.

Meski sempat merasakan grogi menjelang pertandingan, terutama saat tampil di final melawan atlet dengan gaya kidal, Jasmine mampu mengatasinya dengan baik. Ia menganggap setiap kemenangan sebagai kebahagiaan, dan setiap kekalahan sebagai pelajaran berharga.

Sang ayah, Arjunadi menambahkan, ikut serta dalam turnamen di Malayia, menjadi kesempatan bagi putrinya belajar lebih banyak. Sebagai orangtua, Arjunadi mengaku terus mendampingi putrinya menimba pengalaman.

Setia pada event karate di Jogja dan sekitarnya, mereka selalu menyempatkan diri untuk melihat langsung dan merekam pertandingan. Tujuannya satu, untuk menjadi bahan pembelajaran Bersama pelatih.

“Kami ingin membantu anak dan pelatih. Dengan bekal rekaman pertandingan, akan membuat pola pelatihan lebih lengkap. Pendekatan ini membuat anak kami tidak sekadar bertanding, tetapi juga datang dengan “senjata lengkap”—analisis, data, dan strategi matang,” imbuhnya. (*)