Cerita Gus Ipul tentang Anak-Anak yang Tak Terlihat Negara
Para siswa SRT 44 menampilkan beragam atraksi mulai dari tari, pidato bahasa Inggris, Arab dan Jepang.
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul melaksanakan kunjungan ke Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 44 Kabupaten Kebumen, Sabtu (14/2/2026), dan berdialog dengan siswa SR yang baru beroperasi kurang dari setahun itu.
Gus Ipul memanggil seorang bocah kecil yang baru saja tampil dalam paduan suara. Namanya Anang Irawan (9). Seragamnya sedikit kebesaran. Suaranya belum sempurna.
“Senang sekolah di sini?” tanya Gus Ipul sambil tersenyum.
Anang mengangguk pelan. “Senang,” jawabnya lirih.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf berdialog dengan siswa dan wali murid SR 44 Terintegrasi Kebumen. (istimewa)
Ucapan sederhana itu membuat Gus Ipul terdiam sejenak lalu menoleh ke hadirin dan berkata, “Anak-anak seperti Anang inilah yang harus diperhatikan negara.”
Anang adalah anak yatim. Ibunya meninggal lima tahun silam. Dia tinggal bersama ayahnya, Kodrat (52), buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sejak ditinggal istrinya, Kodrat harus bekerja sambil mengasuh dua anaknya.
“Dulu Anang lebih sering main, kurang terarah. Sekarang lebih mandiri, saya merasa sangat terbantu,” ujar Kodrat.
Dari cerita ini Gus Ipul menjelaskan makna besar di balik Sekolah Rakyat. “The invisible people seperti yang disebut Presiden, itu sebenarnya bukan orang jauh. Mereka ada di sekitar kita. Tapi kadang tidak terlihat. Tidak tercatat. Tidak terdengar,” ujar Gus Ipul.
Penampilan paduan suara siswa SR 44 Kebumen di depan rombongan Menteri Sosial. (istimewa)
Keluarga seperti Anang dan ayahnya adalah bagian dari kelompok yang belum sepenuhnya tersentuh proses pembangunan. Mereka hidup, berjuang, tetapi sering luput dari perhatian sistem.
“Bapak Presiden Prabowo memberi atensi serius pada mereka. Salah satu strateginya adalah menghadirkan Sekolah Rakyat. Negara harus hadir untuk anak-anak seperti Anang,” kata Gus Ipul.
Gus Ipul kembali mengajak seorang siswa naik ke panggung. Kali ini Erni (14), bersama pamannya yang selama ini merawatnya. Dialog singkat itu membuka kisah yang tak kalah getir.
“Ibunya nggak tahu pergi ke mana. Bapaknya nggak ngurusin. Ditinggal bapak ibunya dari bayi,” ujar sang paman yang sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan.
Amanat konstitusi
Gus Ipul menyampaikan pesan kepada para pendamping PKH yang hadir. “Ini adalah the invisible people yang teman-teman harus dengar, harus lihat dan harus catat.”
Kisah Erni mencerminkan amanat konstitusi yang menjadi dasar hadirnya negara melalui program sosial.
“Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara. Salah satunya lewat Sekolah Rakyat ini,” ujar Gus Ipul.
Erni mengaku senang bisa kembali sekolah setelah sempat putus satu tahun usai lulus SD. Kini dia tinggal di asrama SRT 44 dan mengikuti kegiatan belajar seperti teman-temannya.
Dibentuk karakter
Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar akademik. Di sini anak-anak tinggal di asrama, makan bersama, dibimbing setiap hari, dibentuk karakter dan keterampilannya.
Dalam satu semester berjalan, perubahan sudah tampak nyata. “Sekarang kita lihat mereka lebih segar, lebih percaya diri dan menatap masa depan dengan optimis,” kata Gus Ipul.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani mengakui perubahan itu. “Anak-anak kita sekarang lebih berani bermimpi. Bahkan sudah ada yang meraih prestasi nasional,” ujar Lilis.
Kepala SRT 44 Kebumen Tri Puji Astuti mengatakan saat ini membina 100 siswa, terdiri 50 siswa SD dan 50 siswa SMP. Kegiatan belajar dan pengasuhan didukung 10 guru, 16 wali asuh serta 6 wali asrama. Sebagian besar kebutuhan siswa dicukupi pemerintah.
Dalam acara ini para siswa SRT 44 menampilkan beragam atraksi mulai dari tari, pidato bahasa Inggris, Arab dan Jepang, paduan suara serta teater. (*)
Nanang W Hartono
