Cahaya Warna-warni Menari di Dinding Monjali
Itulah Kirana Viramantra, gelaran seni tiga hari yang mengubah Monjali menjadi obyek video mapping raksasa.
KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Langit malam Yogyakarta berpendar dalam warna. Cahaya warna-warni menari pada dinding Monumen Jogja Kembali (Monjali), sementara alunan macapat bersahutan dengan dentuman musik modern.
Itulah Kirana Viramantra, gelaran seni tiga hari yang mengubah Monjali menjadi obyek video mapping raksasa sekaligus tempat pertemuan antara tradisi dan teknologi, 8-10 November 2025.
Sejak petang, pengunjung telah memadati area indoor dan outdoor Monjali. Di antara instalasi cahaya bertema Hutan Bambu, pengunjung larut dalam suasana yang memadukan rasa tenang dan takjub.
Sementara itu, pada area lain, tim @lepaskendalilabs menyiapkan video mapping yang memproyeksikan kisah-kisah Jawa ke dinding monumen.
Tak terduga
Momen paling tak terduga terjadi pada malam pembukaan 9 November 2025. Tanpa pengumuman jauh-jauh hari, FSTVLST band asal Yogyakarta yang dikenal lewat lirik puitis dan energi panggungnya muncul di atas pentas. Dalam sorot lampu dan tepuk tangan penonton, mereka membawakan sejumlah lagu, termasuk Orang-orang di Kerumunan dan Gas.
Kejutan ini sontak jadi perbincangan di sosial media. Banyak penggemar yang senang dengan kejutan tersebut, tapi tak sedikit juga yang kecewa karena tak sempat datang akibat pengumuman yang mendadak. “Kalau tahu lebih awal, saya pasti datang,” tulis penggemar di sosial media.
Keterlibatan FSTVLST bukan tanpa alasan. Sang gitaris, Roby Setiawan, turut menjadi seniman cahaya di gelaran ini. Dari latar seni rupa yang dia tekuni sebelum bermusik, Roby menampilkan karya visual yang berpadu dengan instalasi cahaya di sekitar area konser. “Saya ingin menjadikan cahaya sebagai cara lain untuk bercerita,” ujarnya.
Menurutnya, musik dan visual itu sebenarnya punya bahasa yang sama. Keduanya bisa menyentuh tanpa banyak bicara.
Sentuhan lokal
Selain Roby, sejumlah seniman juga ambil bagian dalam Kirana Viramantra. Kolektif FAYAFLA, yang dikenal lewat eksplorasi video mapping dan instalasi cahaya sejak 2013, menampilkan karya visual dengan sentuhan lokal yang segar.
Ada pula Paguyuban Gegerboyo, kelompok seni rupa beranggotakan Enka Komariah, Prihatmoko Moki dan Anjali Nayenggita, yang mempertontonkan instalasi bercahaya terinspirasi budaya Jawa.
“Kami berangkat dari bentuk tradisi yang kami pahami, tapi menampilkannya lewat media baru. Cahaya itu seperti nafas yang membuat simbol-simbol lama jadi hidup lagi," kata Moki dari Gegerboyo.
Pada panggung utama, kelompok Mantradisi bersama Sanggar Seni Kinanti Sekar menutup rangkaian acara dengan drama musikal macapat berjudul Goro-goro Diponegoro.
Semangat kepahlawanan
Pertunjukan ini merupakan paduan musik, tari dan visual sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat kepahlawanan Pangeran Diponegoro.
“Kami ingin menunjukkan bahwa macapat tidak berhenti di masa lalu. Ia bisa berdialog dengan teknologi, dengan cahaya, dengan bentuk baru pertunjukan,” ujar Paksi Raras Alit, pendiri Mantradisi.
Sementara Kinanti Sekar Rahina, koreografer sekaligus pendiri Sanggar Seni Kinanti Sekar, menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah cara baru untuk menghidupkan tradisi.
“Gerak, bunyi dan cahaya semuanya punya ruh. Kalau bisa berpadu, mereka bisa menyampaikan rasa yang sama kepada penonton,” ucap Sekar.
Cara pandang
Tiga hari penuh, Monjali tak hanya menjadi ruang pamer karya, tapi juga tempat bertemunya ide, generasi dan cara pandang.
Dari bambu bercahaya hingga macapat yang bergema di bawah warna-warni visual dari proyektor ber-lumen tinggi, Kirana Viramantra membuktikan satu hal: tradisi Jawa tak pernah padam, melainkan hanya menemukan cara baru untuk menyala. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
