atas

Terapi Individu Kurangi Resiko Pengobatan

Sabtu, 09 Feb 2019 | 23:18:19 WIB, Dilihat 143 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Terapi Individu Kurangi Resiko Pengobatan Prof Dr Dyah Aryani Perwitasari MSi PhD Apt dalam pidato pengukihan guru besar pada Fakultas Farmasi UAD Yogyakarta di kampus IV UAD, Sabtu (9/2/2019). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Hasil Penelitian Siswa SMAN 2 Bantul Dipamerkan


KORANBERNAS.ID -- Penyakit yang diderita pasien tidak bisa disamakan satu dengan lainnya. Karenanya pengobatan dengan konsep terapi individu dibutuhkan untuk menimimalisasi resiko pengobatan.

"Pengobatan yang tepat merupakan pendekatan baru untuk pencegahan dan pengobatan penyakit yang mempertimbangkan gen, lingkungan, dan pola hidup seseorang," ungkap Prof Dr Dyah Aryani Perwitasari MSi PhD Apt dalam pidato pengukihan guru besar pada Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta di kampus IV UAD, Sabtu (9/2/2019).

Dengan konsep terapi individu, maka pengobatan dilakukan dengan nilai-nilai yang dimiliki pasien berdasarkan pertimbangan untuk memberikan keputusan terkait kesehatan dan pengobatannya.

Konsep ini menurut Dyah bisa diterapkan dalam pengobatan di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dyah terhadap apoteker yang praktik di rumah sakit dan apotek di Yogyakarta terkait pengetahuan, kesadaran dan perilaku apoteker terhadap individualisasi terapi, secara keseluruhan nilai pengetahuan, kesadaran dan perilaku pasien terhadap individualisasi adalah baik.
Namun yang jadi masalah tidak semua puskesmas bisa di negara ini bisa melaksanakan konsep pengobatan individu berdasarkan pilihan pasien. Kecukupan tenaga kefarmasian di tingkat pelayanan primer masih jadi pekerjaan rumah yang harus dibenahi.
 
Seperti diketahui, jumlah tenaga kesehatan di Indonesia pada 2017 lalu mencapai 836.446 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 45.839 orang diantaranya adalah tenaga kefarmasian. Sedangkan tenaga kefarmasian di puskesmas baru mencapai 12.155 orang. Di tahun yang sama, hanya 2.641 puskesmas yang punya tenaga kefarmasian dari total 9.821 puskesmas.

"Karena itulah kecukupan tenaga kefarmasian di tingkat layanan primer perlu dipenuhi agar konsep pengobatan individu berdasarkan pilihan pasien bisa dipenuhi," tandasnya.

Sementara Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum mengungkapkan, Dyah merupakan guru besar keempat yang dimilili UAD. UAD saat ini mempunyai 4 orang profesor yayasan seperti Bustami Subhan, Hariyadi, Subardjo dan Dyah Aryani Perwitasari.

Keberadaan guru besar di perguruan tinggi (PT) merupakan pilar yang sangat penting dalam mengembangkan pendidikan tinggi agar menjadi pendidikan tinggi yang unggul.

"Dengan tambahnya guru besar dan prodi di UAD ke depan semakin maju dan dikenal masyarakat," paparnya.(yve)



Sabtu, 09 Feb 2019, 23:18:19 WIB Oleh : Sari Wijaya 339 View
Hasil Penelitian Siswa SMAN 2 Bantul Dipamerkan
Sabtu, 09 Feb 2019, 23:18:19 WIB Oleh : Sholihul Hadi 471 View
Apa Hubungan Politik dengan Keris? Ini Jawaban Hasto Kristiyanto
Sabtu, 09 Feb 2019, 23:18:19 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 291 View
Boleh Jualan Asal Tak Pakai Plastik

Tuliskan Komentar