Belajar dari China, Azis Subekti Ungkap Model Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan bukan soal meniru jalan bangsa lain melainkan menemukan kembali jalan kita sendiri. 

Belajar dari China, Azis Subekti Ungkap Model Ketahanan Pangan
Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Dapil Jawa Tengah VI, Azis Subekti. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, PURWOREJO – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Dapil Jawa Tengah VI, Azis Subekti, mengungkapkan ada kalanya perlu belajar ketahanan pangan dengan cara bercermin dari negara lain. Bukan untuk ditiru melainkan sebagai cermin melihat diri sendiri secara lebih jernih.

Dia mencontohkan, China menjaga ketahanan pangan bertumpu pada tunas bambu muda atau rebung. Meski bukan sumber utama pangan, rebung di China tumbuh dan dimanfaatkan karena ekosistemnya memungkinkan. Pada wilayah tertentu pada musim tertentu terjadi panen rebung.

“Pelajaran tersebut menjadi relevan bagi Indonesia, negeri dengan keragaman ekologi yang jauh lebih kompleks. Dari sagu di timur, jagung dan umbi di wilayah kering hingga padi di daerah basah. Indonesia sejatinya memiliki banyak “rebung”, banyak sumber pangan yang lahir dari kearifan lokal dan telah teruji oleh waktu. Masalah kita bukan pada ketiadaan sumber, melainkan pada kecenderungan menyeragamkan,” ujarnya kepada media, Rabu (28/1/2026).

Menurut Azis, upaya pemerintah untuk keluar dari jebakan lama ketergantungan impor patut dibaca sebagai langkah korektif. Pencapaian swasembada pada komoditas strategis menunjukkan bahwa negara mulai kembali percaya pada kemampuan petani dan daya dukung tanahnya.

Fondasi keragaman

Tetapi, kata dia, swasembada hanya akan kokoh jika dibangun di atas fondasi keragaman, bukan homogenisasi. Ketahanan pangan nasional tidak mungkin berdiri hanya di atas satu tanaman, satu wilayah atau satu pendekatan.

Di sinilah kearifan lokal menemukan relevansinya. Ketika pangan diproduksi dan dikonsumsi sesuai dengan kondisi setempat, risiko krisis menjadi lebih tersebar dan lebih mudah dikelola.

Menurut dia, alam tidak dipaksa bekerja melampaui kemampuannya, dan masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar. Ini bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi rasional menghadapi perubahan iklim dan ketidakpastian global.

"Pengalaman China memperlihatkan negara hadir tanpa mematikan pengetahuan lokal. Negara menjaga kerangka besarnya, ekosistem, tata kelola dan keberlanjutan, sementara masyarakat mengelola detailnya sesuai konteks wilayah. Bambu tumbuh di tempat yang tepat, pangan lain tumbuh di tempat lain. Tidak ada ambisi untuk menyeragamkan semuanya," ujarnya.

Menekan impor

Azis menambahkan Indonesia dengan segala kelebihannya berada pada jalur yang sama jika mau bersabar. Setelah menekan ketergantungan impor dan menegaskan swasembada, tantangan berikutnya adalah memastikan kesinambungan.

“Bukan dengan memperluas produksi secara seragam, tetapi dengan memperdalam pemahaman terhadap potensi tiap daerah. Ketahanan pangan ke depan harus dirancang sebagai mozaik, bukan sebagai satu warna tunggal,” katanya.

Pada titik ini, rebung tidak lagi berdiri sebagai simbol yang berlebihan melainkan pengingat bahwa pangan tumbuh dari kesesuaian antara manusia dan alam. Setiap tempat memiliki “rebung”-nya sendiri, dengan nama dan bentuk yang berbeda. Tugas negara dan masyarakat adalah memastikan kesesuaian itu tidak dirusak oleh keserakahan, ketergesaan, atau kebijakan yang lupa pada konteks.

"Ketahanan pangan, pada akhirnya, bukan soal meniru jalan bangsa lain, melainkan menemukan kembali jalan kita sendiri, jalan yang sudah lama ada, tetapi sering kita abaikan," tandasnya. (*)