Bea Cukai Siapkan Layanan Cepat dan Humanis bagi Jemaah Haji YIA
Pelayanan haji tahun 2026 menjadi fokus utama Kantor Bea Cukai Yogyakarta. Ada 27 kloter dengan total 9.641 jemaah yang akan dilayani
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean B Yogyakarta menetapkan tahun 2026 sebagai momentum krusial peningkatan pelayanan publik.
Menyusul penetapan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) sebagai embarkasi haji penuh, Bea Cukai menyiapkan strategi khusus untuk melayani ribuan jemaah, sembari mengejar target penerimaan negara yang dipatok naik signifikan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kantor Bea Cukai Yogyakarta, Imam Sarjono, menegaskan bahwa instansinya telah menyiagakan sumber daya penuh untuk kelancaran operasional haji.
“Pelayanan haji tahun 2026 menjadi fokus utama kami. Ada 27 kloter dengan total 9.641 jemaah yang akan dilayani. Kami mendedikasikan 36 pegawai khusus selama tiga bulan penuh untuk menangani fase keberangkatan hingga kepulangan,” ujar Imam di hadapan awak media saat Media Gathering yang digelar Selasa (20/1/2026).
Imam menyadari bahwa pemeriksaan kepabeanan bagi jemaah haji memerlukan pendekatan humanis namun tetap tegas. Untuk menghindari penumpukan akibat pemeriksaan barang bawaan yang tidak perlu, Bea Cukai melakukan inovasi edukasi dini.
“Kami membuat buku saku dan video pendek yang bisa dimasukkan ke HP jemaah. Harapannya, saat di asrama atau hotel, video ini diputar terus agar jemaah paham barang apa yang boleh dan dilarang dibawa, terutama saat kepulangan nanti,” jelasnya.
Langkah ini diambil agar pengawasan berjalan smart—menjaga kepatuhan tanpa menghambat kelancaran arus penumpang. Bea Cukai juga menggandeng Angkasa Pura untuk optimalisasi X-ray dan akan menggelar simulasi alur pemeriksaan bersama imigrasi dan karantina pada 26 Januari mendatang.
Tantangan Cukai 2026
Optimisme menyambut tahun 2026 ini didasari oleh kinerja solid sepanjang tahun 2025. Imam memaparkan, Bea Cukai Yogyakarta sukses merealisasikan penerimaan negara sebesar Rp858,98 miliar. Angka ini melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp803 miliar, atau setara dengan capaian 106,97 persen.
Namun, tantangan di tahun 2026 diprediksi semakin berat. Target penerimaan negara untuk Bea Cukai Yogyakarta dinaikkan menjadi Rp929,64 miliar, tumbuh sekitar 15,77 persen (naik Rp126,64 miliar) dibanding tahun sebelumnya.
“Memang berat, apalagi tidak ada lonjakan industri besar di Jogja. Namun kami akan intens berkomunikasi dengan kontributor utama seperti pabrikan rokok Sampoerna untuk memastikan target terpenuhi,” tambahnya.
Di sisi pengawasan (Community Protector), Bea Cukai Yogyakarta mencatatkan rekor 217 penindakan sepanjang tahun 2025. Penindakan ini meliputi barang kena cukai ilegal hingga narkotika.
Imam menyoroti keberhasilan jajarannya mengungkap modus penyelundupan narkoba yang semakin canggih.
“Prestasi terbesar kami adalah menindak narkotika dengan modus sabu cair yang disamarkan dalam tisu basah, serta modus ditelan (swallow),” ungkapnya.
Terkait rokok ilegal, Bea Cukai menjelaskan fenomena tingginya temuan di Yogyakarta meski bukan daerah produksi. Yogyakarta diidentifikasi sebagai jalur lintasan alternatif para penyelundup.
Ketika jalur Pantura diperketat, distribusi ilegal bergeser ke jalur selatan (Daendels) dan jalur tengah, menjadikan Yogyakarta sebagai titik perlintasan strategis yang kini diawasi ketat. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
