Banyak Kejadian Mistis di Balik Proses Produksi Film Horor Kemah Terlarang
Yogyakarta memang kaya dengan tempat-tempat yang dianggap wingit atau keramat.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Film horor Kemah Terlarang: Kesurupan Massal yang diangkat dari kisah nyata di Yogyakarta pada 2016 silam memunculkan pesan kuat tentang pentingnya menghormati budaya dan kepercayaan lokal.
Film yang disutradarai Ginanti Rona ini tidak hanya menghibur penonton dengan unsur horor, tetapi juga menjadi pengingat akan konsekuensi dari sikap meremehkan kearifan lokal.
Kemah Terlarang dibintangi Callista Arum, Fatih Unru, Nihna Fitria, Derby Romero dan Landung Simatupang ini mengisahkan sekelompok siswa SMA yang mengalami kejadian mistis saat berkemah di hutan Wana Alus. Cerita ini sebelumnya viral di sosial media dan telah diadaptasi menjadi novel sebelum akhirnya diangkat ke layar lebar.
"Pesan utama film ini adalah pentingnya rasa hormat terhadap budaya setempat. Jangan pernah meremehkan atau bersikap egois ketika berada di wilayah yang memiliki nilai keramat bagi masyarakat lokal," ungkap Derby Romero dalam konferensi pers di Yogyakarta, Jumat (4/10/2024).
Kejadian mistis
Proses produksi film yang berlangsung sebulan di Hutan Wanagama Yogyakarta diwarnai banyaknya kejadian mistis yang memperkuat narasi film.
Landung Simatupang sebagai salah seorang pemeran senior film itu menekankan Yogyakarta memang kaya dengan tempat-tempat yang dianggap wingit atau keramat.
"Kadang orang dengan mudah menganggap cerita-cerita ini sebagai takhayul. Namun, kita perlu memahami bahwa di balik cerita-cerita tersebut ada nilai sejarah dan kearifan lokal yang patut dihormati," jelasnya.
Film ini juga memiliki tantangan teknis tersendiri terutama penggunaan bahasa Jawa dengan dialek yang tepat. Para pemain harus menjalani pelatihan khusus untuk memastikan autentisitas dialog mereka.
Hujan misterius
Berbagai kejadian mistis selama produksi di antaranya hujan misterius saat syuting adegan kafan, fenomena tembang yang didengar pemain sebelum diciptakan dan insiden telur busuk di lokasi syuting. Bahkan, seorang pemeran ekstra harus menjalani ruqyah setelah syuting selesai.
Rini, salah seorang penonton yang menyaksikan pemutaran perdana film ini mengaku terkesan. "Film ini tidak hanya menyeramkan, tetapi juga memberi pelajaran berharga tentang bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap tempat-tempat yang dianggap keramat," katanya.
Kemah Terlarang: Kesurupan Massal juga menonjolkan nilai-nilai persahabatan dan solidaritas di antara para pemain muda. "Dedikasi para pemain muda ini luar biasa. Mereka tidak hanya menunjukkan profesionalisme dalam berakting, tetapi juga sikap hormat terhadap budaya lokal selama proses syuting," puji Landung.
Film ini diharapkan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media pembelajaran tentang pentingnya menghormati kearifan lokal dan budaya setempat.
Landung menambahkan film ini juga mengingatkan penonton bahwa di dunia ini ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara logika dan perlu disikapi dengan bijak. (*)