APMD Wisuda 169 Lulusan S1 dan S2

Lulus menjadi sarjana ibarat keluar dari terowongan panjang. Ini tentu patut disyukuri.

APMD Wisuda 169 Lulusan S1 dan S2
Prosesi wisuda lulusan STPMD

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” melaksanakan wisuda bagi 169 lulusan program Sarjana (S1) dan Magister (S2) di kampus setempat, Sabtu (27/9/2025).

Sidang Senat Terbuka digelar dengan dihadiri jajaran pimpinan kampus, para dosen, sivitas akademika serta keluarga wisudawan. Momentum wisuda tahun ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan juga menjadi peristiwa penuh makna bagi para lulusan yang resmi menyandang gelar sarjana dan magister setelah menempuh perjalanan panjang di bangku kuliah.

Ketua STPMD “APMD”, Dr Sutoro Eko Yunanto, mengungkapkan perubahan status dari mahasiswa menjadi sarjana dan magister bukan hanya pencapaian akademik, melainkan juga langkah awal memasuki babak baru kehidupan.

“Lulus menjadi sarjana ibarat keluar dari terowongan panjang. Ini tentu patut disyukuri, bukan hanya karena capaian, tetapi juga karena kesempatan yang diperoleh para sarjana, sebagai bagian kecil dari rakyat Indonesia yang bisa mengenyam pendidikan tinggi,” ujar Sutoro.

Penuh perjuangan

Dia menyampaikan apresiasi khusus kepada para lulusan yang menempuh kuliah dengan penuh perjuangan. Ada yang lulus dengan gemilang, ada pula yang lolos dengan penuh keterbatasan.

“Kami memberi penghormatan kepada mereka yang kuliah dengan bandha nekat, yang berjuang tanpa banyak bekal namun tidak menyerah hingga akhirnya bisa mengenakan toga hari ini,” tambahnya.

Sutoro mengungkapkan perjalanan perkuliahan laiknya proses berenang di kolam renang. Ada yang berenang di kolam dangkal karena ilmunya masih tipis, ada yang berani menyelam dalam dengan memperkaya diri melalui kuliah, KKN, penelitian dan aktivitas organisasi.

Namun, setelah wisuda, para lulusan tidak lagi berada di kolam renang, melainkan akan menghadapi “sungai deras” bahkan “laut luas” dalam kehidupan nyata.

Kompetisi tajam

“Esok hari para sarjana akan menghadapi kompetisi tajam, bertemu dengan orang-orang yang kadang merampas hak orang lain. Maka ada dua pilihan: menyesali masa lalu karena kurang belajar, atau berjuang sambil terus belajar, memperkaya ilmu laku di tengah masyarakat,” ucapnya.

Sutoro mengingatkan dunia kerja bagi para lulusan tidaklah linier. Ada yang langsung meniti karier profesional sesuai bidang ilmunya, ada pula yang lambat bahkan berkali-kali gagal sebelum diterima bekerja.

“Kegagalan tahun pertama atau kedua bukan akhir segalanya. Ia justru bisa menjadi ladang pembelajaran, asal jangan mengulang kesalahan yang sama,” katanya.

Selain jalur pekerjaan formal, wirausaha juga menjadi jalan alternatif. Meski APMD bukan sekolah bisnis, terbukti banyak alumni yang sukses menjadi pengusaha setelah jatuh-bangun di medan usaha.

Jalur ketiga

“Wirausaha adalah jalan sulit, ibarat berenang di sungai deras, tetapi banyak lulusan APMD yang membuktikan keberhasilan di sana,” jelas Sutoro.

Jalur ketiga yang tak kalah penting adalah menjadi aktivis atau pegiat masyarakat. Kadang dipandang sebelah mata sebagai “pengangguran banyak acara”, tetapi dari kalangan ini kerap lahir tokoh penting, wakil rakyat, hingga pemimpin di berbagai level pemerintahan.

Sutoro menekankan bahwa kesuksesan karier bukan hanya soal kapasitas, melainkan juga misteri hidup.

“Bisa saja hari ini seorang sarjana hanya lulus dengan maklum, tetapi kelak justru menjadi pemimpin daerah. Karier tidak selalu datang tiba-tiba, ia memerlukan perjuangan panjang dan konsistensi laku,” ungkapnya. (*)