Angka Stunting Turun di Bawah 10 Persen, Pemkab Kebumen Menerima Insentif Rp 5,6 Miliar

Wakil Bupati Kebumen Ristawati Purwaningsih mengatakan angka stunting terus menurun dari tahun ke tahun.

Angka Stunting Turun di Bawah 10 Persen, Pemkab Kebumen Menerima Insentif Rp 5,6 Miliar
Wakil Bupati Kebumen Ristawati Purwaningsih pada kegiatan pencegahan stunting di Puskesmas Pejagoan. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN -- Kementerian Keuangan memberi insentif keuangan Rp 5,6 miliar kepada Pemkab Kebumen setelah berhasil menurunkan angka stunting 2023/2024.

Berdasarkan hasil survei dari Kementerian Kesehatan, angka stunting di Kebumen sudah di bawah 10 persen. Tahun 2023 Pemkab Kebumen menerima dana insentif sejenis sebesar Rp 5 Miliar.

Wakil Bupati Kebumen Ristawati Purwaningsih mengatakan angka stunting terus menurun dari tahun ke tahun. Pada 2020 stunting di Kebumen mencapai angka 15,34 persen.

Kemudian turun menjadi 12,14 persen pada 2021 dan turun lagi menjadi 10,22 persen pada 2022. Hingga Juli 2024 angka stunting menurun dibawah 10 persen atau 9,98 persen.

Penurunan itu merupakan hasil kerja keras Pemkab Kebumen bersama seluruh stakeholder serta merupakan bukti keseriusan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) bersama pihak-pihak terkait.

Beberapa fase

Alhamdulilah yang patut kita syukuri adalah angka stunting kita sudah turun di bawah 10 persen," kata Ristawati, Kamis (5/9/2024).

Dalam menangani stunting ada beberapa fase yang dilakukan. Mulai fase ibu hamil dan fase sesudah melahirkan yang utamanya pada bayi usia 0-24 bulan.

“Kita mengejar kedua fase ini, karena fase ini yang determinan terhadap stunting paling tinggi. Penyebab tingginya stunting ada di fase-fase tersebut," kata Ristawati.

Salah satunya lewat program pendidikan, edukasi dan promosi yang mencakup kedua fase pertumbuhan bayi. Sementara intervensi lainnya fokus pada masing-masing fase kehidupan yang paling tinggi determinannya terhadap stunting.

Misalnya, kata dia, intervensi dengan memberikan tablet tambah darah kepada ibu. Program aksi bergizi ini dilakukan bersama Puskesmas yang akan rutin mengukur darah remaja putri. Rista menambahkan, program intervensi pada kelompok ibu hamil.

Perlu intervensi

Pada kelompok ini, ibu hamil akan diberikan tablet tambah darah dan memastikan gizi cukup.  “Pertumbuhan janin kalau tidak normal, gizinya kurang, kita perlu intervensi,” jelasnya.

Pada kelompok saat bayi sudah lahir. Intervensi akan difokuskan pada bayi usia 0-24 bulan. Programnya imunisasi, ASI (Air Susu Ibu) eksklusif, dan bila bergejala diberikan protein hewani.

Rista memastikan bayi yang baru lahir mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan. Bayi yang diidentifikasi berisiko stunting agar segera dicegah dengan memberikan protein hewani.

Bila sudah stunting harus dikirim ke rumah sakit dan ditangani oleh dokter anak. "Kita juga men-suport masyarakat dengan pemberian makanan tambahan untuk para balita gizi yang cukup dan seimbang," kata Ristawati. (*)