Anggota DPRD Klaten Yudi Kusnandar Kenalkan Alat Pemusnah Sampah Minim Asap

Satu jam pembakaran butuh lima liter oli bekas. Dari 1,6 kuintal sampah, residu atau abu yang dihasilkan sekitar 3-4 kilogram saja.

Anggota DPRD Klaten Yudi Kusnandar Kenalkan Alat Pemusnah Sampah Minim Asap
Anggota DPRD Kabupaten Klaten, Yudi Kusnandar, memperkenalkan alat pembakar sampah minim residu dan asap kepada Ketua RT, Ketua RW, tokoh masyarakat, perangkat Desa Karanglo, Sabtu (26/7/2025). (masal gurusinga/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, KLATEN -- Permasalahan sampah menjadi sorotan anggota DPRD Klaten, Yudi Kusnandar SE. Politisi PDI Perjuangan itu menilai sistem penanganan sampah di beberapa wilayah belum efektif karena kenyataannya masih ditemukan tumpukan sampah pada beberapa tempat, termasuk di pinggir jalan.

Dilatarbelakangi dari rasa keprihatinannya, mantan Kepala Desa Karanglo Kecamatan Polanharjo itu menginisiasi pembuatan alat pemusnah sampah atau pembakar sampah suhu tinggi, minim asap dan minim residu (abu).

Alat yang terbuat dari tong atau ada juga yang menyebutnya incinetator itu, Sabtu (26/7/2025), diperkenalkan kepada Ketua RT, Ketua RW, perangkat desa, tokoh masyarakat dan pemuda Desa Karanglo. Dalam acara itu juga dilaksanakan uji coba membakar sampah menggunakan alat tersebut.

Ditemui di sela-sela acara, Yudi Kusnandar mengatakan uji coba membakar sampah menggunakan alat tersebut sudah dilakukan beberapa kali dan hasilnya cukup efektif.

Timbunan sampah 1,6 kuintal yang dibakar hanya menyisakan residu tiga kilogram. (masal gurusinga/koranbernas.id)

"Hari ini, saya memperkenalkan alat ini sekaligus mempraktikkannya. Sampah yang akan dibakar menggunakan alat ini sebanyak 1,6 kuintal dengan pembakar awal menggunakan oli bekas dan blower. Satu jam pembakaran butuh lima liter oli bekas," katanya.

Proses pembakaran 1,6 kuintal sampah tersebut dilakukan dari awal hingga selesai. Terbukti, selama proses pembakaran berlangsung, asap yang keluar dari cerobong pembakaran juga minim. Selain itu, residu atau abu yang dihasilkan juga minim sekali sekitar 3-4 kilogram saja. Padahal sampah yang dibakar meliputi sampah basah, plastik, pampers maupun batok kelapa muda.

Sebelumnya, kata dia, uji coba pembakaran sampah menggunakan alat tersebut sudah dilakukan selama enam jam nonstop dan tidak ada masalah terhadap alat.

Dia berharap, ke depan setiap dukuh di Desa Karanglo punya alat tersebut agar permasalahan sampah di dukuh masing-masing bisa diatasi atau diminimalisir. "Daripada sampah numpuk di pinggir jalan," jelasnya.

Lebih efektif

Ketua Paguyuban Dukuh Desa Karanglo, Bagyo, mengemukakan selama ini penanganan sampah di desanya dilakukan dengan cara dibakar di tempat sampah. Hanya saja, sistem tersebut tidak efektif karena ketika hujan turun, sampah basah dan tidak bisa dibakar. Yang muncul justru lalat dan bau. Dengan alat itu akan lebih efektif.

Ketua RT 1/RW 1 Desa Karanglo, Taryono, ditemui di sela-sela acara mengatakan Desa Karanglo memiliki tempat sampah. Selama ini, penanganan masalah sampah dilakukan dengan cara dibakar di TPS yang berjarak sekitar 50 meter dari permukiman warga.

"Lokasi tempat membakar sampah selama ini ada di sebelah utara Desa Karanglo. Kalau dibakar asapnya kemebul, bahkan ada yang protes. Kalau hujan, sampah tidak bisa dibakar menimbulkan bau," kata Taryono.

Dia berharap, setelah perkenalan alat tersebut bisa ditindaklanjuti di wilayah masing-masing. (*)