Rabu, 02 Des 2020,


anakanak-senang-menerima-pembagian-ikan-gorengPeluncuran Kembali Pangan Lokal, Seri: Ikan untuk Anak #IUAK di Kelurahan Mantrijeron Yogyakarta. (sholikul hadi/koranbernas.id)


Sholikul Hadi

Anak-anak Senang Menerima Pembagian Ikan Goreng


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Suasana pendapa Kelurahan Mantrijeron Kota Yogyakarta, Sabtu (21/11/2020),  tampak riuh saat anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Mutiara Bangsa 13 Mantrijeron Yogyakarta datang.

Diantar orang tuanya serta pendamping, usai mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, mereka berbaris, kemudian satu per satu menerima pembagian makanan ikan goreng plus sayur. Meski tertutup oleh masker, ekspresi wajah anak-anak itu terlihat senang, meski ada pula yang menangis. Maklum, namanya juga anak-anak.


Baca Lainnya :

    Kemeriahan itu merupakan bagian dari kegiatan Bunda sebagai Pahlawan Pangan bagi Balita, Peluncuran Kembali Pangan Lokal, Seri: Ikan untuk Anak #IUAK yang diselenggarakan Foodbank of Indonesia (FoI) bekerja sama dengan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Gadjah Mada (UGM).

    Acara yang juga memperoleh dukungan Beejay Seafood serta JNE ini berlangsung secara virtual. Pada layar monitor terlihat antara lain Founder Foodbank of Indonesia M Hendro Utomo, Pakar Makanan Tradisional Indonesia yang juga Guru Besar UGM Prof Dr Ir Murdijati Gardjito, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof Dr Ir Eni Harmayani MSc, serta Direktur Operasional CV Beejay Seafood, Juda Mangitung.


    Baca Lainnya :

      Hendro Utomo menyampaikan, kegiatan ini dilaksanakan di 25 kabupaten/kota. Dia mengakui, pandemi Covid-19 merusak dinamika pergerakan orang sehingga membuat perekonomian kolaps. Terkait dengan distribusi makanan, anak-anak pun masuk kelompok rentan. Untuk itu, pihaknya mendonasikan ikan bagi 20 ribu anak-anak PAUD.

      Dipandu moderator Ruth Helena Girsang, Eni Harmayani  mengapresiasi gerakan yang mengangkat pentingnya ikan sebagai pangan lokal bagi anak-anak. DIY termasuk provinsi yang konsumsi ikannya rendah. “Mari kita tingkatkan konsumsi ikan di Yogyakarta, bersama pemerintah dan masyarakat,” ucapnya.

      Murdijati Gardjito merasa bersyukur ada lembaga FoI yang mengajak masyarakat mengonsumsi ikan. Dari naskah-naskah kuno diketahui sejak awal peradaban bangsa ini sudah dikenal ikan asin. Seiring perkembangan teknologi, ikan kering bisa diolah menjadi produk lain yang menyehatkan.

      Sayangnya, kata dia, harga ikan laut di DIY tidak murah sehingga sebagian masyarakat sulit mengakses. Mestinya, ikan yang dijual di DIY berkualitas bagus dan segar, bukan ikan yang sudah mati tujuh kali, dalam tanda kutip, supaya tidak amis dan rasanya lebih enak. (*)



      SHARE
      '

      BERITA TERKAIT

      Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

      Tulis Komentar disini