Aisyiyah Dorong Jurnalisme Inklusif yang Berpihak pada Kelompok Rentan
Banyak penyandang disabilitas yang ditolak jadi dosen meski berprestasi.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah mendorong penguatan kapasitas jurnalis agar lebih peka dan inklusif terhadap isu kekerasan seksual, gender, disabilitas dan inklusi sosial (GEDSI). Melalui kegiatan bertajuk Mainstreaming GEDSI di Media: Mengembangkan Jurnalisme Inklusif, organisasi perempuan Muhammadiyah ini berupaya membumikan nilai-nilai keislaman yang berpihak pada kelompok rentan.
Kegiatan tersebut digelar Rabu (6/8/2025) di SM Tower & Convention, Ngampilan Yogyakarta dan mengundang jurnalis dari berbagai media.
Menurut Niki Alma Febriana Fauzi, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, isu kekerasan seksual memang tidak selalu disebut secara eksplisit dalam khazanah Islam klasik, namun prinsip dasarnya telah diatur di dalam ajaran Islam.
“Kalau kita memaksakan tafsir yang kaku, khawatirnya Islam dianggap tak relevan. Maka penting kembali ke nilai dasar yaitu tidak membahayakan, menjaga kesetaraan dan memuliakan manusia,” jelasnya.
Pendekatan prinsip
Dia mencontohkan fenomena catcalling yang kini masuk kategori kekerasan seksual, meskipun dulu dianggap sebagai candaan. Meski tidak disebut dalam hadis secara langsung, hal ini dapat ditafsirkan melalui pendekatan prinsip Al-Qiyam Al-Asasiyah dan Al-Usul Al-Kulliyah.
Lebih lanjut, Niki menilai regulasi sosial di Indonesia masih terlalu permisif terhadap pelaku kekerasan seksual, apalagi jika pelaku memiliki posisi atau dianggap berjasa.
“Ada pemakluman yang berbahaya. Maka kita harus membangun kesadaran kolektif bahwa kekerasan seksual hingga plagiarisme adalah pelanggaran serius,” tegasnya.
Sementara itu, Tri Hastuti Nur selaku Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah menyatakan diskriminasi di Indonesia masih terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari gender, usia, pekerjaan, lokasi geografis hingga disabilitas.
Disabilitas
“Banyak penyandang disabilitas yang ditolak jadi dosen meski berprestasi, hanya karena sistem pendidikan kita belum menyediakan akomodasi layak,” ungkapnya.
Menurut dia, keterlibatan perempuan, remaja dan difabel dalam pengambilan Keputusan masih minim, baik di ranah publik maupun komunitas lokal. Hal ini, menunjukkan inklusi sosial belum sepenuhnya menjadi kesadaran sistemik.
Kegiatan Mainstreaming GEDSI di Media menjadi bagian dari komitmen ‘Aisyiyah mendorong jurnalisme yang lebih berpihak kepada mereka yang termarjinalkan.
“Media memegang peran strategis. Jurnalis harus berani menyuarakan ketidakadilan dan membuka ruang bagi mereka yang selama ini tak terdengar,” kata Tri. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
