Ada Kisah Mistis, Kampus Biru dalam Buku Celoteh Cah Bulaksumur

Ada suara sandal berlari di jalan aspal tipis, permainan gobak sodor di bawah lampu minyak, hingga cerita horor yang dulu beredar dari mulut ke mulut.

Ada Kisah Mistis, Kampus Biru dalam Buku Celoteh Cah Bulaksumur
Wakil Ketua Pengurus Pusat Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Prof. Dr. Paripurna Poerwoko Sugarda membagikan ceritanya tentang Bulaksumur dan buku Celoteh Cah Bulaksumur. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Di lorong-lorong sempit Perumahan Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) Bulaksumur, Yogyakarta, kenangan masa kecil hingga remaja puluhan anak dosen tersimpan rapi. Bukan hanya tentang rumah-rumah dinas di Kampus Biru yang sederhana, tetapi juga tentang suara tawa, permainan tradisional, persahabatan, bahkan hiruk-pikuk pergolakan zaman.

Kini, lebih dari empat dekade kemudian, cerita itu dihidupkan kembali lewat sebuah antologi berjudul Celoteh Cah Bulaksumur.

Buku setebal 412 halaman ini berisi 93 esai karya 41 penulis yang pernah tinggal di kawasan Bulaksumur pada rentang 1965-1985. Mereka menuliskan kembali fragmen kehidupan mulai dari kisah sederhana bermain di jalan perumahan, bersekolah di SMA sekitar Yogyakarta hingga pengalaman kuliah di kampus biru. Semuanya tersaji sebagai potret sosial budaya sebuah komunitas unik di jantung UGM.

“Buku ini seperti album foto yang hidup kembali. Siapa pun yang pernah tumbuh di Yogyakarta era 60-80-an akan menemukan dirinya di dalam cerita-cerita ini,” kata Yanri Wijayanti, yang akrab disapa Tenong Siswanto selaku editor buku.

Bola salju

Gagasan awal buku ini datang grup WhatsApp, lalu Yanri dipercaya menyusunnya. Awalnya dia sempat pesimis dengan target hanya 30 kontributor, namun jumlahnya terus bertambah.

“Terjadi efek bola salju. Hebatnya, tanpa ditunjuk dan tanpa janjian, 93 esai ini tidak ada yang duplikat. Rentang usia penulis pun lebar, dari kelahiran awal 40-an hingga 70-an. Kami rangkai menjadi satu cerita besar tentang anak-anak dosen yang tumbuh di Bulaksumur,” kata Yanri.

Cerita-cerita itu melompat dari satu masa ke masa lain, dari pengalaman awal ketika listrik belum masuk tahun 80-an, permainan petualangan dan persahabatan, hingga pengaruh pergolakan politik dan kisah mistis yang mewarnai lingkungan perumahan.

Yanri mengakui, penyusunan tidak lepas dari keterbatasan. “Banyak lubang, banyak kekurangan. Untuk itu kami mohon maaf. Namun kami ingin buku ini membuat semua hepi, sekaligus menjaga marwah orang tua. Semua yang ditulis ada konsep, ada filosofi, termasuk simbol dan ilustrasi di dalamnya,” ujarnya.

Tanpa teknologi

Yanri menambahkan, generasi muda bisa belajar dari nilai-nilai sederhana itu. “Kebersamaan, solidaritas dan kegembiraan yang lahir tanpa teknologi canggih adalah pelajaran penting dari masa itu,” katanya.

Kekuatan Celoteh Cah Bulaksumur tidak hanya pada nostalgia, tetapi juga nilai kebersamaan yang tercermin di setiap cerita.

“Membaca ini membuat saya terharu karena semua mengarah kepada guyub dan saling tolong-menolong, suatu kebahagiaan bersama,” ungkap Prof Paripurna Poerwoko Sugarda, Dekan Fakultas Hukum UGM.

Peluncuran buku itu semakin bermakna karena digelar di Museum UGM Bulaksumur Blok D-6, Sabtu (13/9/2025). Bangunan museum yang kini berstatus cagar budaya berdiri tepat di kawasan yang menjadi latar cerita.

Terkait sejarah

Ketua Pengelola Museum UGM, Cahyono Prasojo, menyambut gembira. “Kami senang sekali karena museum ini berada di kawasan Bulaksumur. Isi buku ini terkait sejarah pertumbuhan UGM, baik secara intelektual maupun sosial. Banyak yang akan terinspirasi membaca buku ini,” ujarnya.

Siang itu, ruang museum terasa hangat oleh tawa dan percakapan nostalgia. Para penulis duduk berbaur dengan keluarga besar mantan warga Bulaksumur, sebagian membawa foto lama yang mereka tunjukkan dengan bangga.

Cuplikan esai dibacakan bergantian, menggambarkan kembali suasana masa kecil di perumahan. Ada suara sandal berlari di jalan aspal tipis, permainan gobak sodor di bawah lampu minyak, hingga cerita horor yang dulu beredar dari mulut ke mulut.

Di antara kursi kayu dan lembar-lembar buku yang tersusun di meja pamer, banyak yang larut dalam kenangan. Beberapa tampak mengusap sudut mata, sementara yang lain tertawa keras saat mendengar kisah-kisah kocak khas anak Bulaksumur. Museum seakan menjelma ruang pulang, tempat memeluk kembali masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang.

Perubahan sosial

Bagi banyak orang, Bulaksumur bukan sekadar perumahan dosen, melainkan laboratorium kehidupan. Anak-anak tumbuh bersama dalam suasana egaliter, belajar tentang pertemanan, solidaritas hingga menghadapi perubahan sosial dan politik yang besar.

Lewat Celoteh Cah Bulaksumur, kenangan itu kini terdokumentasi dalam sebuah “album hidup” yang bisa dibaca lintas generasi. Buku ini menjadi jembatan antara masa lalu dan kini, mengingatkan bahwa di balik sebutan kampus biru, ada lorong-lorong sederhana tempat generasi UGM ditempa dengan nilai yang masih relevan hingga hari ini. (*)