Selasa, 15 Jun 2021,


40-tahun-tak-bertemu-alumni-muhi-galang-dana-untuk-pesantren-tahfidz-quranPenyerahan bantuan untuk Ponpes Tahfidz Al Quran Suluh Melayu. (istimewa)


Siaran Pers
40 Tahun Tak Bertemu, Alumni Muhi Galang Dana untuk Pesantren Tahfidz Quran

SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Alumni SMA Muhammadiyah I (Muhi) Yogyakarta angkatan 77 berhasil menggalang dana untuk membantu pembangunan Pondok Pesantren Tahfidz Al Quran Suluh Melayu di Jalan Gambiran 85 Pandeyan Umbulharjo Yogyakarta.


Sri Istifada, pengurus alumni SMA Muhi Yogyakarta angkatan 77 mengatakan pihaknya memiliki komitmen sangat tinggi membantu pembangunan masjid dan pondok pesantren.


“Sejak awal kami memiliki komitmen membantu pembangunan masjid maupun pondok pesantren dengan melakukan penggalangan dana seluruh alumni. Jika sudah terkumpul maka kemudian disalurkan. Apalagi ini pondok pesantren tahfidz Al Quran yang akan mencetak para penghafal Al Quran. Harus kita bantu,” ungkapnya  di sela-sela penyerahan bantuan, Jumat (7/5/2021).

Bantuan diserahkan oleh M Bustani mewakili alumni Muhi 77 kepada  Mahyudin Al Mudra selaku pendiri dan pembina Yayasan Suluh Melayu Nusantara yang menaungi pondok pesantren tersebut,  didampingi Ketua Yayasan Noor Aslan serta Sekretaris HM Yusri dan pengurus lainnya.


Siti Istifada mengatakan, yang membanggakan para alumni SMA Muhi angkatan 77 adalah penggagas dan pendiri Pondok Pesantren Tahfidz Al Quran ini ternyata juga alumni SMA Muhi angkatan 1976.


Sejumlah tokoh nasional tercatat merupakan alumnus sekolah ini. Ada nama-nama besar di antaranya budayawan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun maupun musisi legendaris Ebiet G Ade.


“Kami bangga alumni Muhi Yogyakarta mampu mendirikan Pondok Pesantren Tahfidz Al Qur'an semegah ini. Kami mempunyai kewajiban membantu dan berharap alumni lainnya dari berbagai angkatan bisa mendukung, membantu mewujudkan berdirinya pondok pesantren yang akan mencetak hafidz dan hafidzah,” kata Siti.

Mahyudin Al Mudra menyampaikan apresiasi kepada para alumni SMA Muhi Yogyakarta angkatan 77. Meski puluhan tahun tidak bertemu mereka tetap punya keinginan kuat untuk menjalin silaturahmi.

“Saya merasa terharu dan bangga. Sudah 40 tahun lebih tidak bertemu, kita dipertemukan dalam suasana yang sangat membahagikan ini. Selain berterima kasih karena penyerahan infak dari alumni Muhi 77, kami berterima kasih karena jalinan silaturahmi ini," ujar Mahyudin.

Dia berharap kepedulian dan dukungan terhadap Pesantren Tahfidz Al-Quran Suluh Melayu ini dapat diikuti alumni semua angkatan. “Kami berharap langkah dari alumni Muhi angkatan 77 ini diikuti oleh alumni Muhi lainnya agar Pondok Pesantren Tahfidz Al Quran ini bisa segera selesai pembangunannya dan segera menampung para santri yang akan belajar menghafal Al Quran,” ucapnya.

Pondok pesantren modern ini berkeinginan mencetak generasi Islam yang berjiwa Qurani dan semangat enterpreneur. Pembangunan ponpes ini mencapai 80 persen. Harapannya tahun ini selesai. (*)



SHARE


'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini