Yogyakarta dan Mahasiswa Indonesia Timur, Merawat Rumah Kebangsaan

Oleh: Shohibul Adib

Kampus tidak cukup hanya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan. Kampus harus tetap menjadi ruang perjumpaan antarkebudayaan, tempat setiap mahasiswa belajar mendengar, memahami, dan menghargai pengalaman hidup yang berbeda. Apabila dahulu integrasi kebangsaan dibangun melalui perjumpaan langsung di ruang kuliah, diskusi, organisasi, dan kehidupan sehari-hari, kini ruang tersebut mulai bersaing dengan ruang digital yang tidak selalu menghadirkan dialog yang sehat. Padahal pengalaman hidup bersama merupakan fondasi utama terbentuknya kepercayaan sosial.

Yogyakarta dan Mahasiswa Indonesia Timur, Merawat Rumah Kebangsaan
Shohibul Adib. (Istimewa).

SETIAP tahun ratusan ribu mahasiswa datang ke Daerah Istimewa Yogyakarta dari hampir seluruh provinsi di Indonesia. Sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi nasional dengan lebih dari seratus perguruan tinggi, Yogyakarta bukan hanya menjadi kota tempat menuntut ilmu, tetapi juga ruang perjumpaan anak-anak bangsa dari Aceh hingga Papua. Di antara mereka, ada yang berasal dari Papua, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi, yang menjadi bagian penting dari wajah keberagaman Kota Pelajar. Fakta ini memperlihatkan bahwa Yogyakarta menjadi salah satu laboratorium integrasi kebangsaan yang paling hidup di Indonesia.

Banyak kota memiliki perguruan tinggi. Namun, hanya sedikit yang mampu menjadi ruang perjumpaan kebangsaan. Yogyakarta adalah salah satunya. Selama puluhan tahun, kota ini menjadi tujuan ribuan mahasiswa dari Aceh hingga Papua. Mereka datang dengan bahasa, budaya, agama, tradisi, dan pengalaman sosial yang berbeda. Di ruang-ruang kelas, asrama, rumah kos, organisasi kemahasiswaan, hingga warung kopi, mereka belajar bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang hidup bersama dalam keberagaman.

Data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) menunjukkan bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu tujuan utama mahasiswa dari luar daerah. Mobilitas pendidikan yang tinggi tersebut menjadikan DIY sebagai miniatur Indonesia. Di ruang-ruang kampus, perbedaan identitas, bahasa, agama, dan budaya tidak lagi dipertemukan melalui forum formal semata, tetapi melalui kehidupan sehari-hari. Di sinilah pendidikan menjalankan fungsi yang lebih besar daripada sekadar transfer ilmu pengetahuan, yakni membangun kepercayaan sosial (social trust) dan kohesi kebangsaan.

Yogyakarta bukan sekadar menyandang predikat Kota Pelajar. Kota ini juga merupakan ruang integrasi kebangsaan yang setiap tahun mempertemukan anak-anak bangsa dari berbagai penjuru Indonesia. Dalam konteks itulah kehadiran mahasiswa Indonesia Timur memiliki makna yang jauh melampaui aktivitas akademik. Mereka bukan sekadar mahasiswa perantau. Mereka adalah bagian dari proses panjang integrasi nasional yang berlangsung secara alamiah melalui pendidikan.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia Timur di Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi tantangan adaptasi budaya, perbedaan bahasa, hingga stereotip sosial. Namun pada saat yang sama, proses tersebut juga melahirkan ruang pembelajaran lintas budaya yang memperkaya pengalaman kebangsaan seluruh sivitas akademika. Karena itu, melihat mahasiswa Indonesia Timur hanya dari sudut pandang demonstrasi, konflik, atau dinamika organisasi kemahasiswaan merupakan cara pandang yang terlalu sempit. Realitas sosial yang berlangsung jauh lebih kompleks daripada gambaran tersebut.

Ruang Akademik sebagai Ruang Kebangsaan

Yogyakarta justru memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat dikelola melalui ruang akademik. Kampus menjadi tempat bertemunya berbagai identitas tanpa harus kehilangan identitas masing-masing. Di sinilah pendidikan tinggi menjalankan fungsi yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan. Kampus membentuk warga negara yang belajar menghargai perbedaan.

Tentu dinamika tetap ada. Aktivisme mahasiswa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kampus. Sejarah Indonesia bahkan mencatat bahwa berbagai perubahan besar bangsa lahir dari keberanian mahasiswa menyampaikan gagasan dan kritik. Di Yogyakarta, berbagai organisasi kemahasiswaan masih aktif menyampaikan aspirasi melalui dialog maupun aksi damai sebagai bagian dari kehidupan demokrasi.

Menjaga Kohesi Sosial pada Era Digital

Namun, pada era digital, tantangan yang dihadapi tidak lagi sama dengan dekade-dekade sebelumnya. Media sosial telah mengubah cara mahasiswa membangun identitas, membentuk opini, dan menjalin solidaritas. Informasi bergerak sangat cepat, tetapi sering kali tidak disertai ruang dialog yang memadai. Algoritma media sosial cenderung memperkuat kelompok yang sepemikiran dan mengurangi kesempatan untuk mendengar pandangan yang berbeda. Dalam situasi seperti ini, kesalahpahaman dapat berkembang lebih cepat daripada proses saling memahami.

Dalam perspektif ketahanan nasional, dinamika mahasiswa bukan semata-mata persoalan kehidupan kampus. Ia merupakan salah satu indikator kesehatan kohesi sosial bangsa. Selama ruang akademik mampu memfasilitasi dialog, perbedaan akan menjadi energi kebangsaan. Namun, ketika ruang dialog menyempit dan digantikan oleh polarisasi digital, potensi kesalahpahaman antarkelompok menjadi lebih besar. Karena itu, penguatan ruang akademik sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan nasional. Di titik inilah Yogyakarta menghadapi tantangan baru yang tidak lagi dapat dijawab hanya melalui pendekatan akademik konvensional.

Dalam konteks tersebut, Yogyakarta sesungguhnya sedang menjalankan fungsi yang jauh lebih besar daripada sekadar menyelenggarakan pendidikan tinggi. Kota ini menjadi ruang tempat identitas lokal bertemu dengan identitas nasional. Setiap interaksi antarmahasiswa, diskusi di ruang kelas, kegiatan organisasi, hingga percakapan sederhana di rumah kos merupakan proses pembelajaran kebangsaan yang tidak pernah tercatat dalam kurikulum, tetapi sangat menentukan kualitas integrasi nasional di masa depan. Sebuah tantangan yang tidak lagi sama dengan dua dekade lalu. Mahasiswa tidak datang ke Yogyakarta sebagai lembaran kosong. Mereka membawa identitas budaya, pengalaman sejarah, memori kolektif, bahkan berbagai narasi yang telah mereka peroleh melalui ruang digital. Karenanya, ruang akademik memiliki tanggung jawab yang semakin besar untuk mempertemukan berbagai pengalaman tersebut dalam dialog yang sehat.

Kampus tidak cukup hanya menjadi tempat belajar ilmu pengetahuan. Kampus harus tetap menjadi ruang perjumpaan antarkebudayaan, tempat setiap mahasiswa belajar mendengar, memahami, dan menghargai pengalaman hidup yang berbeda. Apabila dahulu integrasi kebangsaan dibangun melalui perjumpaan langsung di ruang kuliah, diskusi, organisasi, dan kehidupan sehari-hari, kini ruang tersebut mulai bersaing dengan ruang digital yang tidak selalu menghadirkan dialog yang sehat. Padahal pengalaman hidup bersama merupakan fondasi utama terbentuknya kepercayaan sosial.

Dalam perspektif ilmu politik, kondisi tersebut berkaitan erat dengan konsep social cohesion atau kohesi sosial. Bangsa yang kuat tidak hanya ditopang oleh konstitusi, institusi negara, atau pertumbuhan ekonomi. Kekuatan bangsa juga ditentukan oleh kemampuan masyarakat untuk membangun rasa saling percaya, saling menghormati, dan kesediaan untuk hidup bersama di tengah keberagaman.

Yogyakarta selama ini memiliki modal sosial yang sangat berharga untuk menjaga kohesi tersebut. Tradisi akademik yang terbuka, budaya dialog, kehidupan masyarakat yang relatif inklusif, serta keberadaan mahasiswa dari berbagai daerah menjadikan kota ini sebagai ruang belajar kebangsaan yang sulit ditemukan di tempat lain. Karena itu, setiap dinamika yang melibatkan mahasiswa seharusnya dibaca secara proporsional. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan akademik. Aktivisme sosial merupakan ekspresi kepedulian terhadap persoalan bangsa. Yang perlu terus dijaga adalah agar seluruh dinamika tersebut tetap berada dalam koridor konstitusi, etika akademik, dan semangat persatuan.

Tanggung jawab menjaga ruang kebangsaan tentu tidak hanya berada di pundak mahasiswa. Perguruan tinggi perlu memperkuat pendidikan kewargaan yang dialogis. Pemerintah daerah perlu terus membuka ruang komunikasi dengan berbagai elemen mahasiswa. Organisasi kemahasiswaan perlu menjadikan keberagaman sebagai sumber pembelajaran, bukan sekadar identitas kelompok. Masyarakat Yogyakarta pun memiliki peran penting untuk tetap mempertahankan tradisi keterbukaan yang selama ini menjadi ciri khas kota ini.

Yogyakarta tidak dibangun oleh tembok-tembok kampusnya, melainkan oleh kemampuannya untuk mempertemukan anak-anak bangsa yang datang dari latar belakang berbeda untuk belajar hidup bersama. Di kota inilah identitas kedaerahan bertemu dengan identitas kebangsaan, dan perbedaan diolah menjadi kepercayaan.

Di tengah menguatnya polarisasi digital dan berbagai tantangan kohesi sosial, peran Yogyakarta menjadi semakin strategis. Kampus tidak cukup hanya menjadi ruang transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus tetap menjadi ruang dialog, ruang saling memahami, dan ruang membangun kepercayaan antaranak bangsa. Ketika fungsi itu tetap terjaga, Yogyakarta tidak sekadar melahirkan lulusan perguruan tinggi, tetapi juga melahirkan warga negara yang memiliki kesadaran kebangsaan.

Akhirnya, menjaga Yogyakarta sebagai rumah bersama mahasiswa Indonesia Timur bukan sekadar menjaga tradisi akademik. Kita sedang menjaga salah satu fondasi terpenting ketahanan kebangsaan Indonesia. Sebab Indonesia tidak hanya dipersatukan oleh konstitusi dan batas wilayah geografis, tetapi juga oleh ruang-ruang perjumpaan yang menumbuhkan rasa saling percaya. Selama kampus tetap menjadi ruang dialog, ruang saling memahami, dan ruang belajar hidup dalam keberagaman, selama itu pula Yogyakarta akan tetap menjadi rumah kebangsaan. Dan hingga hari ini, salah satu rumah itu masih bernama Yogyakarta. **

Dr. Shohibul Adib, M.S.I.

Alumnus S3 Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Pemerhati Ketahanan Sosial dan Kebangsaan