Sanggar Seni Kinanti Sekar Perluas Akses Seni hingga Pinggiran

Kami ingin seni tari dan kebudayaan itu membumi, bisa diakses oleh siapa saja tanpa sekat jarak.

Sanggar Seni Kinanti Sekar Perluas Akses Seni hingga Pinggiran
Foto bersama sebagian pengurus saat perayaan Hari Ulang Tahun ke-11 Sanggar Seni Kinanti Sekar sekaligus peresmian Sanggar Kinanti Minggir di Jetis Depok, Sendangsari Kapanewon Minggir Sleman, Sabtu (25/7/2026). (istimewa)

KORANBERNAS.ID, SLEMAN -- Perayaan hari jadi ke-11 Sanggar Seni Kinanti Sekar (SSKS) tahun ini terasa berbeda. Sanggar yang selama ini dikenal sebagai ruang belajar seni tari memilih memperluas akses dan jangkauannya ke wilayah pinggiran yakni wilayah barat Kabupaten Sleman.

Dengan diresmikannya Sanggar Kinanti Minggir, langkah tersebut menjadi penanda bahwa seni dan budaya tak harus tumbuh di tengah kota, tetapi juga dapat berkembang bersama masyarakat pedesaan.

Suasana hangat mewarnai perayaan yang digelar di Jetis Depok, Sendangsari Kapanewon Minggir, Sabtu (25/7/2026). Alunan musik, tawa anak-anak, serta kebersamaan warga menjadi gambaran semangat yang diusung dalam peringatan ulang tahun sanggar tersebut.

"Kami ingin seni tari dan kebudayaan itu membumi, bisa diakses oleh siapa saja tanpa sekat jarak. Melalui Sanggar Kinanti Minggir, kami ingin menyediakan ruang aman dan kreatif bagi anak-anak di pedesaan untuk mengekspresikan diri mereka," ujar Nur Alfiah, Manager Sanggar Seni Kinanti Sekar, dalam perayaan Hari Ulang Tahun ke-11 Sanggar Seni Kinanti Sekar dan Peresmian Sanggar Kinanti Minggir.

Sanggar Seni Kinanti Sekar berdiri 24 Juli 2015 di Kota Yogyakarta dan hingga kini menjadi wadah pembelajaran seni tari bagi berbagai kelompok usia, mulai anak-anak berusia empat tahun hingga kelas dewasa. Memasuki usia ke-11, sanggar memilih memperluas akses belajar budaya agar tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan.

Syukuran diawali dengan doa bersama yang dipimpin seniman Rendra Bagus Pamungkas, dilanjutkan pemotongan tumpeng dan makan bersama perangkat desa serta masyarakat sekitar. Suasana sederhana namun akrab tersebut menjadi cerminan semangat kebersamaan yang selama ini dijaga oleh sanggar.

Dukungan masyarakat

Nur Alfiah menjelaskan tema Guyub lan Sesarengan dipilih sebagai refleksi perjalanan Sanggar Seni Kinanti Sekar selama sebelas tahun. Baginya, perkembangan kesenian tidak dapat dilepaskan dari dukungan masyarakat yang menjadi bagian penting dalam perjalanan sanggar.

"Bagi kami, kesenian tidak bisa berdiri sendiri di atas panggung menara gading. Sanggar ini hadir dari masyarakat dan harus kembali memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Guyub lan Sesarengan adalah bensin kami untuk bergerak maju bersama warga sekitar agar sama-sama berdaya secara sosial, budaya, hingga ekonomi," katanya.

Semangat tersebut berlanjut pada malam hari ketika pelataran sanggar berubah menjadi panggung rakyat mulai pukul 19:00. Ratusan warga memadati lokasi untuk menyaksikan penampilan para siswa dan seniman yang terlibat dalam perayaan tersebut.

Beragam pertunjukan disuguhkan, mulai dari penampilan musik Kebun Kecil, pentas tari siswa Sanggar Kinanti Minggir, Royal Ambarrukmo dan sanggar pusat, pertunjukan tari Widi Pramono hingga performance pantomim Mafiqo Latieff Raffa Ilham.

Puncak acara ditutup penampilan kelompok Sedhut Senut yang membawakan sandiwara berbahasa Jawa dengan balutan humor khas Jogja dan kritik sosial yang mengundang tawa penonton. Malam itu, panggung bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga tempat bertemunya seniman, pengelola sanggar, dan masyarakat dalam suasana penuh keakraban.

Dari sudut barat Sleman, Sanggar Seni Kinanti Sekar menunjukkan, menjaga tradisi bukan semata merawat warisan masa lalu, melainkan terbuka ruang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama melalui seni, budaya dan semangat kebersamaan. (*)