Sedhut Senut Tampil di Sanggar Kinanti Minggir, Penonton Terpingkal-pingkal

Pementasan di Sanggar Kinanti Minggir juga menjadi pengalaman baru.

Sedhut Senut Tampil di Sanggar Kinanti Minggir, Penonton Terpingkal-pingkal
Kelompok teater bahasa Jawa Sedhut Senut berfoto bersama seusai tampil dalam perayaan HUT Ke-11 SSKS sekaligus peresmian Sanggar Kinanti Minggir Sleman. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Gelak tawa ratusan warga memenuhi Sanggar Kinanti Minggir di Jetis Depok, Sendangsari Kapanewon Minggir Sleman, Sabtu (25/7/2026) malam. Penampilan kelompok sandiwara berbahasa Jawa Sedhut Senut bukan sekadar menjadi sajian penutup perayaan hari jadi ke-11 Sanggar Seni Kinanti Sekar (SSKS), tetapi juga menandai lahirnya Sanggar Kinanti Minggir, ruang kreatif baru yang diharapkan mampu menumbuhkan ekosistem seni dan budaya di wilayah barat Sleman.

Menurut Elyandra Widharta, seniman kelompok Sedhut Senut, kelompoknya membawakan lakon Singget, memang bukan pertunjukan baru. Karena telah beberapa kali dipentaskan, persiapan kali ini lebih difokuskan pada penyesuaian ruang pertunjukan dan membangun kedekatan dengan penonton.

Lakon Singget mengangkat fragmen sejarah pasca-Perjanjian Giyanti. Kisah sejarah yang sarat konflik itu dikemas melalui konsep sandiwara di atas panggung, dipadukan dengan humor segar dan kritik sosial khas Yogyakarta sehingga terasa ringan namun tetap sarat makna.

"Tentang tokoh yang memiliki spirit tradisi, seni pertunjukan tradisi hari ini sebenarnya bisa dikembangkan atau dimasukkan ke dalam model pertunjukan apa pun," ujarnya, Senin (27/7/2026).

Pertunjukan berlangsung di dalam studio latihan yang disulap menyerupai panggung pertunjukan lengkap dengan tonil. Layar latar khas panggung sandiwara serta jarak yang sangat dekat dengan penonton membuat para pemain leluasa membangun interaksi, membuat suasana yang akrab sepanjang pementasan.

Sebelum Sedhut Senut tampil, panggung diisi berbagai penampilan mulai dari musik Kebun Kecil, pertunjukan siswa Sanggar Kinanti dari Minggir, Royal Ambarrukmo dan Pusat, tari persembahan Widi Pramono hingga pantomim Mafiqo Latieff Raffa Ilham.

Antusiasme warga menjadi warna tersendiri sepanjang malam. Studio dipenuhi masyarakat yang datang bersama keluarga untuk menikmati pertunjukan hingga selesai.

"Sambutan dan antusiasme penonton di Minggir sangat luar biasa dan hangat. Kalau pas adegan lucu, mereka tertawa terpingkal-pingkal (kemekelen). Tapi saat kami bercerita mengikuti alur, mereka menyimak dengan sangat serius. Penonton di sini sangat apresiatif, mulai dari warga sekitar hingga lingkaran keluarga besar Sanggar Sekar, baik murid maupun orang tua murid," kata Elyandra.

Pengalaman baru

Bagi Sedhut Senut, pementasan di Sanggar Kinanti Minggir juga menjadi pengalaman baru. Meski kerap tampil di wilayah Minggir, mereka baru pertama kali mementaskan karya di tempat baru SSKS tersebut.

Momen itu sekaligus menjadi ajang bernostalgia. Elyandra mengenang hubungan Sedhut Senut dengan pendiri Sanggar Kinanti Sekar telah terjalin sejak sekitar 2014–2015.

"Hubungan ini dimulai karena dulu Mbak Sekar pernah ikut membantu pentas Sedhut Senut, bahkan ikut keliling di beberapa titik. Waktu itu Mbak Sekar belum mendirikan sanggarnya dan ikut belajar bersama di kolektif Sego Gurih lewat lakon PURIK," ungkapnya.

Kedekatan tersebut sejalan dengan tema HUT ke-11 SSKS, Guyub lan Sesarengan, yang mengusung semangat kebersamaan dan saling mendukung.

Manager SSKS, Nur Alfiah, menambahkan sanggar tidak hanya menjadi ruang berkesenian, tetapi juga diharapkan memberi dampak sosial, budaya, hingga ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Melalui penampilan Sedhut Senut yang memadukan humor, sejarah dan refleksi, semangat itu terasa hidup di tengah warga. Peresmian Sanggar Kinanti Minggir pun menjadi penanda hadirnya ruang kreatif baru yang diharapkan terus menghidupi kesenian bersama masyarakat pedesaan di Sleman. (*)