Upakarya Semarang 2025 Hidupkan Lagi Jalur Gula dan Relasi Sejarah Semarang-Yogyakarta
Di Semarang, barikade acara bisa diangkat emak-emak. Di Jogja, masyarakatnya tertib luar biasa. Ini yang ingin kami pelajari.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Jalur gula Semarang-Yogyakarta yang menjadi penopang utama ekspor komoditas manis ke Eropa pada awal abad ke-20 dihidupkan kembali dalam bentuk pameran budaya bertajuk Upakarya Semarang 2025.
Digelar di Rumah Semarang, Teman Lama, Kotabaru Yogyakarta, pameran ini mengangkat kembali koneksi ekonomi dan sejarah yang terjalin erat antara dua kota tersebut melalui rel kereta api yang dibangun pada 1905.
Jalur baru Semarang-Yogyakarta yang melewati Magelang mempersingkat waktu tempuh pengangkutan gula dari Yogyakarta ke Pelabuhan Semarang dari satu bulan menjadi delapan jam. Kondisi ini memacu geliat ekonomi, khususnya perdagangan gula yang diproduksi setidaknya oleh 19 pabrik di wilayah Yogyakarta.
“Gula waktu itu setara emas. Dulu diangkut dengan kereta sapi, berisiko tinggi. Setelah ada rel kereta, semuanya berubah. Inilah kekuatan sejarah yang ingin kami angkat kembali,” ujar R Wing Wiyarso Poespojoedho, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, saat pembukaan pameran, Selasa (5/7/2025), di Teman Lama Kotabaru.
Perusahaan besar
Gula-gula dari Yogyakarta pada masa lalu diekspor lewat Semarang melalui perusahaan-perusahaan besar seperti Oei Tiong Ham Concern (OTHC), milik taipan yang dijuluki Raja Gula Asia. Hubungan ekonomi inilah yang menjadi pengikat antara kota pelabuhan dan kota budaya ini.
Upakarya Semarang menjadi ruang pembacaan ulang atas relasi historis itu. Kartu pos, surat dan arsip tempo dulu menjadi penanda bagaimana dua kota saling terhubung, bukan hanya oleh rel dan gula, tapi juga oleh warisan budaya dan nilai toleransi.
Wing menambahkan, pameran ini juga menjadi momen pembelajaran lintas kota. Dia mengapresiasi Yogyakarta sebagai kota yang berhasil menjaga ketertiban warganya dalam setiap gelaran budaya.
“Di Semarang, barikade acara bisa diangkat emak-emak. Di Jogja, masyarakatnya tertib luar biasa. Ini yang ingin kami pelajari,” ujarnya berseloroh.
Jaringan kota
Upakarya Semarang 2025 menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia ke-11. Tak hanya memori gula dan kereta, pameran ini juga menyinggung keterkaitan Semarang dengan kota lain seperti Palembang melalui sejarah jalur rempah dan ekspedisi Laksamana Cheng Ho.
“Semarang menjadi simpul penting perdagangan internasional sejak dulu. Kami ingin generasi muda tahu dan bangga akan sejarah kotanya,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan pameran di kawasan cagar budaya Kotabaru, yang dulunya merupakan kawasan tempat tinggal pejabat pabrik gula.
“Kolaborasi dua kota ini bukan hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali warisan budaya agar berdampak bagi masyarakat saat ini,” ujarnya.
Menurut Yetti, keberlanjutan pelestarian kawasan bersejarah seperti Kotabaru terbukti mampu memberi ruang hidup baru bagi masyarakat melalui kafe, klinik kecantikan hingga ruang kreatif yang memanfaatkan bangunan-bangunan lama. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
