UAD Bantu Mahasiswa Terdampak Banjir Sumatera

Saat ini ada 150 mahasiswa UAD asal Sumatera yang terdampak.

UAD Bantu Mahasiswa Terdampak Banjir Sumatera
Pemberian bantuan mahasiswa UAD terdampak bencana Sumatera dan Aceh di Museum Muhammadiyah, Senin (22/12/2025). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera tidak hanya merenggut rumah dan harta benda masyarakat, tetapi juga menguji keteguhan mental dan daya juang para mahasiswa yang berasal dari daerah terdampak.

Di tengah kehilangan dan ketidakpastian, suara syukur dan komitmen untuk bangkit justru mengemuka, mengiringi langkah-langkah solidaritas yang hadir dari kampus dan jejaring kemanusiaan Muhammadiyah.

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) berinisiatif memberikan bantuan pada mahasiswanya yang terdampak banjir Sumatera. Saat ini ada 150 mahasiswa UAD asal Sumatera yang terdampak. Kampus menegaskan tanggung jawabnya terhadap keberlangsungan kesejahteraan dan perlindungan mahasiswa terdampak, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan mendesak.

"Sebagai langkah awal, bantuan dana dialokasikan, sebagian digunakan untuk kebutuhan internal mahasiswa terdampak, sementara sisanya disalurkan langsung ke wilayah bencana," ujar Prof Muchlas, Rektor UAD, saat pemberian bantuan di Museum Muhammadiyah, Senin (22/12/2025).

Bergabung relawan

Selain bantuan material, kampus juga mengirimkan tujuh mahasiswa alumni yang memiliki kompetensi di bidang psikososial. Mereka bergabung dengan tim relawan yang lebih besar, terdiri dari tenaga medis, paramedis, dan relawan psikososial lainnya, untuk memberikan pendampingan langsung kepada masyarakat.

Seluruh penyaluran bantuan dikonsolidasikan melalui Muhammadiyah National Disaster Management Center (MDMC). Setiap bantuan yang dihimpun dipastikan disalurkan melalui jalur resmi tersebut agar penanganan bencana berjalan terkoordinasi dan berkelanjutan.

"Perwakilan pimpinan menyatakan kesiapan untuk turun langsung ke lokasi terdampak guna memastikan bantuan sampai kepada yang membutuhkan. Bantuan yang diberikan, meski diakui tidak seberapa, dipandang sebagai wujud nyata perhatian dan keberdayaan bersama," jelasnya.

Komitmen bantuan juga tidak berhenti pada satu tahap. Pada semester berikutnya, evaluasi akan dilakukan untuk melihat mahasiswa yang masih sangat membutuhkan dukungan finansial, termasuk bantuan biaya hidup dan makan harian di kantin kampus yang masih diperlukan untuk beberapa waktu ke depan.

Dampak sosial

Lazismu siap turun langsung ke lapangan, memastikan distribusi bantuan berjalan tanpa hambatan. Kampus menegaskan meskipun dampak sosial, psikologis dan material tidak bisa dihindari, proses akademik mahasiswa tidak boleh terhenti.

"Dukungan akan diberikan agar para mahasiswa tetap dapat belajar dengan baik dan menyelesaikan pendidikannya," ungkapnya.

Bintang Zahara Surbati, mahasiswa Fakultas Hukum asal Sumatera Utara, mengungkapkan keluarganya selamat dari bencana. Namun, banjir meninggalkan dampak mendalam pada kehidupan ekonomi keluarga karena sawah dan kebun yang selama ini menjadi sumber utama mata pencaharian orang tuanya hilang terendam banjir.

"Semua sumber mata pencaharian orang tua, seperti sawah dan kebun. Hilang semua, kelelep banjir," ungkapnya.

Dampak ekonomi

Selama hampir satu pekan, mereka fokus memulihkan diri dan mengungsi di rumah saudara yang tidak terdampak. Komunikasi masih bisa dilakukan meski dalam situasi darurat.

Dampak ekonomi langsung dirasakan Bintang sebagai mahasiswa perantau. Dia mengaku kini tidak bisa menerima kiriman uang dari orang tua. Dia bersyukur mendapatkan bantuan dari pihak kampus.

“Dua hari setelah banjir itu merendah. Untuk listrik pemadamannya nggak terlalu lumpuh total, ada beberapa titik yang masih bisa untuk mengabari. Ini kan berat, nggak dapat uang dari orang tua," ucapnya. (*)