Sabtu, 27 Nov 2021,


tentu-tidak-senyaman-tatap-mukaKegiatan belajar jarak jauh siswa SD Tanggulangin, Kecamatan Klirong Kebumen, belajar berkelompok. (istimewa)


Nanang WH
Tentu Tidak Senyaman Tatap Muka

SHARE

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN--Selasa (18/8/2020) siang, belasan siswa kelas satu dari SD Bendogarap Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, nampak tekun belajar. Ditemani Mustini, seorang guru muda, mereka memanfaatkan ruang tamu berukuran 2,5 x 3 meter di rumah salah satu orang tua murid.


Saat koranbernas.id mendatangi tempat mereka belajar bersama, terlihat sebagian besar anak tidak mengenakan masker. Setelah ditanyakan, barulah beberapa anak mengambil masker dari dalam tas dan memakainya. Sedangkan sejumlah anak yang lain, mengaku tidak punya masker dan sisanya beralasan ketinggalan di rumah.

  • PKL Meninggal Karena Covid-19, Ruas Jalan Malioboro Ditutup
  • Warga Wonosari Meninggal Positif Covid-19

  • Di ruang tamu yang terbatas itulah, mereka belajar membaca dan menulis. Mustini, musti bergantian membimbing siswa-siswinya. Ketika ada yang kesulitan, maka Mustini bergegas mendekati siswa bersangkutan. Namun tidak mudah baginya, saat sejumlah siswa sekaligus bertanya dan minta bimbingan.

    Pemandangan yang biasa, ketika Mustini baru membimbing satu atau dua anak, siswa lain yang juga kesulitan dengan pelajaran dan merasa bosan, lalu memilih bermain. Sebagian bermain sembari menunggu di ruang tamu, tapi ada pula yang bermain keluar rumah.

  • Pemakaman Korban Covid Bisa Ditangani FPRB
  • Ekonomi DIY Mulai Menggeliat di Masa Pandemi

  • Bahkan, ketika waktu beranjak siang, sejumlah siswa pun meminta jam istirahat. Rupanya, sekalipun sudah lama tidak bersekolah, mereka masih ingat dengan jam istirahat yang biasanya tepat pukul 09.00 WIB.

    “Ya seperti ini pak. Tentu berbeda dengan di kelas atau di sekolah. Semua serba terbatas,” kata Mustini.

    Karena serba terbatas inilah, Mustini mengaku memang tidak bisa maksimal menjalankan proses belajar mengajar di rumah. Sendirian, Mustini harus membimbing belasan siswa dalam suasana tidak formal, sehingga siswa lebih sulit untuk berkonsentrasi dan fokus.

    Akibatnya, Mustini juga mengaku seringkali lupa untuk mengingatkan agar murid-muridnya memperhatikan protokol kesehatan. Seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker dan menjaga jarak atau tidak berkerumun.

    Gambaran yang sama, juga terlihat di berbagai kelompok belajar dari sejumlah SD yang menerapkan sistem Belajar Jarak Jauh (BJJ). Ruang atau tempat belajar yang terbatas, minim sarana dan peralatan seadanya, membuat guru kerepotan dan harus bekerja ekstra dan sibuk.

    Pelaksana Tugas Kepala SD Bendogarap Jairun S.Pd kepada koranbernas.id mengungkapkan, sekolahnya memang mengambil kebijakan proses belajar mengajar untuk siswa kelas 1, dilaksanakan di rumah wali atau orang tua siswa. Guru berkewajiban untuk mendatangi dan memberikan bimbingan.

    Sedangkan BJJ untuk siswa kelas II hingga kelas IV dilaksanakan dengan cara berbeda. Yakni dengan memanfaatkan aplikasi WhatsApp. Guru memberikan materi belajar dan tugas untuk dikerjakan siswa di rumah masing-masing. Tugas yang sudah dikerjakan, langsung dikirimkan ke guru tanpa melalui grup WA.

    “Ini untuk menghindari siswa menyelesaikan tugas dengan hanya mencopi paste tugas dari siswa yang lain. Siswa juga wajib absen, melalui whatsApp,” katanya.

    Pihak sekolah, kata Jairun, sebenarnya mengharuskan pembatasan jumlah siswa dalam setiap kelompok.

    “Belajar jarak jauh untuk kelas 1, setiap kelompok paling banyak 5 siswa. Tapi karena kondisi, ketentuan ini sering tidak bisa berjalan dengan baik,” kata Jairun yang didampingi guru senior Sri Partini (58).

    Kegiatan belajar jarak jauh siswa SD Tanggulangin, Kecamatan Klirong Kebumen, belajar berkelompok. (istimewa)

    Kepala SD Tanggulangin, Kecamatan Klirong Kebumen, Budiyanto mengatakan, pihaknya juga menerapkan pola pembelajaran dengan sistem kelompok. Kemudian guru, juga wajib mendatangi kelompok-kelompok belajar secara bergiliran, untuk memberikan bimbingan bagi siswa.

    Dia mengakui, model BJJ seperti ini cukup menguras energi guru kelas. Mata pelajaran yang tersampaikan, juga tidak bisa maksimal dan sebanyak pembelajaran tatap muka.

    Sekolah dengan jumlah siswa 209 orang ini, mengakui kesulitan untuk menerapkan BJJ dengan memanfaatkan teknologi informasi. Kendala utamanya, adalah kondisi orang tua siswa yang berbeda-beda. Ada yang cukup mampu dan menyediakan gadget untuk keperluan pembelajaran anaknya, namun tidak sedikit pula yang tidak mampu.

    “Orang tua juga mengeluh. Waktu yang seharusnya untuk bekerja, digunakan untuk mendampingi anaknya belajar. Sehingga sekolah mengambil kebijakan, BJJ berkelompok di rumah orang tua murid,” terangnya.

    Sekolah yag berada di pesisir selatan Kabupaten Kebumen, menurut Jairan dan Budiyanto, siap melaksanakan belajar tatap muka. Namun mereka menyadari, untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, ada syarat yang harus dipenuhi sekolah. Seperti harus ada izin bupati dan orang tua murid, serta harus terlebih dulu menyiapkan sarana dan prasarana untuk belajar tatap muka, dengan menerapkan protokol kesehatan di sekolah.

    “Jika belajar tatap muka dibolehkan, jam belajar dikurangi dan tidak ada jam istirahat,“kata Budiyanto.

    Dengan tidak ada jam istirahat, berarti tidak ada kesempatan siswa berkerumun. Konsep ini cukup ideal, sehingga protokol kesehatan dengan jaga jarak tetap terlaksana. Kemudian setiap siswa diberi 3 buah masker. Sedangkan di lingkungan sekolah, disiapkan imbauan-imbauan tertulis agar siswa mencuci tangan dengan sabun.

    Menanggapi fenomena ini, Pemerintah Kabupaten Kebumen segera memberi izin sekolah membuka pembalajaran tatap muka dengan syarat tertentu.

    Kepala Dinas Pendidikan Kebumen Amirudin SIP MM kepada koranbernas.id, Senin (24/8/2020) mengatakan, Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz telah menerima laporan kesulitan belajar jarak jauh, khususnya untuk siswa SD.

    “Hari ini Pak Bupati menandatangani surat tentang izin sekolah membuka pembelajaran tatap muka,“ kata Amirudin.

    Surat bupati segera disebarluaskan ke sekolah-sekolah. Sehingga sekolah yang memenuhi syarat untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, bisa mengajukan permohonan izin kepada Bupati Kebumen.

    Syarat yang harus dipenuhi sekolah, meliputi ada persetujuan kepala desa atau kepala kelurahan dan orang tua murid. Mereka juga harus menyediakan sarana cuci tangan dengan sabun, mengatur jarak dan jumlah tempat duduk siswa di dalam kelas sesuai protokol kesehatan, serta guru dan siswa mengenakan masker selama pembelajaran.

    Sebelum izin diberikan, aka nada tim yang melakukan verifikasi. Jika memenuhi syarat, izin baru diberikan.

    “Sudah 8 sekolah siap membuka belajar tatap muka. Tapi baru disampaikan lewat whatsApp,“ kata Amirudin.

    Sekolah harus mengajukan surat permohonan izin belajar tatap muka. Ada kemungkinan, setelah surat Bupati Kebumen sampai ke sekolah, lebih banyak sekolah yang siap untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. (nwh)

     

     



    SHARE



    '

    BERITA TERKAIT


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Tulis Komentar disini