atas1

Teknologi Ini Memungkinkan Kepadatan Ikan di Kolam Naik 15 Kali Lipat
Mahasiswa UNU Bangun Kolam Berteknologi Industri 4.0

Jumat, 08 Nov 2019 | 06:38:37 WIB, Dilihat 2351 Kali
Penulis : warjono
Redaktur

SHARE


Teknologi Ini Memungkinkan Kepadatan Ikan di Kolam Naik 15 Kali Lipat Kolam ikan di Ponpes Lintang Songo hasil kreasi bersama santri dan mahasiswa UNU Yogyakarta. (istimewa)

Baca Juga : Pemegang Kartu JKN-KIS Kelabakan Kepesertaannya Dinonaktifkan


KORANBERNAS.ID--Berbekal niat awal untuk meningkatkan perekonomian jamaah NU, Pondok Pesantren Lintang Songo bersama Mahasiswa UNU Yogyakarta berhasil membangun kolam ikan industrial menggunakan teknologi IoT (Internet of Things) dan AI (Artificial Intelligence).

“Sekarang teknologi pertanian kan semakin maju, jadi ya kita jangan sampai ketinggalan. Kita manfaatkan teknologi untuk kemaslahatan jamaah,”ungkap Kyai Heri.

Dengan hadirnya kolam ikan berteknologi tinggi ini, maka waktu panen, pertumbuhan bobot ikan harian, survival rate dan efisiensi pakan menjadi daging dapat dioptimalkan menggunakan smart online controller. Hal inilah yang diharapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Lintang Songo, Kyai Heri Kuswanto saat ditemui di Lintang Songo Garden baru-baru ini.

Koordinator pembangunan kolam, Fauzi Ahmad, dalam rilis yang dikirim ke koranbernas.id, menyatakan bahwa kolam yang dibangun bersama rekan-rekan mahasiswanya dan santri di Lintang Songo, mampu menampung ikan nila merah dengan kepadatan hingga 40 kg/m3. Sedangkan rata-rata kolam milik petani ikan konvensional hanya mampu menampung ikan dengan kepadatan maksimal 3 kg/m3.

“Kolam petani ikan konvensional biasanya hanya mampu menampung ikan dengan kepadatan 2-3 kg/m3. Tapi dengan teknologi lanjutan yang dikembangkan di Lintang Songo Garden ini, kolam mampu menampung ikan nila merah engan kepadatan hingga 40 kg/m3 dan dengan FCR (Feed Conversion Ratio –red.), ADG (Average Daily Gain –red.) dan SR (Survival Rate –red.) yang ekonomis,” ungkap Fauzi.

Diakui bahwa kolam tersebut merupakan hasil penelitian lanjutan dari desain kolam sebelumnya. Menurut Fauzi, desain kolam ikan sebelumnya yang dibangun menggunakan teknologi RAS (Recirculated Aquaculture System –red.) mampu mencapai kepadatan 23.7 kg/m3. “Ini adalah hasil penelitian lanjutan. Teknologi kolam pada penelitian sebelumnya hanya mampu mencapai kepadatan 23.7 kg/m3 menggunakan sistem RAS. Di Lintang Songo ini kami menggabungkan teknologi aquaculture RAS bersamaan dengan teknologi biofloc untuk meningkatkan biosekuriti, menekan tingkat kematian akibat racun amonia dan nitrit terlarut yang sekaligus memperkuat konsentrasi pakan alami, meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut (DO) untuk mendukung kehidupan ikan dan BOD (Biological Oxygen Demand – red.) pembentuk floc, menjaga kestabilan suhu dan pH air serta memperkuat mekanisme evakuasi gas pengotor terlarut melalui proses resirkulasi yang semuanya akan terkendali melalui prosesor kolam. Prosesor terhubung secara real-time selama 24-jam ke server yang didesain oleh kami (para mahasiswa) melalui jaringan insfrastruktur Industri 4.0”, ujar Fauzi.

Disinggung mengenai peluang pengembangan ke pesantren lain, Moh. Taqiyuddin selaku koordinator kelompok pengabdian Mahasiswa UNU Yogyakarta menyatakan, bahwa hal itu sangat mungkin untuk dilakukan.

“Teknologi ini memang sejak awal dirancang bersama Pondok Pesantren Lintang Songo untuk diwakafkan ke pondok pesantren lain, jamaah dan seluruh entitas NU. Karena itu, kami berusaha menyederhanakan desain kolam dan kontroler IoT nya sesimpel dan sepraktis mungkin, agar mudah diimplementasikan di lapangan,” ujar Taqi.

Namun demikian Taqi juga menjelaskan bahwa teknologi kolam tersebut belum akan disebarluaskan ke publik dalam jangka waktu dekat, sampai sertifikasi dari pemerintah benar-benar berhasil didapatkan. Menurutnya, untuk saat ini kolam tersebut hanya dapat dibangun di kalangan internal NU saja, baik melalui berbagai pesantren maupun entitas resmi NU lainnya.

”Hanya untuk kalangan sendiri dan opensource sepenuhnya di jamaah NU, begitu istilah kerennya,” ungkap Taqi tertawa.

Taqi mengakui bahwa masih terdapat jalan panjang yang harus ditempuh, agar teknologi ini benar-benar bisa sampai ke level publik, terutama berhubungan dengan dana penelitian dan sertifikasi produk. “Walau saat ini kami masih terbentur dengan banyak hal, taopi tetap mengembangkan teknologi lanjutan demi kemajuan NU. Kami selalu terbuka atas tawaran pengembangan agroteknologi berbasis Industri 4.0 dan kami siap bekerjasama dengan segala pihak untuk mendukung berkembangnya NU di Indonesia,”pungkasnya. (*/SM)



Kamis, 07 Nov 2019, 06:38:37 WIB Oleh : Nanang WH 7258 View
Pemegang Kartu JKN-KIS Kelabakan Kepesertaannya Dinonaktifkan
Kamis, 07 Nov 2019, 06:38:37 WIB Oleh : Masal Gurusinga 456 View
Kucing-kucingan Buang Sampah, Dilempar dari Atas Motor
Kamis, 07 Nov 2019, 06:38:37 WIB Oleh : Nila Jalasutra 399 View
Penghargaan Ini Hanya Diraih Pemkab Sleman

Tuliskan Komentar