Seniman Kelahiran Aceh Pameran di Ace House Yogyakarta

Hantu bisa apa saja. Tiang listrik, pohon, apa pun. Karena semua ketakutan itu sebenarnya ada di dalam kepala

Seniman Kelahiran Aceh Pameran di Ace House Yogyakarta
Rudy Atjeh Dharmawan dan Mujahidin Nurrahman di antara karya mereka dalam pameran Broken White Project #30 di Ace House Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Ruang pamer Ace House Yogyakarta diisi potongan-potongan kertas yang tampak lembut, justru memancarkan sesuatu yang jauh lebih berat berupa trauma, ketakutan dan kenangan pahit dari sebuah konflik yang pernah membelah hidup banyak orang.

Di antara karya itu berdiri Rudy Atjeh Dharmawan, seniman kelahiran Langsa, Aceh, yang akhirnya berani membuka salah satu luka lamanya yang selama dua dekade tak pernah diangkat menjadi karya.

Rudy, yang kini dikenal lewat teknik paper-cut nan teliti, membawa penonton pada sebuah perjalanan batin yang dimulai dari satu sore tahun 2000. Kala itu dia masih seorang pelajar SMA, hidup di tengah konflik bersenjata TNI dan GAM yang membuat setiap malam harus berjaga.

Di sore yang tampaknya biasa saja, dia turun ke parit kecil untuk mencari udang, makanan ikan lohan yang tengah digemari banyak orang, bahkan di wilayah konflik.

Titik genting

Namun sore itu berubah menjadi titik genting. Kontak senjata pecah tak jauh dari sana. Tak lama, satu peleton tentara masuk menyapu wilayah itu. Rudy dan temannya yang berjongkok di parit tiba-tiba menjadi sasaran todongan.

Satu prajurit datang, menempelkan moncong senjata ke wajahnya. Lalu pergi. Disusul prajurit lain. Dan berikutnya lagi. Semuanya menodong, menginterogasi, dan tak pernah menurunkan senjata dari kepala seorang remaja yang bahkan tak terlibat dalam gerakan apa pun.

“Kalau waktu itu aku salah jawab, mungkin aku selesai,” kenangnya lirih saat berbicara tentang karyanya, Jumat (5/12/2025), dalam pembukaan pameran Broken White Project #30 dengan tema Kertas: Monumen, Hantu, dan Luka di Ace House Yogyakarta.

Pengalaman mendekati kematian itu menumpuk bersama suara ledakan yang saban malam mengguncang kaca rumahnya. Hidup di Aceh pada masa itu berarti hidup berdampingan dengan rasa takut pada tentara, suara tembakan dan ketidakpastian.

Lahir gagasan

"Lebih menakutkan dari hantu-hantu yang dulu diceritakan orang tua untuk menahan anak pulang terlalu larut," ujarnya.

Dari ingatan itulah lahir gagasan karya Rudy dalam pameran BWP #30 Kertas: Monumen, Hantu, dan Luka. Dia menciptakan sosok-sosok abstrak dari rumbai-rumbai kertas, hantu-hantu yang tak berwujud itu.

“Hantu bisa apa saja. Tiang listrik, pohon, apa pun. Karena semua ketakutan itu sebenarnya ada di dalam kepala," katanya.

Pameran ini mempertemukan Rudy dengan perupa Mujahidin Nurrahman, yang sama-sama tekun menatah kertas tetapi bergerak dari medan makna berbeda.

Terasa kuat

Kuratorial pameran merujuk pada gagasan Peter L Berger dalam Pyramids of Sacrifice tentang monumen kekuasaan yang berdiri di atas timbunan korban manusia. Gema pemikiran itu terasa kuat dalam karya keduanya.

Mujahidin, dengan pola arabesque dan bentuk geometris monumental terinspirasi Spomenik, menyamarkan senjata perang dalam kecantikan bentuk. Monumen versinya indah secara struktur, namun kelam dalam makna.

Rudy justru mengungkap monumen batin, monumen trauma. Rumbai kertasnya menjadi ruang persembunyian ingatan kekerasan. Hantu-hantu itu tidak memiliki wajah, sebagaimana trauma sering tak punya bentuk, tetapi selalu ada.

Pameran ini kemudian menautkan ingatan personal dua perupa itu dengan sejarah politik Indonesia.

Bertanya ulang

Dalam kerangka itu, monumen bukan hanya bangunan, ia adalah ingatan, bayangan, dan hantu. Dan hantu-hantu itulah yang bagi sebagian orang masih menghantui sampai hari ini.

Pada akhirnya, BWP #30 tidak sekadar memamerkan keterampilan teknis dua seniman. Ia membuka ruang untuk bertanya ulang: bagaimana kekuasaan dibangun? Bagaimana kekerasan dikenang atau justru dihapus? Dan bagaimana luka bertahan dalam tubuh sosial kita?

Lewat kertas, Rudy Atjeh Dharmawan dan Mujahidin Nurrahman mengajak penonton meninggalkan rasa kagum semata pada detail, lalu masuk lebih dalam ke wilayah yang penuh gema ketakutan, serpihan ingatan dan pertanyaan yang tak pernah benar-benar selesai.

Sebab ada hantu-hantu yang tak bisa diusir. Ada monumen yang tak bisa dihindari. Dan ada luka yang masih berdenyut dalam ingatan kolektif bangsa ini. (*)