Program Doktor Pariwisata Stipram Dibanjiri Peminat

Bahkan untuk tahun akademik 2025-2026 sudah ada 22 pendaftar.

Program Doktor Pariwisata Stipram Dibanjiri Peminat
Program pascasarjana STIPRAM menggelar seminar Eco Friendly Art and Cultural Heritage as A Tourism Attraction. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) mencatatkan prestasi gemilang dalam pengembangan pendidikan tinggi pariwisata di Indonesia. Sebagai salah satu dari hanya empat perguruan tinggi penyelenggara Program Doktor Pariwisata di tanah air, STIPRAM dibanjiri peminat bahkan mengalami lonjakan yang signifikan.

"Animo untuk Program Doktor Pariwisata sangat besar. Pada angkatan pertama tahun 2022 saja, dari 34 pendaftar, kami hanya bisa menerima 16 mahasiswa," ungkap Dr Tonny Hendratono, Direktur Pascasarjana STIPRAM, saat ditemui di sela Seminar Eco Friendly Art and Cultural Heritage as A Tourism Attraction, Sabtu (5/10/2024), di kampus setempat.

Tingginya minat ini berlanjut pada angkatan-angkatan berikutnya. Angkatan kedua menyerap 17 mahasiswa, sementara angkatan ketiga yang dimulai tahun 2024 telah menerima 22 mahasiswa.  "Bahkan untuk tahun akademik 2025-2026, sudah ada 22 pendaftar, dan dua orang sudah mendaftar untuk tahun 2026," tambahnya.

Program doktoral STIPRAM menarik minat dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi perguruan tinggi negeri dan swasta hingga para praktisi yang ingin berkontribusi dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Selain program doktoral, STIPRAM juga menjalankan program Magister Pariwisata yang kini memasuki angkatan ke-11 dengan 26 mahasiswa.

Tiga keunggulan

Dalam kesempatan yang sama, Tonny memaparkan tiga keunggulan utama pariwisata Indonesia yang menjanjikan prospeks cerah bagi lulusan. Pertama, Indonesia memiliki portofolio produk pariwisata yang beragam, dengan 60 persen berbasis budaya, 35 persen kekayaan alam, dan 5 persen  produk pariwisata lainnya.

Kedua, daya saing pariwisata Indonesia meningkat signifikan dari peringkat 32 dunia pada tahun 2020 menjadi peringkat 22 pada tahun 2024. Ketiga, keramahtamahan masyarakat Indonesia menjadi modal tak ternilai yang memberikan pengalaman unik bagi wisatawan mancanegara.

"Pariwisata kita tidak hanya mengandalkan high-tech tapi juga high-touch. Keramahtamahan ini tidak memerlukan investasi besar, namun dampaknya luar biasa," jelasnya.

STIPRAM menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix dalam pengembangan pariwisata, yang melibatkan pemerintah, akademisi, bisnis, masyarakat, dan media. Sebagai sektor multidisiplin, pariwisata membutuhkan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan untuk berkembang optimal.

Berjalan sendiri

"Pariwisata adalah sektor yang tidak bisa berjalan sendiri. Sebagai invisible export yang berkelanjutan, tidak seperti sektor ekstraktif yang akan habis, pariwisata membutuhkan koordinasi yang kuat antar semua pihak," tegas Tonny.

Meski demikian, masih ada tantangan yang perlu diatasi, terutama dalam hal koordinasi antar institusi pemerintah. STIPRAM mendorong perlunya peningkatan status kementerian pariwisata untuk memaksimalkan potensi sektor ini sebagai ujung tombak pembangunan ekonomi Indonesia.

Dengan pemerintahan baru, STIPRAM berharap akan tercipta koordinasi yang lebih baik antar institusi dan pelibatan masyarakat yang lebih intensif dalam pengembangan pariwisata nasional.

Program-program pendidikan tinggi yang dijalankan STIPRAM diharapkan dapat berkontribusi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten untuk mewujudkan potensi pariwisata Indonesia. (*)