Platform Digital Global Pengaruhi Trafik Media Lokal

Bukan karena persaingan antarmedia melainkan sistem kecerdasan buatan.

Platform Digital Global Pengaruhi Trafik Media Lokal
Webinar Diskusi Komunikasi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) edisi ke-29 yang digelar secara daring. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Dominasi platform digital global dinilai mengubah ekosistem komunikasi di Indonesia secara masif. Algoritma milik perusahaan teknologi seperti Meta, Google dan TikTok kini tidak hanya mengatur arus informasi, tetapi juga mempengaruhi operasional media, industri periklanan hingga ruang publik nasional.

Hal itu mengemuka dalam Diskusi Komunikasi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (Diskoma UGM) edisi ke-29 bertajuk Kuasa Platform di Era Digital: Ketika Algoritma Mengatur Komunikasi yang digelar secara daring, Jumat (22/5/2026).

Pada diskusi tersebut dibahas riset disertasi praktisi periklanan Janoe Arijanto terkait pergeseran fungsi dan otonomi entitas komunikasi di Indonesia.

Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi UGM, Dr Wisnu Martha Adiputra SIP M Si, Jumat (29/5/2026), mengatakan algoritma platform digital justru memperkuat polarisasi informasi di tengah masyarakat. “Algoritma ini bukannya membuat kita lebih tercerahkan, tetapi malah membuat konflik menjadi hitam putih. Kehadiran banyak kanal informasi juga tidak otomatis meningkatkan kualitas informasi,” ujar Wisnu.

Kehilangan trafik

Dalam diskusi itu disampaikan data DataReportal dan Reuters Institute 2024 yang menunjukkan Indonesia memiliki 221 juta pengguna internet aktif dan 139 juta pengguna sosial media. Sebanyak 60,4 persen konsumsi berita kini berlangsung melalui platform digital.

Janoe Arijanto menjelaskan kondisi tersebut memunculkan fenomena platformized newsroom. Media lokal, kata dia, kini kehilangan trafik bukan semata karena persaingan antarmedia, melainkan akibat sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) platform yang langsung menampilkan ringkasan berita sehingga audiens tidak lagi mengunjungi situs asli.

Menurut Janoe, nilai berita juga mulai bergeser dari kualitas isi menjadi tingkat visibilitas dan keramaian di platform digital.

Sementara itu, Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM, Pratiwi Utami Ph D menilai fenomena “ekonomi atensi” menjadi akar persoalan dalam ekosistem digital saat ini. Platform, menurutnya, cenderung mendorong konten yang memicu emosi dan konflik karena lebih menguntungkan secara ekonomi.

Profesi tersendiri

Pratiwi menyampaikan fenomena buzzer di Indonesia dinilai memperparah polarisasi politik. Berbeda dengan negara Asia Tenggara lain yang umumnya digerakkan humas pemerintah, buzzer di Indonesia berkembang menjadi profesi tersendiri.

“Kita butuh regulasi yang tidak sekadar berfokus pada takedown konten, tetapi juga menuntut akuntabilitas langsung dari platform,” tegasnya.

Dampak dominasi platform digital juga dirasakan industri kreatif dan agensi periklanan. Founder sekaligus Creative Lead SH Creative, Siska Handiska, mengatakan algoritma kini sangat menentukan keberhasilan sebuah konten kreatif.

Menurutnya, kondisi itu memunculkan berbagai peran baru di industri kreatif, seperti content strategist, scriptwriter hingga video editor.

Punya karakter

Meski demikian, Siska mengingatkan pentingnya menjaga identitas jenama di tengah tekanan performa platform digital. “Kita tidak bisa lepas dari platform, tetapi juga harus punya kontrol. Kita harus mengikuti tren, tetapi tetap punya karakter,” ujarnya.

Webinar yang diikuti 76 peserta tersebut menyimpulkan perlunya penguatan literasi komunikasi publik, diversifikasi saluran komunikasi, serta pembangunan first-party data agar kedaulatan komunikasi nasional tidak sepenuhnya bergantung pada kepentingan platform global. (*)