perangkat-desa-dibekali-cara-cegah-konflikPeserta seminar Kewaspadaan Deteksi Dini terhadap Potensi Konflik, Rabu (27/11/2019). (sari wijaya/koranbernas.id)


redaktur

Perangkat Desa Dibekali Cara Cegah Konflik

SHARE

KORANBERNAS.ID -- Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (KesbangPol) Kabupaten Bantul menyelenggarakan seminar Kewaspadaan Deteksi Dini Terhadap Potensi Konflik, Rabu (27/11/2019),  di Gedung Dakwah Muhammadiyah Bantul.

Seminar yang dibuka Kasubag TU Etyk Suryani SH  ini dihadiri narasumber Kasat Intel Polres Bantul AKP Rahmat Yulianto serta wartawan KoranBernas, Sari Wijaya.


Baca Lainnya :

“Saya berharap semua peserta bisa menyerap apa yang disampaikan oleh narasumber sehingga bermanfaat bagi diri sendiri maupun wilayah masing-masing, secara lebih luas bermanfaat bagi masyarakat,” kata Etyk.

Secara terpisah, Kepala KesbangPol Bantul, Drs Fatoni, mengatakan semua pihak termasuk perangkat atau aparatur pemerintah desa bisa bersama-sama melakukan deteksi dini terhadap berbagai potensi ancaman yang bisa menimbulkan keresahan, di antanya konflik sosial yang berpotensi muncul di tengah masyarakat.


Baca Lainnya :

Informasi atau kabar yang belum pasti kebenarannya apabila menyebar maka menciptakan keresahan.

“Perlu kiranya kita semua berperan aktif di lingkungan kita masing-masing, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya,” katanya.

AKP Rahmat Yulianto dalam paparannya mengatakan cara mencegah konflik di antaranya dengan memelihara kondisi damai di tengah  masyarakat.

Kemudian, mengembangkan sistem penyelesaian perselisihan secara damai, meredam potensi konflik serta membangun sistem peringatan dini.

“Ketika muncul sebuah konflik segera diselesaikan jangan berlama-lama. Ibarat bola liar, informasi atau konflik tersebut akan meluas. Tidak jarang,  konflik terpicu karena beredarnya kabar bohong atau hoax,” katanya.

Masyarakat perlu membangun  peringatan dini dan juga kontrol sosial yang kuat.  Kontrol itu bersifat formal oleh aparatur terkait termasuk aparatur desa maupun kontrol secara  informal.

Tokoh masyarakat ataupun figur yang berpengaruh hendaknya dilibatkan ikut menangani konflik yang muncul.

“Mari kita tingkatkan guyub rukun, budayakan musyawarah mufakat, bijak menggunakan sosmed, kendalikan diri dan perkuat kontrol sosial,” katanya.

Narasumber seminar (istimewa)

Sari Wijaya dalam  uraiannya mengatakan di era digital saat ini serangan atau ancaman kepada masyarakat bukan sekadar fisik atau bersenjata.

Serangan lebih dominan terjadi di dunia cyber serta, sosial media termasuk maraknya berita bohong (hoax) yang ditujukan untuk kepentingan tertentu.

“Salah satu indikasi berita tersebut hoax ketika tidak jelas sumber beritanya dan menimbulkan keresahan, fanastime berlebih kepada kelompok sendiri ataupun timbul kebencian kepada kelompok atau sosok tertentu,” katanya.

Hoax bisa juga sumber dari berita yang jelas namun kemudian  dipelintir atau diedit untuk kepentingan tertentu.

“Ketika kita menerima informasi yang sekiranya ragu-ragu kebenarannya, silakan cari berita pembanding. Kita jangan bosan-bosan mencari referensi atau membaca dari sumber lain, sehingga informasi yang didapat akan berimbang, tidak hanya sepihak,” katanya.

Selain  itu tanyakan atau kros cek informasi tersebut kepada sumber yang bisa dipercaya, termasuk kepada institusi yang berwenang.

“Jangan kita ikut menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Jika kita asal share, nanti di-share lagi maka info itu menyebar bak bola liar,” katanya.

Sari mengatakan cara lain mendeteksi apakah berita itu hoax atau bukan, dengan memperhatikan  rumus pemberitaan 5 W dan 1 H yakni what, where, who, why, when dan how.

“Saya juga sarankan, bacalah dan carilah informasi dari portal berita atau lembaga yang kredibel dan produk beritanya bisa dipertanggungjawabkan,” katanya. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini