Perajin Batik Kayu Desa Wisata Krebet Sering Malu Saat Ditanya Wisatawan
Produk-produk Desa Wisata Krebet terutama batik kayu diekspor ke berbagai negara.
KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Desa Wisata Krebet di Bantul terus memperkuat kualitas dan kapasitas para perajinnya agar siap bersaing di pasar internasional. Ketua Desa Wisata Krebet, Agus Jati Kumara, menjelaskan pihaknya fokus pada pengembangan pelayanan pribadi dan kemampuan komunikasi para perajin, khususnya menjelaskan produk batik kayu yang menjadi ciri khas desa tersebut.
"Kami berharap teman-teman perajin mendapatkan pemahaman lebih baik tentang pelayanan dan mampu menjelaskan produk batik kayu kepada para pengunjung," ujar Agus.
Menurut dia, kemampuan bahasa dan hospitality menjadi aspek penting yang terus diasah. Para perajin, yang sebelumnya hanya bekerja di rumah atau sanggar, kini didorong untuk lebih percaya diri berinteraksi dengan wisatawan.
Desa Wisata Krebet saat ini memiliki 58 sanggar yang terdaftar di koperasi, dengan 30 di antaranya aktif terlibat dalam program pembinaan.
Pertanyaan wisatawan
"Selain fokus pada kualitas produk, kami juga mengedukasi perajin untuk bisa menjawab pertanyaan wisatawan terkait proses pembuatan batik kayu dari awal hingga akhir," tambahnya.
Salah satu tantangan yang dihadapi para perajin sering malu dan kurang percaya diri saat berinteraksi dengan tamu. Agus mengakui edukasi dan pelatihan dilakukan secara bertahap agar para perajin semakin terbiasa menceritakan karya mereka.
Agus menambahkan produk-produk Desa Wisata Krebet terutama batik kayu sudah banyak diekspor ke berbagai negara. Namun, sebagian besar pengiriman masih melalui eksporter.
"Produk ekspor kami cukup banyak, tetapi yang dilakukan langsung oleh desa masih sedikit. Mungkin perbandingannya sekitar 75 persen lewat eksporter dan 25 persen langsung," jelasnya.
Patung dan topeng
Produk yang paling diminati oleh pembeli luar negeri adalah barang-barang fungsional seperti nampan serta hiasan seperti patung dan topeng.
Dalam upaya meningkatkan kapasitas perajin, Desa Wisata Krebet juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk akademisi dan sektor swasta. Saat ini, desa tersebut menjadi binaan Astra, dengan program pengembangan yang diproyeksikan akan berjalan tahun depan.
Agus berharap kolaborasi ini dapat memperkuat desa dalam memberikan pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan dan memperluas jangkauan pasar produk-produk kerajinan Krebet di masa mendatang.
"Kami ingin desa ini semakin dikenal, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri. Batik kayu Krebet memiliki potensi besar untuk menjadi ikon kerajinan Yogyakarta di pasar internasional," ungkapnya.
Batik kayu
Desa Wisata Krebet dikenal dengan kerajinan batik kayunya yang unik, di mana motif batik diaplikasikan pada media kayu. Produk ini menjadi daya tarik utama wisatawan yang datang ke desa tersebut, baik untuk belajar proses pembuatan maupun membeli produk secara langsung.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah pelatihan peningkatan kapasitas masyarakat setempat yang digelar Sabtu (21/9/2024) hingga Minggu (22/9/2024), dengan narasumber Dr Kiromim Baroroh M Pd, anggota Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Tujuan pelatihan untuk mengoptimalkan potensi desa wisata Krebet agar lebih kompetitif menghadapi persaingan pariwisata.
Kiromim Baroroh menjelaskan pentingnya peningkatan sumber daya manusia di bidang pariwisata melalui pelatihan-pelatihan yang fokus pada pelayanan, manajemen wisata, dan pengelolaan produk kreatif yang berbasis kearifan lokal.
Berkembang pesat
“Kita perlu membangun sinergi antara masyarakat lokal dan pemangku kebijakan agar desa wisata ini tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang pesat. Pelatihan semacam ini penting untuk meningkatkan keterampilan warga dalam mengelola desa wisata secara profesional,” ujarnya dalam sesi pelatihan.
Dia menambahkan pelatihan menekankan pada aspek digitalisasi dan promosi berbasis sosial media untuk memperluas jangkauan pasar. Masyarakat dilatih bagaimana memanfaatkan teknologi dalam mempromosikan produk lokal, seperti batik kayu, melalui platform digital guna menarik wisatawan domestik maupun internasional.
Selain pelatihan, UNY juga memberikan pendampingan jangka panjang bagi warga Krebet dalam hal manajemen destinasi dan pengembangan produk kreatif. Program ini diharapkan dapat membantu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke desa tersebut serta menggerakkan perekonomian lokal.
M Adam Jerusalem ST SH MT Ph D selaku Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNY menjelaskan pemilihan Desa Krebet didasarkan pada potensi wisata dan budaya yang kuat.
Terbesar kedua
“Yogyakarta merupakan destinasi wisata terbesar kedua di Indonesia setelah Bali, dan identik dengan batik. Kami ingin melestarikan batik kayu sekaligus meningkatkan pencapaian yang sudah ada,” ungkapnya.
Sebanyak 30 sanggar batik kayu di Desa Krebet dilibatkan dalam program ini. Para perajin mengikuti pelatihan dari akademisi, termasuk pengenalan teknologi seperti kompor listrik untuk meningkatkan efisiensi produksi. Selain itu, ada diskusi dan pertukaran pengalaman mengenai inovasi dalam teknik membatik.
“Kami tidak hanya berbagi ilmu dan teknologi, tetapi juga mendapatkan banyak masukan dari para perajin. Ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan di sini,” tambah Adam.
Program ini juga bertujuan memperkuat kolaborasi antara akademisi, pelaku bisnis, dan pemerintah dalam memajukan sektor pariwisata berbasis budaya.
Tradisi batik
“Kami berharap kontribusi akademisi dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi pengembangan wisata Yogyakarta, khususnya di bidang batik kayu,” kata Adam.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. UNY berharap dengan adanya program semacam ini, tradisi batik kayu Krebet dapat terus berkembang dan menjadi daya tarik unggulan di sektor pariwisata Yogyakarta. (*)