Pengurus Komunitas Cetar Ikuti Capacity Building, Perempuan Harus Bahagia
Merujuk data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 diketahui 9,6 persen perempuan mengalami gangguan mental emosional.
KORANBERNAS.ID, KULONPROGO -- Dalam Rangka HUT ke-80 RI, pengurus Komunitas Cetar (Cerita Tentang Perempuan) Jogja mengikuti Capacity Building di Padepokan Kilen Lepen, Karangwetan Kalurahan Salamrejo Kapanewon Sentolo Kulonprogo, Rabu (13/8/2025).
Pembicara kunci pada acara bertema Bahagia, Berdaya, Berbagi dan Religius untuk Indonesia Merdeka itu Kepala Kesbangpol Kabupaten Bantul Heru Wismantara MM. Narasumber lainnya adalah pengusaha kuliner Suryanti SH dan Miftah Bacria Sa'adah S Psi seorang pemerhati serta pegiat perempuan dan anak dengan moderator Susilawati.
Kegiatan juga diisi refleksi dengan pembacaan komitmen bersama dan gowes menikmati alam pedesaan nan asri, sejuk, indah di tepian Sungai Progo.
Bunda Miftah dalam materinya berjudul kemerdekaan mental perempuan menyatakan kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan fisik saja tetapi juga bebas dari tekanan batin, stigma sosial dan keterbatasan yang menghambat perempuan untuk berkembang.
Gowes pengurus dan anggota Cetar di Kulonprogo. (sariyati wijaya/koranbernas.id)
Kesehatan mental yang baik membuat perempuan lebih bahagia, berdaya dan mampu berbagi energi positif ke lingkungan sekitar.
"Ketika seorang perempuan itu bahagia di dalam keluarganya akan lebih produktif, lebih bijaksana ketika membuat keputusan. Perempuan yang bahagia juga akan membuat suasana menjadi tenteram dan mendukung perkembangan atau tumbuh kembang anak ke depan,” ungkapnya.
Jadi, lanjut dia, sangat perlu seorang perempuan itu bahagia. “Ketika seorang perempuan bahagia akan melahirkan keluarga yang kuat, membentuk komunitas yang kuat dan akhirnya akan membentuk negara yang kuat. Jadi semua diawali dari perempuan," urai Bunda Miftah.
Menurut dia, kebahagiaan ini sangat penting. Merujuk data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 diketahui 9,6 persen perempuan mengalami gangguan mental emosional.
Peran ganda
"Ini data untuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Kalau kita semua di sini ada sepuluh orang, maka satu di antara kita mengalami gangguan mental emosional," katanya.
Dari data BPS tahun 2021 sebanyak 57 persen perempuan menjalani peran ganda tanpa dukungan. Sedangkan berdasarkan data Komnas Perempuan tahun 2022, perempuan takut mencari bantuan karena masih menganggap itu aib.
Tantangan kesehatan mental perempuan, lanjutnya, di antaranya adalah beban ganda peran sebagai ibu, istri bekerja dan anggota komunitas. Juga stigma sosial di mana masalah mental masih sering dianggap tabu atau aib dan adanya keterbatasan akses serta tekanan media sosial.
Dia sepakat perempuan harus memiliki kemerdekaan. Dilihat dari perspektif psikologis yakni kemerdekaan emosional adalah mampu mengelola emosi tanpa dikendalikan rasa takut dan cemas.
Nilai religius
Lalu, kemerdekaan pikiran yakni berpikir kritis dan positif tanpa terjebak prasangka. Kemerdekaan spiritual yakni merasa tenang dan memiliki makna hidup sesuai nilai religius. Sedangkan kemerdekaan sosial yakni bebas berkontribusi tanpa diskriminasi gender.
Adapun strategi merdeka mental adalah tetapkan batas pribadi, jangan takut minta bantuan, pilih lingkungan suportif dan sediakan waktu untuk diri sendiri.
Sedangkan Suryanti mengatakan seorang perempuan harus memiliki mental yang kuat ketika akan memulai bisnis. Seperti dirinya yang berkali-kali gagal namun bangkit lagi.
"Saya itu sampai membuat 12 warung dan yang jalan tiga warung. Tapi tidak apa-apa, karena namanya usaha jika tidak berhasil maka gagal. Yang terpenting kita harus bermental kuat, pantang menyerah," kata Yanti yang memiliki usaha sop pendopo dan tengkleng di Alun-Alun Utara Yogyakarta tersebut.
Wadah strategis
Bunda Miftah yang juga ketua Komunitas Cetar mengatakan komunitas ini berdiri sebagai wadah strategis membangun peran perempuan yang tidak hanya tangguh secara ekonomi tetapi juga berdaya secara emosional dan spiritual.
Pada era disrupsi seperti saat ini, kapasitas sumber daya manusia menjadi kunci. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pengurus merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan komunitas.
"Kegiatan hari ini mengusung tema Bahagia, Berdaya, Berbagi dan Religius untuk Indonesia Merdeka. Tema ini menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga proses berkelanjutan untuk memerdekakan pikiran, memandirikan ekonomi dan memantapkan integritas moral,” ucapnya.
Tujuan kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan teknis tetapi juga membangun fondasi kepemimpinan yang adaptif dan kolaboratif.
Kerja tim
"Kita akan memperkuat pemahaman visi, misi, serta nilai dasar Cetar, mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja tim, serta membangun inovasi yang berakar pada nilai kebangsaan dan religiusitas," katanya.
Heru Wismantara menambahkan Cetar adalah komunitas yang positif. Diharapkan komunitas ini mendukung program-program pemerintah misalnya penanganan stunting, ketahanan pangan dan ketahanan keluarga.
Dalam kesempatan itu disampaikan komitmen anggota Cetar:
1. Menjaga dan menghidupkan nilai bahagia, berdaya, berbagi dan religius dalam setiap langkah.
2.Memperkuat kekompakan dan kerja sama demi kemajuan komunitas.
3. Mengembangkan diri secara berkelanjutan,agar mampu memberi manfaat lebih besar bagi masyarakat.
4. Menjalankan amanah dengan integritas profesionalisme dan hati yang tulus.
5. Menjadi teladan dalam sikap ucapan dan tindakan bagi sesama anggota dan lingkungan sekitar. (*)
Sariyati Wijaya
