Pena dan Kata Jadi Senjata Utama, Suara Muhammadiyah Rayakan Milad ke-110
Suara Muhammadiyah yang terbit pertama kali pada 1915 menjadi estafet penting gerakan literasi keagamaan.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Menyambut Milad ke-110, Suara Muhammadiyah menggelar peluncuran dan bedah buku Media & Islam Berkemajuan: Perjalanan dan Pemikiran Jurnalis Islam Lintas Generasi karya Dr Roni Tabroni M Si, Rabu (13/8/2025), di Grha Suara Muhammadiyah Yogyakarta.
Buku setebal ratusan halaman ini mengulas perjalanan jurnalis Islam lintas generasi, merekam pemikiran, perjuangan dan refleksi atas peran media sebagai kekuatan pencerahan serta pendorong kemajuan peradaban.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam sambutan tertulisnya di dalam buku itu menyebutkan karya ini penting karena sejak awal abad ke-20 media Islam berperan besar menyalakan api pembaruan pemikiran di dunia Muslim termasuk di Indonesia.
“Pena dan kata menjadi senjata utama dalam menyalakan api kesadaran, menantang hegemoni pemikiran yang jumud, dan menggerakkan tajdid yang berakar pada nilai-nilai Islam,” ujar Haedar.
Instrumen strategis
Dia menegaskan, media bukan sekadar saluran informasi tetapi instrumen strategis perubahan sosial-keagamaan.
Haedar menjelaskan sejarah media Islam modern berakar pada gerakan pembaruan di Timur Tengah, seperti Al-Urwah al-Wutsqa dan Al-Manar yang digagas Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.
Gelombang pemikiran rasional dan anti-taqlid itu merambat ke Asia Tenggara melalui media seperti Al-Imam (1906) di Singapura dan Al-Munir (1911) di Padang. Di tengah tekanan kolonialisme, media ini menjadi pelopor transformasi intelektual yang membebaskan umat dari feodalisme dan konservatisme teologis.
Dalam lanskap Indonesia, lahir media seperti Al-Bayan, Al-Iman dan Al-Ittigan yang mengaitkan ajaran Islam dengan persoalan sosial seperti pendidikan, kemiskinan, kolonialisme, hingga krisis moral. Suara Muhammadiyah, yang terbit pertama kali pada 1915, menjadi estafet penting gerakan literasi keagamaan.
Pemikir pembaharu
“Suara Muhammadiyah tidak hanya menjadi corong organisasi, tetapi juga ladang subur bagi lahirnya pemikir pembaharu, mengintegrasikan teks dan konteks, mempertemukan wahyu dan realitas sosial dalam kerangka pemikiran berkemajuan,” jelas Haedar.
Sementara itu, tokoh Muhammadiyah yang juga cucu pahlawan nasional Ki Bagoes Hadikoseoma, Afnan Hadikusumo, menilai empat tokoh yang diangkat dalam buku ini memberi keteladanan penting bagi bangsa. Dia melihat fenomena berkurangnya figur publik yang memiliki konsistensi dan integritas, sehingga masyarakat kehilangan harapan.
“Seperti yang disampaikan Prof Safi'i Ma'arif, negara kita ini sudah lama mengalami kekurangan keteladanan. Kita sering merujuk tokoh tertentu, tapi ujung-ujungnya terlibat urusan lain seperti migas dan masyarakat pun kecewa,” ujar Afnan.
Menurut dia, tokoh pergerakan harus memiliki tradisi membaca dan menulis. “Orang yang tidak sering membaca biasanya jarang menulis, karena wawasannya kurang,” tegasnya.
Ditahan Belanda
Dia mencontohkan Haji Fachrudin, tokoh Muhammadiyah yang pernah ditahan Belanda karena menggerakkan petani tebu di Klaten melalui tulisan dan aksi boikot.
Bagi Afnan, dakwah Muhammadiyah tidak eksklusif melainkan memberi warna bagi kemajuan bangsa. “Bukan hanya soal Islam saja, tapi juga kontribusi untuk kemajuan Indonesia,” katanya.
Dia berharap buku ini mampu menambah wawasan dan menginspirasi generasi muda untuk memahami cara pandang tokoh Muhammadiyah dalam menyebarkan Islam berkemajuan dan berkebangsaan.
Peluncuran buku menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-110 Suara Muhammadiyah yang menegaskan kembali komitmen media Islam sebagai pilar pembaruan, penguat literasi keagamaan dan penggerak kemajuan peradaban lintas generasi. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
