Mosaik Luka dan Perjuangan: 22 Penulis Potret Sisi Empiris Perempuan dalam Antologi “Cerita dari Perempuan”
22 penulis ini berasal dari latar belakang profesi yang beragam. Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, menjelaskan bahwa para penulis ini terdiri dari guru, penilik sekolah, dosen, fotografer, pensiunan, hingga ibu rumah tangga
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA--Menikmati karya sastra tidak selamanya harus membuat dahi berkerut. Melalui aliran realisme murni, buku antologi cerpen Cerita dari Perempuan mengajak pembaca menyelami realitas hidup kaum hawa dengan bahasa yang “plastis” dan mudah dicerna, namun tetap menyentuh relung batin terdalam.
Sastrawan sekaligus jurnalis senior, Latief Noor Rochmans, yang membedah buku ini menyebutnya sebagai sebuah “mosaik potret empiris”. Mayoritas penulis memilih gaya realisme murni untuk menggambarkan berbagai aspek kehidupan tanpa beban linguistik yang rumit.
Dalam paparannya, Latief menyoroti keberagaman tema yang diangkat oleh para srikandi sastra ini. Salah satu yang mencuri perhatian adalah cerpen “Sepotong Waktu untuk Perempuan: Sinta” karya Nia Samsihono. Latief menobatkan karya ini sebagai yang terbaik di antologi tersebut karena kepiawaian Nia mengolah diksi dalam menggambarkan kesepian seorang perempuan yang ditinggal mati suami dan dua anaknya.
Kisah lain yang tak kalah kuat adalah "Rumah Seribu Cermin" karya Novi Indrastuti. Kalimat-kalimatnya puitis dan sangat layak menjadi kutipan inspiratif (quotes).
“Kuat itu bukan berarti tidak menangis,” tulis Novi dalam cerpennya.
Sisi gelap dan ironis kehidupan juga dipotret tajam oleh Ana Ratri lewat cerpen “Siapa Lelaki Itu”. Mengisahkan tentang siklus karma pelecehan seksual dalam keluarga yang berujung tragis, cerpen ini menjadi cermin bagi para orang tua akan pentingnya perlindungan anak.
Sentuhan Filosofis dan Napas Budaya
Tak hanya soal duka, antologi ini juga merambah isu budaya dan filosofi. Maria Widy Aryani membawa pembaca ke timur Indonesia lewat “Perempuan Kamoro di atas Kole-kole”, yang memotret konflik keluarga yang mengorbankan masa depan anak.
Sementara itu, Sonia Prabowo, yang juga dikenal sebagai fotografer surealis, menghadirkan kalimat-kalimat filosofis yang cerdas dalam cerpen “Ibuku Gaia”.
“Bunga indah yang bermekaran akan kering dan gugur. Bulan purnama akan menjadi sabit dan hilang. Semua ada waktunya.”
Kolaborasi Lintas Profesi
Uniknya, 22 penulis ini berasal dari latar belakang profesi yang beragam. Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, menjelaskan bahwa para penulis ini terdiri dari guru, penilik sekolah, dosen, fotografer, pensiunan, hingga ibu rumah tangga.
Meski tinggal di kota yang berbeda, mereka disatukan oleh gairah menulis yang sama melalui grup WhatsApp. Inisiatif ini bermula dari keresahan Nunung Rieta, seorang aktivis teater dan pemain film, yang merasa perlu mewadahi tulisan bertema perempuan.
Berikut adalah daftar 22 penulis yang karyanya terhimpun dalam antologi ini: Ami Simatupang, Ana Ratri Wahyuni, Christina Sri Purwanti, Eni Lestari, Ika Zardy Saliha, Labibah Zain, Lies Wijayanti SW, Margareth Widhy Pratiwi, Maria Widy Aryani, Nani Sufiani Suhanda, Ngatinah, Nia Samsihono, Ninuk Retno Raras, Novi Indrastuti, Nunung Rieta, Savitiri Damayanti, Sonia Prabowo, Sri Wahyu Wardani, Sriyanti S Sastroprayitno, Umi Kulsum, Ummi Azzura Wijana, dan Yuliani Kumudaswari.
Di luar apresiasinya, Latief Noor Rochmans mengingatkan para penulis untuk tetap memperhatikan aspek teknis seperti EYD sebagai bagian dari evaluasi mandiri. Buku yang dieditori oleh Ons Untoro dan Indro Suprobo ini diharapkan mampu melengkapi khazanah sastra Indonesia dengan perspektif perempuan yang jujur dan autentik. (*)
Siaran Pers
