Mini Orkestra Memecah Keheningan Gereja HKTY Pugeran

Langkah ini selaras dengan arah dasar Keuskupan yang menekankan pembangunan manusiawi dan spiritual.

Mini Orkestra Memecah Keheningan Gereja HKTY Pugeran
Suasana latihan di halaman Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran. (komsos hkty untuk koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di bawah rindangnya pepohonan tua yang menaungi pelataran Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran, suasana petang itu terasa berbeda. Gesekan biola berpadu dengan tiupan woodwind dari sebuah mini orkestra memecah keheningan, mengiringi langkah para aktor muda yang berlatih adegan demi adegan. Bukan sekadar persiapan pertunjukan, ruang ini sedang disiapkan menjadi tempat permenungan.

Pada Jumat Agung, (3/4/2026), pelataran gereja bertransformasi menjadi panggung pementasan Tablo Kisah Sengsara Yesus Kristus bertajuk Salib Tanda Cinta.  Pementasan ini menjadi bagian dari upaya Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Pugeran menghadirkan pengalaman iman yang lebih hidup dan menyentuh.

Di tengah rutinitas tahunan yang kerap membuat kisah sengsara terasa sekadar seremoni, muda-mudi ini mencoba melakukan pendekatan berbeda. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung sebagai aktor, pemusik, hingga tim produksi dalam program Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan (FIBB).

“Kami ingin orang muda merasakan bahwa masa depan Gereja ada di pundak mereka,” ujar Yohanes Catur Wibowo, supervisor sekaligus penyelaras naskah pementasan saat ditemui Selasa (31/3/2026). Dia menyebutkan, langkah ini selaras dengan arah dasar Keuskupan yang menekankan pembangunan manusiawi dan spiritual.

Menghidupkan makna

Tidak hanya dari sisi musik, pembaruan juga terlihat pada alur cerita. Jika biasanya Tablo dimulai dari penangkapan Yesus di Taman Getsemani, tahun ini kisah ditarik lebih awal.

Penonton diajak menyaksikan perjalanan Yesus sejak memanggil para murid, menyembuhkan orang sakit hingga menyelamatkan perempuan yang hendak dirajam. Pendekatan ini dipilih untuk memperkuat gambaran kasih yang melandasi pengorbanan di kayu salib.

“Kami ingin umat melihat karya-karya Yesus terlebih dahulu, sebelum akhirnya masuk pada penderitaan-Nya,” kata Catur.

Tablo tahun ini melibatkan sekitar 70 personel, hasil kolaborasi OMK Pugeran dengan Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Kolaborasi ini tidak hanya memperkaya sisi artistik, tetapi juga membuka ruang eksplorasi baru.

Perubahan nuansa

Jika sebelumnya pementasan identik dengan iringan gamelan atau ansambel kecil, kali ini suasana reflektif dibangun melalui format mini orkestra. Perubahan ini menghadirkan nuansa yang lebih megah sekaligus universal.

Di balik aransemen musik tersebut, ada sosok Yohanes Theo Widodo, mahasiswa semester 2 jurusan Penciptaan Musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta yang dipercaya sebagai penata musik sekaligus konduktor.

Theo menjelaskan, penggunaan mini orkestra menjadi bagian dari upaya menghadirkan pembaruan dalam pementasan Tablo.

“Kami ingin membuat perbedaan dari tahun ke tahun. Tahun lalu masih terbatas pada biola, cello dan paduan suara. Sekarang kami manfaatkan kembali orkestra KMK ISI yang baru dihidupkan,” ujarnya.

Bahasa emosi

Bagi Theo, musik bukan sekadar pengiring, melainkan bahasa emosi yang menyatu dengan alur cerita. Setiap adegan diterjemahkan ke dalam komposisi yang berbeda.

Harmoni mayor digunakan untuk menggambarkan sukacita, sementara teknik tremolo pada instrumen gesek dengan dinamika crescendo dipakai untuk membangun ketegangan.

“Saat adegan sedih, justru instrumen saya kurangi. Dibuat lebih minimal supaya melodinya lebih mengena dan membawa umat masuk ke suasana reflektif,” katanya.

Bagian paling krusial hadir pada finale. Theo menampilkan kembali motif-motif musik dari adegan awal -- mulai dari mukjizat penyembuhan hingga momen Yesus dielu-elukan di Yerusalem -- untuk membangun kontras emosional.

Menebar kebaikan

“Saya ingin mengingatkan bahwa sebelum wafat di kayu salib, Yesus telah menebar banyak kebaikan. Dari yang dielu-elukan menjadi ditolak, itu kontras yang kuat,” ujarnya.

Sebagai konduktor, Theo juga menghadapi tantangan teknis. Dia harus mengkoordinasikan orkestra sambil menyesuaikan tempo dengan dialog dan gerak aktor yang terkadang improvisatif. “Terkadang dialog tidak persis seperti naskah. Saya harus peka agar musik bisa masuk di waktu yang tepat,” tandasnya. (*)