Merespons Krisis Iklim, Delayota Art Exhibition Digelar Dua Hari di Taman Budaya Embung Giwangan
Seluruh proses pameran tersebut memperoleh dukungan penuh dari sekolah, masyarakat sekitar, orang tua, alumni serta komite sekolah.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Sebuah event pemeran seni berskala besar, Delayota Art Exhibition #14, digelar oleh SMA Negeri 8 Yogyakarta selama dua hari, Sabtu dan Minggu (5-6/10/2024), di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta. Ini merupakan respons atas terjadinya krisis iklim yang dituangkan melalui karya-karya seni.
Kepala SMAN 8 Yogyakarta, Fadilah Suryani MPd Si, kepada wartawan di sela-sela pembukaan pameran, Sabtu (5/10/2024), menyampaikan pameran kali ini bertema mengenai seruan kepada manusia yang terlahir sempurna tetapi dalam perjalannya kenapa mereka banyak merusak alam.
“Itulah pilihan anak-anak Delayota untuk menjadi generasi yang peduli terhadap lingkungan, kemudian mereka ingin membantu memberi kontribusi jangan sampai terjadi kerusakan lingkungan yang lebih banyak lagi,” ujarnya.
Seluruh proses pameran tersebut memperoleh dukungan penuh dari sekolah, masyarakat sekitar, orang tua, alumni serta komite sekolah. Tak hanya itu, guru-guru pun selalu mendampingi mereka dari awal bergerak sampai hari H pameran.
Kepala SMAN 8 Yogyakarta, Fadilah Suryani, di lokasi pameran. (sholihul hadi/koranbernas.id)
“Sampai malam di sini, kita tidak tega karena pameran ini bagian dari kegiatan sekolah. Dari membuat tim, proposal sampai pelaksanaan, semua mendapat dukungan dari sekolah,” kata Fadilah.
Melalui Delayota Art #14 ditampilkan berbagai event seni. Harapannya kegiatan itu bermanfaat untuk Yogyakarta, Indonesia dan dunia. “Ini adalah generasi Delayota yang siap memberi kontribusi untuk lingkungan di Yogyakarta. Delayota peduli masa depan, dari Delayota untuk Jogja, dan Indonesia.Pakci Jaya!” ucapnya.
Event itu juga bermanfaat membentuk karakter anak menjadi lebih baik, memiliki rasa tanggung jawab, disiplin dan peduli terhadap lingkungan. “Dengan kerja bersama maka disiplin positif akan muncul pada diri anak-anak. Banyak karakter positif yang diperoleh dari kegiatan ini,” kata Fadilah.
Guru SMAN 8 Yogyakarta, Hastuti Adiati saat mendampingi Ketua Panitia Delayota Art #14, Satria Abi, menjelaskan pihak sekolah berkolaborasi dengan sejumlah seniman. Ada nama-nama seniman profesional dan terkenal.
Sebagian dari karya seni lukis yang ditampilkan pada ajang Delayota Art. (sholihul hadi/koranbernas.id)
Sebut saja Nasirun, Suhardi, Laksmi Shitaresmi, Febri Anugerah, Drs Subandi Giyanto, Octo Noor Arafat, Rosowerno, Wisnuaji Putu Utama, Mamik Slamet, Anom Wibisono, Surajiya & Juan Dali, Suryadi, Rina Kurniyanti, Yusman, Dr Drs Hajar Pamadhi MA (Hons), Ifat Futuh maupun Arif Budi Santoso SH. Selain itu, panitia juga mengundang bintang tamu Anita Wahid.
Rangkaian Delayota Art #14 di antaranya lomba geguritan, lomba menyanyi, talkshow, lomba mural, lomba mewarnai & menggambar, live art, performing art, art exhibition maupun special performance.
“Delayota Art yang ke-14 tahun ini bertepatan dengan Lustrum X SMAN 8 Yogyakarta. Kami menampilkan sekitar 218 karya lukisan, seni patung maupun instalasi art yang merespons ruang,” kata Hastuti.
Karya-karya yang dipamerkan mengangkat isu tentang keprihatinan terhadap krisis iklim. “Kita tidak mungkin bisa menikmati luar biasanya Indonesia jika krisis iklim terus terjadi dan akhirnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan,” jelasnya.
Masa depan
Adapun tema tentang 2050 yang merupakan bagian dari Delayota peduli masa depan, tergambar ke dalam berbagai wujud karya seni instalasi maupun karya lukis.
“Kami merespons itu. Jujur, ide awalnya adalah video Najwa Shihab tentang 2050 yang menggambarkan kondisi alam di Indonesia dan dunia sudah sangat mengkhawatirkan bahkan bisa dikatakan hampir menuju ke akhir,” ungkapnya.
Yang membedakan event itu dengan acara serupa tahun-tahun sebelumnya sehingga terlihat istimewa, lanjut dia, karena panitia membuka kesempatan seniman-seniman Yogyakarta maupun dari sekolah lain ikut berpartisipasi memamerkan karya-karyanya.
“Keistimewaan Delayota Art tahun ini kami menggunakan ruang semi terbuka. Biasanya kita selenggarakan di JNM. Tahun ini di Taman Budaya Embung Giwangan kita mencoba ruang yang baru,” ungkapnya.
Tidak sendiri
Semua siswa sekolah itu dilibatkan mulai dari kelas X, XI dan XII. “Kelas X perform, kelas XI instalasi art dan kelas XII karya lukisan. Kami tidak sendiri. Kami melibatkan karya seniman profesional dan sekolah lain untuk berpartisipasi membuat karya bahkan ada yang dari nol merespons tema yang kami angkat,” ucapnya.
Satria Abi menambahkan, Delayota Art tahun ini merupakan kolaborasi dari seluruh komponen di SMAN 8 Yogyakarta. Guru, siswa dan karyawan sangat mendukung.
“Kami berkesempatan mengundang dari sekolah lain karena kami di sini bukan berlomba menjadi yang terbaik tetapi merangkul semua menjadi yang terbaik,” kata dia. (*)