Menyemai Bisnis Kaktus, dari Kulonprogo hingga ke Seluruh Indonesia
Kaktus memang bisnis jangka panjang. Budidayanya membutuhkan kesabaran. Namun kaktus sebenernya menjadi jenis tanaman yang tidak sulit untuk dibudidayakan. Sekali berbunga bisa menghasilkan 500-700 biji. Biji-biji ini lantas disemai hingga tumbuh, lalu dipindahkan ke dalam pot-pot terpisah saat berusia sekitar 1 tahun
KORANBERNAS.ID, KULONPROGO—Terinspirasi dari berburu kaktus untuk membantu seorang teman, Joko Setiyono alumnus Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta akhirnya benar-benar jatuh hati dengan tanaman hias ini. Maka di awal 2017, ia mulai merintis usaha budidaya kaktus yang hingga kini menjadi penopang ekonomi keluarga.
Bersama istrinya, Siti Dini Arsih yang satu almamater, Joko terbilang sukses membangun bisnis budidaya kaktus. Melengkapi ratusan koleksi kaktusnya, Joko juga mulai membudidayakan tanaman hias lain yakni sansevieria dan sukulen lainnya, dengan merek Arid Zona.
Ditemui di kebunnya wilayah Panjatan Kulonprogo, Joko menuturkan, saat ini ia memiliki dua kebun untuk budidaya kaktus, yakni di Dusun Tayuban dan Bojong. Dari dua kebun inilah, kaktusnya kemudian menyebar ke seantero negeri, pesanan dari para hobiis. Perbulan, Joko dan Dini berhasil membukukan omset di kisaran Rp 30 juta.
“Sekarang relatif stabil di 30 jutaan. Dulu pernah tembus 80 jutaan, saat pandemi Covid-19. Mungkin karena saat pandemi, banyak orang yang kemudian ingin mencari kesibukan termasuk menyalurkan hobi tanaman hias,” ujar Joko, saat menerima kunjungan sejumlah jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Jogja (FJ2) di sela-sela turing ke Kulonprogo, Sabtu (8/3/2025).
Selain mengunjungi Arid Zona Nursery, turing juga singgah di Panti Asuhan Muhammadiyah Wates, untuk menyerahkan bantuan berupa menu berbuka puasa dari JNE.
Berawal dari Jual Beli
Joko berkisah, bisnis kaktusnya ia rintis dari nol. Saat berburu kaktus untuk menghias warung kopi milik temannya di Malang Jawa Timur, dirinya mulai melihat peluang. Ternyata tanaman mungil berduri ini cukup banyak yang menggemari. Di sisi lainnya, ia tahu ada perbedaan harga yang bisa menguntungkan apabila ingin berdagang.
Maka dengan modal seadanya, ia memberanikan diri kulakan kaktus dan kemudian menjualnya ke orang-orang yang ia kenal dan menyukai tanaman ini. Hal itu dilakukan, sembari terus mempelajari cara budidaya kaktus secara ototidak. Selian mencoba, ia juga rajin mencari informasi cara budidaya kaktus dari media sosial dan komunitas.
“Setelah beberapa kali mencoba dan yakin bisa, kami memutuskan untuk menyewa lahan untuk budidaya tahun 2019. Alhamdulillah berkembang sampai sekarang ini,” katanya.
Ketekunannya belajar budidaya dan cermat membaca pasar, kemudian membawa Joko dan Dini semakin cinta dan paham bisnis kaktus. Mereka kemudian nekat membelanjakan modal yang ada, untuk mendatangkan 400 indukan dari Thailand. Sebagian lagi indukan mereka dapatkan dari sejumlah wilayah, terutama Jogja dan sekitarnya.
“Saya sering dapat harga murah, terutama dari para penggemar yang mulai bosan dengan koleksi mereka. Saya beli di harga 150 ribuan. Padahal di pasar, koleksi mereka sebenarnya masih bisa mencapai harga 350 hingga 400 ribuan,” lanjutnya.
Perawatan mudah
Menurut Joko dan Dini, kaktus dan tanaman tropis lainnya memiliki perawatan yang sangat mudah. Penyiraman bisa dilakukan dua pekan sekali, sampai pot benar-benar basah. Atau jika saat kemarau, penyiraman bisa dilakukan lima hari sekali. Kaktus juga bisa diberi kompos daun, dan pupuk lainnya untuk merangsang pertumbuhan. Maklum siklus hidup kaktus sangat lama. Umur lima tahun, ukurannya hanya sekitar 3-4 cm.
“Semua bisa merawat kaktus, bahkan menyilangkannya dengan jenis lain. Kemarin ada anak kelas 6 SD sudah bisa melakukannya,” imbuhnya.
Kaktus memang bisnis jangka panjang. Budidayanya membutuhkan kesabaran. Namun kaktus sebenernya menjadi jenis tanaman yang tidak sulit untuk dibudidayakan. Sekali berbunga bisa menghasilkan 500-700 biji. Biji-biji ini lantas disemai hingga tumbuh, lalu dipindahkan ke dalam pot-pot terpisah saat berusia sekitar 1 tahun. Mereka dipindah lagi saat berusia 2 tahun. Tiap tahapan siklus ini sebenarnya bisa dibisniskan. Biji kaktus juga bisa dijual, apalagi yang sudah tumbuh dalam sungkupnya.
“Budidaya kaktus ini memang sangat lama. Makanya yang jenis ijo-ijo (berwarna hijau-red), kita jual paketan. Satu paket Rp 50 ribu bisa dapat 35-50 pot. Hasilnya bisa untuk mencukupi kebutuhan harian. Jenis yang bagus seperti varigata atau varigata sriata, kita pilah lagi karena harganya lebih mahal dan untuk kelas kontes,” ujar Joko yang masih memiliki kaktus yang dirawatnya sejak 2008. Kaktus ini pernah menjadi juara tiga dalam ajang kontes kaktus dan sukulen nasional.
Penyerahan secara simbolis donasi menu berbuka puasa di Panti Asuhan Muhammadiyah Wates. (istimewa)
Layanan Sat Set
Bagi Arid Zona, layanan ekspedisi yang mumpuni dpaat membantu kelancaran bisnis tanaman hiasnya. Sejak tahun 2020, Arid Zona sudah mempercayakan kepada JNE untuk membantu layanan pengiriman. Sebagian besar kaktusnya dikirim lewat JNE. Apalagi untuk wilayah Pulau Jawa.
Sebagai pelanggan loyal, Arid Zona juga berhak menadapatkan fasilitas sebagai member JNE Loyalti Card (JLC). Dengan JLC tersebut, Arid Zona mendapatkan fasilitas penjemputan paket dari kurir JNE.
“Kami juga mendapatkan layanan pick up, namun seringnya paking itu selesai sore, jadi kami antar sendiri ke JNE Wates pada malam harinya,” ujar Dini.
Selain mendapat diskon khusus, Arid Zona juga pernah mendapat benefit lain dari JLC, seperti voucher belanja.
Menurutnya, pelayanan JNE sat set dan konsisten. Meski Arid Zona memberikan garansi pribadi kepada pelanggan, paket yang dikirim selalu diterima pelanggan dengan baik, sehingga garansi tersebut tidak pernah terpakai.
Mengantarkan Kebaikan JNE
Touring sepeda motor yang diikuti 10 awak media dari Forum Jurnalis Jogja (FJ2) dan Forum Wartawan Komunikasi dan Bisnis (Forwakobis) tersebut dilepas Marketing Communication & Partnership Regional Jateng-DIY-JTBNN JNE Express, Widiana dengan start dari Kantor JNE Yogyakarta, Sorogenen No. 196 Nitikan Umbulharjo Yogyakarta, Sabtu (8/2/2025) siang.
Widiana mengucapkan terima kasih kepada jurnalis yang mengantarkan kebaikan JNE dengan berbagi takjil di Kulonprogo. Hal ini sejalan dengan proses bisnis JNE yang selalu menerapkan prinsip Berbagi, Memberi dan Menyantuni dan semangat “Connecting Happiness” yang diteladani dari pendiri JNE Alm. H. Suprapto Soeparno. Makna dari prinsip tersebut dapat memberikan manfaat bagi kehidupan banyak orang.
Rombongan touring yang menyusuri Jalan Srandakan menuju Kulonprogo, singgah di Arid Zona, sebelum akhirnya menuju ke Panti Asuhan Muhammadiyah Wates untuk memberikan takjil kebaikan dari JNE. Donasi ini diterima pengasuh panti asuhan, Heru Nurdani yang turut disaksikan perwakilan JNE Wates, Ika. (*)