Mengenali Faktor Risiko Covid-19 guna Memutus Penyebaran

Mengenali Faktor Risiko Covid-19 guna Memutus Penyebaran

COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona. Virus ini merupakan jenis virus yang termasuk dalam keluarga atau kerabat virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), yang penularannya terjadi pada hewan dan manusia. WHO telah menetapkan penyakit Covid-19 sebagai pandemi global. Penyebarannya terjadi pada banyak orang di beberapa negara dalam waktu yang bersamaan atau jangka pendek. Penambahan penderita terjadi signifikan dan berkelanjutan secara global. Pada umumnya, penyakit ini menyerang saluran pernafasan. Banyak orang yang terinfeksi virus ini tidak dapat bertahan hidup dikarenakan kondisinya yang sudah tidak baik atau memiliki penyakit lain seperti jantung, ginjal, diabetes, darah tinggi dan lain-lain, sehingga terjadi komplikasi. Biasanya hal tersebut banyak terjadi pada orang-orang yang sudah lanjut usia, yang ketahanan tubuhnya sudah mulai menurun akibat penyakit yang diderita. Selain orang lanjut usia, beberapa kelompok juga dapat berisiko tinggi tertular penyakit Covid-19 seperti ibu hamil, anak-anak, orang yang memiliki penyakit asma, sampai orang yang berkontak langsung dengan penderita. Orang biasa dengan keadaan yang sehat juga dapat tertular bahkan dapat dikatakan penyebarannya lebih berbahaya dikarenakan tidak timbulnya gejala. Hal inilah yang menjadi penyebab meningkatnya penyebaran virus corona di dunia. Menurut WHO, penyebaran virus corona ini terjadi dari orang ke orang melalui percikan-percikan yang keluar dari hidung ataupun mulut (ketika mengeluarkan nafas, bersin dan batuk). Selanjutnya, benda atau permukaan yang terkena percikan tersebut disentuh oleh orang lain dan mungkin orang tersebut langsung menyentuh wajah, makanan atau minuman dan benda-benda lainnya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Selain itu, penyebaran virus juga dapat terjadi ketika ada kontak langsung secara dekat dengan orang lain, yang tanpa sengaja orang tersebut batuk atau bersin, maka jika orang tersebut terinfeksi virus, virus tersebut akan menyebar ke lawan bicaranya. Dalam mencegah terjadinya penyebaran Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta, dibutuhkan identifikasi faktor risiko dengan mengetahui terlebih dahulu gejala dari penularan Covid-19.

 

Gejala Covid-19

Sudah banyak yang mengetahui gejala seseorang terinfeksi virus corona. Namun tidak semua orang dapat membedakan antara gejala penyakit Covid-19 dengan penyakit flu biasa dan influenza. Sekilas ketiga penyakit tersebut terlihat memiliki gejala yang sama, namun jika lebih dicermati lagi, ketiganya memiliki karakter yang berbeda. Pada penderita flu biasanya akan mengalami pilek atau hidung tersumbat, sakit tenggorokan, batuk, sakit kepala dan demam ringan, dan juga tubuh akan terasa sakit pada persendian serta perubahan warna pada lendir menjadi kuning atau hijau dan lebih tebal setelah 2 atau 3 hari. Pada penderita influenza juga akan mengalami demam namun lebih tinggi dari penderita flu (mencapai 40 Celcius), badan mengigil, kelelahan, batuk dan sakit tenggorokan, mual bahkan sampai muntah, ada keluhan diare, sulit bernafas hingga sakit kepala dan mata kering. Jika penderita influenza tidak segera diobati akan menjadi pneumonia. Pada penderita Covid-19, gejala yang dialami adalah gangguan pada pernafasan umum, yang disertai demam (namun terkadang tidak), mengalami batuk kering, kesulitan dalam bernafas. Jika menjadi parah, akan mengakibatkan pneumonia, sindrom pernafasan akut yang parah, gagal ginjal, dan akan menyebabkan kematian.

Setelah mengetahui gejala penyakit Covid-19, diharapkan setiap orang lebih menjaga kesehatan tubuh. Hal tersebut dikarenakan adanya penderita Covid-19 yang tidak bergejala. Inilah yang menjadi kekhawatiran sampai saat ini. Untuk itu, perlu dilakukan identifikasi faktor risiko untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya penyebaran virus corona.

Identifikasi Faktor Risiko

Penyebaran virus corona di dunia telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, kebutuhan sehari-hari khususnya pangan sampai tradisi masyarakat untuk mudik. Di Indonesia setiap tahun hampir seluruh masyarakat melakukan mudik atau pulang kampung pada hari lebaran. Akibat dari penyebaran virus corona, pemerintah harus mengambil langkah untuk melarang pemberlakuan mudik di tahun 2020 ini dengan tujuan agar penyebaran virus ini tidak semakin meluas. Namun sangat disayangkan, masyarakat tidak bisa menerima larangan tersebut. Jauh sebelum aturan tersebut ditetapkan, masyarakat sudah mencuri start terlebih dulu agar bisa kembali ke kampung halaman. Banyak masyarakat yang bekerja di kota besar yang kembali ke daerah sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan penyebaran virus corona di Indonesia khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Faktor risiko lain yang menyebabkan terjadinya peningkatan penyebaran Covid-19 adalah masih adanya aktivitas di luar rumah, namun melanggar aturan yang sudah ditetapkan. Pemerintah telah menganjurkan bagi setiap orang yang masih melakukan aktivitas di luar rumah untuk menjaga jarak atau physical distancing, tidak berkumpul dengan jumlah orang yang banyak, menggunakan masker serta mencuci tangan setelah dan sebelum melakukan aktivitas. Aturan-aturan tersebut bersifat sederhana dan sangat mudah untuk dilakukan oleh semua orang, namun sangat disayangkan masih banyak orang yang melanggarnya, sehingga menjadi salah satu pemicu meningkatnya penyebaran virus corona. Selain itu, ada ketidakjujuran dari seseorang yang telah mengetahui terinfeksi virus corona namun tidak mau mengakui.  Hal tersebut yang sangat disayangkan, karena dapat merugikan diri sendiri (mendapatkan pengobatan yang tidak maksimal) dan orang lain. Di Indonesia, kasus Covid-19 yang terkonfirmasi telah mencapai lebih dari 10.000 kasus, sedangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta jumlah kasusnya telah mencapai lebih dari 150 kasus. Inilah yang harus menjadi perhatian seluruh masyarakat karena penyebaran penyakit Covid-19 diperkirakan akan meningkat lagi. Belum dapat diketahui, sampai kapan penyebaran ini akan terus berlangsung. Maka dari itu dibutuhkan pencegahan dan pengobatan agar dapat menurunkan kasus, mengurangi penyebaran, dan mempercepat penghentian penyakit Covid-19.

Pencegahan dan Pengobatan

Dalam mengatasi penyakit Covid-19, sudah banyak dilakukan penanganan penyebaran virus corona, salah satunya dengan melakukan uji rapid. Di Indonesia, lebih dari 90.000 penduduknya telah mengikuti rapid test dan lebih dari 10.000nya dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Hasil rapid test dapat diketahui secara cepat atau membutuhkan beberapa menit setelah pengujian. Apabila hasilnya negatif, jika dimungkinkan dilakukan pengulangan rapid test pada 7-10 hari kemudian untuk memastikan bahwa orang tersebut benar-benar tidak terinfeksi virus corona namun jika tidak, orang tersebut diharuskan melakukan isolasi mandiri. Apabila hasil yang didapatkan adalah positif, dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa uji swab dan PCR. Sampai sekarang, rapid test tidak bisa menjadi patokan yang akurat dalam mendiagnosis seseorang terinfeksi virus corona atau tidak. Hal tersebut dikarenakan terjadinya perubahan imunitas yang tidak menentu (sesuai dengan kondisi kesehatan). Maka dari itu, dapat dikatakan sensitivitas dari rapid test ini sangat rendah.

Bagaimana dengan pemeriksaan lanjutan pada uji swab dan PCR?

Uji swab dan PCR dilakukan setelah pasien mendapatkan hasil positif terjangkit virus corona. Pada uji ini dilakukan pengambilan sampel dengan swab hidung atau tenggorokan dan sampel tersebut akan diperiksa dengan metode PCR. Untuk mengetahui hasil dari pemeriksaan uji ini membutuhkan waktu lebih lama dari uji rapid test namun hasil yang diperoleh lebih akurat dalam mendiagnosis seseorang terinfeksi virus corona atau tidak. Meskipun uji ini lebih efektif, namun dalam pelaksanaannya tidak sebanding dengan jumlah pasien yang mau diuji. Kapasitas yang dimiliki tidak terlalu besar, alat yang dibutuhkan tidak terlalu banyak dan prosesnya cukup rumit, sehingga apabila sudah penuh, sampel yang sudah ada harus menunggu untuk dilakukan pengujian. Inilah yang menjadi kekurangan dari uji swab dan PCR.

Dalam kondisi sekarang, dibutuhkan cara alternatif yang cepat dan lebih efektif untuk memutus penyebaran virus corona dan menyembuhkan pasien positif corona. Para ilmuan dari berbagai negara di dunia telah melakukan beberapa percobaan atau uji untuk menciptakan pengobatan yang dipercaya dapat menyembuhkan pasien, terkhusus yang sudah dalam kondisi parah akibat terjangkit virus corona. Salah satu yang sudah ditemukan dan sudah diterapkan di Indonesia adalah terapi plasma darah. Terapi ini dilakukan hanya untuk pasien positif  dengan menyuntikkan plasma darah pasien yang sudah sembuh ke orang yang masih terinfeksi khususnya yang dalam kondisi kritis. Hal ini diharapkan dapat membantu mempercepat penyembuhan.

Pemerintah telah mengeluarkan aturan-aturan yang harus ditaati oleh semua masyarakat. Social distancing, isolasi diri atau karantina diri sendiri, menjaga jarak dan menggunakan masker bila berpergian, mencuci tangan dengan sabun sebelum dan setelah beraktifitas, berganti pakaian setelah dari luar rumah, menjaga kebersihan, menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang sakit merupakan anjuran dari pemerintah, yang wajib diikuti agar dapat memutus penyebaran virus corona yang semakin meluas. Meningkatkan daya tahan tubuh atau imun dengan mengonsumsi makan dan minuman yang bergizi, istirahat yang cukup, dan rajin berolahraga karena dengan daya tahan tubuh atau imun yang kuat maka virus tidak akan mudah menyerang. **

Regina Asteria Riyanto

Mahasisa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana