lurah-ari-bermain-egrang-saat-pasinaon-kepuh-diresmikanLurah Mulyodadi Ati Sapto Nuhroho SH (kiri,red)  naik egrang  dalam peresmian  peresmian Pasinaon Kepuh  “Marsudi Laku Utomo” Sabtu (13/8/2022) sore. (sariyati wijaya/koranbernas.id)


Sariyati Wijaya
Lurah Ari Bermain Egrang Saat Pasinaon Kepuh Diresmikan

SHARE

KORANBERNAS.ID,BANTUL -- Puluhan anak nampak berdandan rapi. Diantara mereka bahkan  banyak  juga yang memakai bedak tabur putih ‘meblok-meblok’ khas anak Balita. Mereka sudah berkumpul di halaman rumah  Kaur Pangripta Kalurahan Mulyodadi Bambanglipuro Bantul, Prista pada Sabtu (13/8/2022) sore. 


Rupanya mereka sedang   menunggu peresmian Pasinaon Kepuh  “Marsudi Laku Utomo” oleh Lurah Mulyodadi, Ari Sapto Nugroho didampingi istrinya Niken Anggraini yang juga ketua TP PKK Mulyodadi. Begitu diresmikan  dengan pemukulan kentongan oleh lurah Ari, anak-anak tersebut langsung bermain egrang di jalan depan Pasinaon.


Bukan hanya anak-anak, Ari  juga mencoba egrang  tersebut. Egrang adalah sebuah permainan tradisional yang menggunakan sepasang bambu  untuk berjalan. Bambu dibentuk seperti tongkat yang memiliki tumpuan kaki yang terbuat dari kayu.  Permainan egrang berguna dalam pelatihan pengendalian diri dengan menjaga keseimbangan, ke fokusan dan meningkatkan rasa percaya diri sekaligus hiburan untuk anak anak maupun dewasa.

“Wah masih bisa, ning ra wani mlayu aku (aku tidak berani lari-red),” ujar Ari sembari tergelak bersama bapak-bapak lain yang juga ikut bermain egrang sore itu.


Sedangkan anak-anak dan  para ibu yang bermain bekelan. Bekelan merupakan permainan anak menggunakan bola yang bisa memantul dan biji–biji atau bekel dan dimainkan oleh paling sedikit 2 anak.

Ari mendukung kehadiran Pasinaon Kepuh tersebut. Hal itu merupakan program bagus dan bisa dikembangkan  ke tempat yang lain. Sebab banyak manfaat yang bisa dirasakan dengan hadirnya Pasinaon Kepuh.

"Selain menambah ilmu dan keterampilan, juga memupuk kebersamaan warga dan anak-anak serta  mengenalkan  berbagai permainan tradisional yang dimiliki bangsa ini. Sehingga tidak punah dan tetap lestari," paparnya.

Niken mengungkapkan,  Kepuh ini bisa menjadi contoh. Kawasan itu awalnya kebun bersama untuk belajar bertanam ataupun berkebun oleh-ibu-ibu yang dibangun  Maret 2022 lalu. Kemudian ada ruang yang masih tersisa maka dimanfaatkan untuk pojok baca yang bisa digunakan untuk belajar.

"Serta kita buatkan  lagi area permainan tradisional. Ide awal dari saya yang kemudian disambut baik oleh ibu-ibu disini.,Jadi gayung bersambut,” kata Niken.

Berbagai jenis permainan disediakan di kawasan itu seperti egrang, bekelan,gobak sodor, nekeran, dakon, congklak dan beragam permainan lain.

“Di sini  anak-anak juga tidak akan bermain gadget saja, namun bisa  bermain bersama teman-temanya,” katanya.

Sedangkan untuk keperluan koleksi buku, kalurahan mendapatkan dukungan dari donatur serta pinjaman buku dari perpustakaan desa dan dilakukan peminjaman secara berkala.

Dua minggu atau sebulan sekali, tempat tersebut mendapatkan pinjaman buku. Buku yang lama ditarik petugas perpusdes.

"Kalau untuk pelatihan berkebun kita biasanya mengundang  pelatih atau KWT.  Kepuh ada 5 RT dengan masing-maisng memiliki tanaman unggulan. Misalnya RT 04 unggulanya adalah tanaman waluh, aka nada juga pelatihanya  pengolahan waluh begitu juga untuk RT yang lain disesuaikan  dengan potensi masing-masing,” jelasnya.

Dengan metode kebun yang kemudian terintegrasi  dengan berbagai kegiatan lain  maka ini juga mendukung Kepuh  sebagai   pedukuhan toleransi. Dimana anak dan orang tua saling berbaur dalam kerukunan dengan berkegiatan bersama.

“Ini diharapkan menjadi studi tiru bagi wilayah yang lain.  Sehingga Mulyodadi akan menjadi kalurahn yang ramah bagi anak serta tempat belajar dari berbagia usia,” tambahnya.(*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini