Kekuatan Radikal “Orang Rendahan”

Oleh: Aprinus Salam

Bukti bahwa kekuasaan (pemerintah) telah gagal dalam mengelola negara adalah ketika semakin banyak mereka yang menderita miskin dan kemudian menjadi “orang-orang rendahan”. Sebagian dari mereka adalah para penganggur, preman-preman yang menjadi budak, pelacur, tukang parkir ilegal, emak-emak yang tidak jelas pekerjaannya, para buruh dan tukang yang hanya bisa mencari sesuap nasi, dan sebagainya.

Kekuatan Radikal “Orang Rendahan”
Aprinus Salam. (Istimewa).

PENGUASA (katakanlah pemerintah) tidak pernah takut dengan kritik, sindiran, dan berbagai caci maki. Kritik dibalas dengan kritik dengan mengatakan inflasi pengamat. Sindiran dibalas dengan sindiran. Caci maki dibalas dengan caci maki. Kita tahu, itulah yang terjadi. Kekuasaan bernegara terus berlangsung. Yang miskin tambah miskin, yang berkuasa hartanya bertambah.

Penguasa juga tidak takut dengan mahasiswa, akademisi, seniman, sastrawan, para profesional, pedagang, dan sebagainya. Apa pun bentuk resistensi mereka terhadap rusaknya kehidupan bernegara, pemerintah yang berkuasa tidak pernah gentar. Semua aktivitas mereka bisa dikontrol dan ditekan dengan mengendalikan aparatus kekerasan negara, juga atas nama hukum dan keamanan.

Jadi, sebenarnya, percuma saja mereka yang disebut di atas tersebut melakukan aktivitas resistensi karena pihak penguasa akan sanggup menghadangnya dengan berdalih sebagai pemegang resmi mandat kekuasaan. Banyak hal sudah berlangsung demikian. Kekuasaan yang buruk tidak bisa dihadang atas nama perbaikan.

Apa yang bisa menghadang kekuasaan yang buruk dan melanggar konstitusi? Apa yang bisa menghadang ketika kekuasaan justru semakin menyengsarakan rakyat? Yang bisa menghadang kekuasaan yang buruk adalah orang-orang yang direndahkan. Atau suara-suara dan kehadiran rakyat yang menderita. Semakin besar rakyat yang menderita, semakin besar kekuatannya.

Bukti bahwa kekuasaan (pemerintah) telah gagal dalam mengelola negara adalah ketika semakin banyak mereka yang menderita miskin dan kemudian menjadi “orang-orang rendahan”. Sebagian dari mereka adalah para penganggur, preman-preman yang menjadi budak, pelacur, tukang parkir ilegal, emak-emak yang tidak jelas pekerjaannya, para buruh dan tukang yang hanya bisa mencari sesuap nasi, dan sebagainya.

Secara ekonomi mereka hanya bisa bertahan dengan sekadar bisa makan. Secara politik, mereka tidak punya akses sama sekali. Secara pendidikan, mereka tidak cukup terpelajar. Mereka relatif tidak punya apa-apa. Yang mereka punya adalah penderitaan dan kecemasan. Jika mereka protes sedikit saja, dikatakan sudah miskin kok nekat melawan. Bahkan secara brutal, mereka dikatakan bajingan.

Dalam posisi orang rendahan yang menjadi bajingan itulah mereka memiliki kekuatan yang berbahaya. Kemungkinan pertama, berbahaya bukan karena aktivitasnya. Bisa dibayangkan jika dalam suatu negara semakin banyak orang rendahan dan bajingan, maka dapat dipastikan itu negara lemah, rawan, dan dengan mudah akan terjadi berbagai kriminalitas. Energi negara habis untuk menangani kriminalitas rendahan.

Produktivitas negara dan masyarakat akan terus turun dan daya beli menjadi tumpul. Mereka yang memiliki daya beli tinggi akan membelikan uangnya di luar negeri. Rupiah anjlok, barang-barang konsumsi pelan-pelang menghilang. Negara dalam ancaman keos dan kriminalitas meluas ke segala lini dan sudut kehidupan.

Kemungkinan kedua, berbahaya karena aktivitas para orang rendahan dan bajingan tersebut. Kita tahu, sebenarnya merekalah yang paling abdol, sah, konstitusional untuk memperlihatkan diri mereka sebagai representasi rakyat dari negara yang gagal. Merekalah yang paling lugas, nyata, dan radikal jika mereka berdemonstrasi terhadap kekuasaan yang buruk. Suara, sikap, dan tindakan mereka tidak terbantahkan.

Mereka bukan saja menyuarakan kebenaran atas namanya sendiri, tetapi juga menghadirkan kebenaran atas tubuh, penderitaan, dan kesengsaraan yang mereka alami. Dalam konteks ini, dapat dipahami kenapa kritik pedas para pengamat tidak manjur. Para pengamat lebih dalam situasi “mewakili” penderitaan rakyat, bukan penderitaannya sendiri.

Bukan berarti kritik para pengamat tidak penting. Kritik dan ajakan para pengamat dan akademisi akan manjur jika mereka dapat menggerakkan massa orang rendahan tersebut. Dengan demikian, kritik harus terus menerus disuarakan dalam berbagai cara, kesempatan, dan dalam berbagai ruang.

Dapat dibayangkan jika demonstrasi besar-besaran dilakukan oleh orang-orang rendahan tersebut. Berkumpulnya banyak orang yang membawa kerendahan diri mereka sendiri, menyuarakan penderitaan rakyat atas nama mereka sendiri, demonstrasi dengan tidak membawa apa-apa kecuali membawa kemiskinan mereka sendiri. 

Saya menduga bahkan jika mahasiswa demonstrasi, mahasiswa perlu berlindung di balik tubuh emak-emak anonim, perlu berlindung di balik tubuh-tubuh buruh miskin, perlu bertameng di balik tubuh para orang rendahan. Mahasiswa secara eksplisit perlu berlindung di balik tubuh penderitaan rakyat. Kecuali, banyak mahasiswa yang miskin dan menderita. Jika itu yang terjadi, mahasiswa membawa dirinya sendiri. ***

Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum.

Guru Besar di FIB UGM