Kebahagiaan Rafi Mengayuh Sepeda untuk Takjil Gratis UMY

UMY mengalokasikan total anggaran sekitar Rp 2 miliar untuk penyelenggaraan takjil drive thru selama sebulan penuh.

Kebahagiaan Rafi Mengayuh Sepeda untuk Takjil Gratis UMY
Pembagian takjil gratis secara drive thru di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Di tengah gerimis dan mendung hitam menggelayut, ribuan mahasiswa terlihat antre dengan tertib di halaman Gedung Fahrudin yang disulap menjadi area drive thru Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Sebuah pemandangan yang kini menjadi rutinitas memasuki Ramadan 1446 H hingga sebulan ke depan. Salah seorang dari mereka, Rafi Alzuhji, mahasiswa semester 7 jurusan Pertanian Agro Teknologi,

mengayuh sepedanya dengan semangat untuk mengambil jatah takjil gratis yang disediakan kampusnya.
"Saya ikut program ini setiap hari, bahkan dulu juga ikut untuk mendapatkan sahur gratis," ujar Rafi kepada koranbernas.id saat ditemui usai antre takjil, Sabtu (1/3/2025).

Dia membagikan ceritanya dengan senyum mengembang di wajahnya yang tampak lelah namun bahagia. Meski harus bersepeda karena tidak memiliki motor, mahasiswa asal Gresik ini tidak pernah mengeluh.

Menu bervariasi

"Pakai sepeda saja karena nggak punya motor, tapi tidak masalah," tambahnya sambil menerima bungkusan takjil dari petugas.

Bagi Rafi, menu yang disediakan kampus selama ini bervariasi dan rasanya enak. Baginya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya rela mengayuh sepeda setiap hari.

Rafi telah mengikuti program ini sejak berkuliah di UMY pada 2021. Berbuka dengan takjil gratis dari kampus telah menjadi bagian dari rutinitasnya selama Ramadan.

"Menunya bermacam-macam dan enak," ujarnya, mewakili suara banyak mahasiswa lain yang merasakan manfaat dari program tersebut.

Bentuk perhatian

Bagi mahasiswa seperti Rafi, program takjil gratis ini bukan sekadar bantuan ekonomi, tetapi juga bentuk perhatian dan kasih sayang dari kampus kepada mahasiswanya.

Mengayuh sepeda untuk mendapatkan takjil mungkin bukan hal yang mudah, tetapi semangat berbagi di bulan Ramadan telah membuat perjuangan itu terasa ringan.

Inisiatif pemberian takjil gratis ini bukan sesuatu yang baru di UMY. Kegiatan yang kini sudah menjadi tradisi itu semakin semarak selama bulan suci Ramadan 1446 H. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta telah membiasakan pemberian takjil gratis tidak hanya kepada mahasiswa tetapi juga seluruh sivitas akademika.

Ketua PP Muhammadiyah, Agung Danarto, menjelaskan skala kegiatan memang cukup besar. "Hari ini, kita menyiapkan 4.000 porsi untuk takjil. Besok, tergantung situasi, mungkin bisa meningkat menjadi 5.000 atau lebih, tetapi hari ini kita mulai dengan 4.000. Insya Allah, akan berlangsung setiap hari selama Ramadan," ujarnya.

Rp 2 miliar

Dengan biaya Rp 25 ribu per porsi, UMY mengalokasikan total anggaran sekitar Rp 2 miliar untuk penyelenggaraan takjil drive thru selama sebulan penuh. Sebuah komitmen yang tidak kecil untuk memastikan mahasiswanya dapat berbuka puasa dengan layak.

"Ini juga bagian dari semangat Ramadan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah. Nilai-nilai ini harus kita implementasikan dalam kegiatan sehari-hari," tambah Agung. Dia menyatakan pentingnya mengamalkan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.

Rektor UMY Prof Dr Achmad Nurmandi M Sc melihat program itu sebagai bagian dari tanggung jawab kampus terhadap kesejahteraan mahasiswanya.

"Pelayanan kampus terhadap mahasiswa itu penting. Tidak banyak kampus yang menyediakan makanan bagi mahasiswanya," ujarnya.

Kesulitan ekonomi

Lebih mengejutkan lagi, ternyata UMY tidak hanya peduli di bulan Ramadan saja. "Selain takjil Ramadan, kita juga punya program sarapan pagi setiap Selasa (di luar bulan puasa). Ini ditujukan bagi mahasiswa yang kesulitan ekonomi, yang mungkin tidak memiliki cukup uang untuk sarapan. Saat ini, jumlahnya sekitar 500 porsi per hari," jelas Nurmandi.

Filosofi di balik program itu mencerminkan semangat persyarikatan Muhammadiyah yang sejak lama menjadikan Ramadan sebagai bulan untuk meningkatkan infak dan sedekah, terutama bagi mereka yang kurang mampu.

Di tengah derasnya arus modernisasi dan individualisme, tradisi berbagi seperti yang dilakukan UMY ini menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan dan kepedulian.

Dan bagi Rafi serta ribuan mahasiswa lainnya, takjil gratis dari UMY bukan hanya sekadar makanan untuk berbuka, tetapi juga nutrisi bagi jiwa yang sedang berjuang menuntut ilmu jauh dari kampung halaman. (*)