Jumat, 04 Des 2020,


jffe-2020-dorong-lahirnya-perda-festival-di-diyJogja Festivals Forum and Expo 2019 silam. (jffe)


Muhammad Zukhronnee Muslim

JFFE 2020 Dorong Lahirnya Perda Festival di DIY


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA –Di masa pandemi, para pegiat festival di Yogyakarta bertemu dalam Jogja Festivals Forum And Expo (JFFE) 2020, merumuskan langkah terbaik bagi festival-festival di Yogyakarta ke depan. Selama empat hari penyelenggaraan JFFE 2020, berhasil mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan festival di Yogyakarta untuk mendukung terwujudnya peraturan daerah (perda) berupa peraturan gubernur (pergub).

Direktur Pelaksana Jogja Festivals, Dinda Intan Pramesti Putri menuturkan, perda bisa membuat pegiat festival semakin yakin menyelenggarakan acaranya. Manajemen festival pun lebih baik dan berkelanjutan.


Baca Lainnya :

    “Misal, festival tahun depan sudah mulai disiapkan ketika festival tahun ini berjalan,” terangnya dalam siaran pers yang diterima koranbernas.id, Sabtu (20/11/2020).

    Selain mendorong keberadaan pergub, lanjut Dinda, JFFE 2020 juga ingin menyinergikan para pemangku kepentingan festival sehingga tercipta ekosistem festival yang baik di Yogyakarta. Sinergi ini didorong ke dalam bentuk nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) di antara para pemangku kepentingan festival di Yogyakarta.


    Baca Lainnya :

      “Selama ini memang masih ada missing link, jadi ketika ada satu festival digelar, belum semua pemangku kepentingan tahu dan bergerak,” ujar Dinda.

      Menurutnya, sebagai kota festival seharusnya pemangku kepentingan bisa saling bersinergi. Jadi, ketika ada satu festival digelar, setiap bidang bisa secara otomatis bergerak. Misal, Perhimpunan Hotel Republik Indonesia (PHRI) bisa menginformasikan festival itu kepada tamu hotel, ASITA bisa menginformasikan kepada wisatawan, dan sebagainya.

      Dia tidak menampik jika setiap festival memiliki segmen penonton masing-masing. Namun, akan lebih baik jika menambah jumlah penonton dari kalangan wisatawan.

      “Festival itu luas cakupannya. Jika semua saling dukung akan terlihat Yogyakarta sebagai kota festival yang sudah matang,” ucapnya.

      Ia menuturkan berdasarkan perbincangannya dengan perwakilan ASITA DIY, konten berupa destinasi wisata sudah mulai tidak diminati. Ia pun menyarankan untuk mengubah pola pikir menempatkan festival menjadi konten utama.

      Pertimbangannya, tren wisatawan saat ini memilih tinggal lama di sebuah destinasi wisata karena ada acara atau festival di tempat itu. Setelah festival selesai, mereka baru mengunjungi objek-objek di destinasi wisata tersebut.

      Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo sudah mengantongi masukan dari para pegiat festival di Yogyakarta. Saat ini ia sedang menyusun road map supaya bisa mewujudkan tujuan dari pegiat festival di Yogyakarta.

      Ia juga menilai, perlu penguatan pemahaman dan sinergi dalam dinamika festival di Yogyakarta. Menurut Singgih, masih ada pegiat festival yang belum paham terkait dukungan pemerintah dalam sisi anggaran.

      “Baru sebagian kecil yang paham, kalau pemerintah menganggarkan dana untuk mendukung sebuah kegiatan harus memakai pola perencanaan. Artinya pengajuan proposal bisa satu atau dua tahun sebelumnya,” kata Singgih.

      Selain itu, Singgih juga menilai perlu penguatan di kalangan organisasi perangkat daerah (OPD) supaya bisa saling bersinergi. Di lingkup pemda, perlu ada dirijen berupa satu lembaga yang memberikan arahan yang pasti mengingat sebuah festival melibatkan banyak OPD.

      Antropolog UGM LS Don Charles mengatakan secara akademik, festival merupakan peristiwa multi purposes yang bisa dimanfaatkan di berbagai dimensi, ekonomi, diplomasi budaya, selain tentu saja kreativitas.

      “Sebagian besar masyarakat memandang festival sebagai pesta, gratis, hura-hura, jangan dilupakan ada dampak ekonomi lokal yang disebut multiplier effect,” ujarnya.

      Ia berpendapat, di Yogyakarta memang ada beragam festival dengan pengertian yang bermacam-macam, mulai dari acara gratis sampai ajang berbayar yang mempertemukan orang-orang.

      “Di Yogyakarta, justru masih jarang dilihat festival sebagai ajang promosi,” ucapnya.

      JFFE diinisiasi pertama kali pada 2019 oleh Jogja Festivals. Jogja Festivals berdiri pada 21 September 2014 dan diresmikan pada 9 Maret 2017 oleh 15 festival yang aktif berpartisipasi dalam proses kreatif di Indonesia.

      Sampai saat ini Jogja Festivals telah memberikan berbagai kontribusi nyata terhadap pertumbuhan minat kunjungan festival sebagai salah satu aktivitas sosial yang berdampak pada pertumbuhan dampak penyelenggaraan festival dalam ragam perspektif sosial, ekonomi, infrastruktur, pendidikan, seni, dan kebudayaan.

      Sesuai namanya, JFFE 2020 menghadirkan dua program besar, yakni forum dan ekshibisi. Di dalam forum ada sejumlah diskusi panel dan talkshow yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan festival dari pegiat festival, pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun pemangku kepentingan dari luar negeri.

      Sementara, eksebisi menjadi sarana presentasi, promosi dan transfer ilmu pengetahuan bagi para penikmat dan pegiat festival serta menjadi wadah pertemuan dan ajang kolaborasi lintas pemangku kepentingan festival: masyarakat, pemerintah, akademisi, dan bisnis. (*)

       

       



      SHARE
      '

      BERITA TERKAIT

      Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

      Tulis Komentar disini