Industri Asuransi Didorong Tangkap Peluang Lewat Forum AAMAI 2025

IPIF 2025 digelar oleh Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, 6-8 Agustus 2025.

Industri Asuransi Didorong Tangkap Peluang Lewat Forum AAMAI 2025
Pembukaan Indonesia Professional Insurance Forum (IPIF) 2025 yang digelar oleh Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI) di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, perang dagang dan perubahan iklim yang mengancam stabilitas ekonomi, sektor asuransi justru didorong untuk menangkap peluang melalui transformasi dan kolaborasi.

Ini menjadi fokus utama Indonesia Professional Insurance Forum (IPIF) 2025 yang digelar oleh Asosiasi Ahli Manajemen Asuransi Indonesia (AAMAI) di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, 6-8 Agustus 2025.

Mengangkat tema Navigating Geopolitical Threats and Opportunities in the Insurance Industry, forum ini menjadi ruang diskusi strategis bagi pelaku industri untuk merespons dampak risiko global terhadap bisnis asuransi, sekaligus membangun ketahanan sektor jasa keuangan.

“Forum ini bukan hanya ajang diskusi, tetapi juga platform membangun sinergi dan memperluas strategi agar industri asuransi tetap tangguh dan relevan menghadapi dinamika geopolitik yang terus berubah,” ujar Robby Loho, Ketua AAMAI, pada pembukaan acara, Rabu (6/8/2025).

Kerugian besar

Menurut Robby, ketidakstabilan global termasuk pergeseran aliansi politik, sanksi ekonomi serta konflik sipil berpotensi menimbulkan kerugian besar dan mengganggu proses underwriting, penilaian risiko hingga penetapan harga premi.

Meski demikian, kondisi tersebut membuka peluang inovasi produk, ekspansi pasar, serta penerapan teknologi berbasis data untuk efisiensi dan peningkatan daya saing.

Ketua Pelaksana Forum, Suhardiman, menyatakan forum ini dirancang untuk memberi pemahaman global sekaligus solusi praktis yang bisa langsung diterapkan oleh perusahaan.

“Kami ingin forum ini jadi pemicu transformasi. Bukan hanya pertemuan biasa, tetapi ruang konkret membentuk masa depan industri asuransi Indonesia yang lebih kuat dan adaptif,” ujarnya.

Upaya akselerasi

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, turut mendukung forum ini sebagai upaya akselerasi transformasi industri. Sinergi antara regulator dan pelaku usaha menjadi kunci menghadapi tantangan geopolitik dan mewujudkan pertumbuhan berkelanjutan.

“Industri asuransi harus bekerja keras melalui peningkatan kompetensi dan penguatan kebijakan. Meski dihadapkan pada tekanan global, kita harus tetap optimis. Kolaborasi adalah kunci memperkuat kontribusi asuransi terhadap ekonomi nasional,” kata Ogi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada triwulan II 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 persen. Dari angka tersebut, sektor jasa keuangan dan asuransi berkontribusi 0,13 persen, dengan sub-sektor asuransi dan dana pensiun menyumbang 0,05 persen.

Forum ini juga dihadiri pakar geopolitik, regulator dan pelaku industri lintas sektor untuk mengeksplorasi strategi pengelolaan risiko, inovasi layanan serta penguatan kerangka operasional industri. Dengan pendekatan kolaboratif, IPIF 2025 diharapkan menjadi momentum penting membentuk resiliensi dan pertumbuhan sektor asuransi nasional di tengah ketidakpastian global. (*)