Iftar Gathering Akademisi, Sekolah Kesatuan Bangsa Undang 23 Profesor

Sekolah Kesatuan Bangsa selama ini dikenal konsisten melahirkan siswa berprestasi di sejumlah ajang olimpiade.

Iftar Gathering Akademisi, Sekolah Kesatuan Bangsa Undang 23 Profesor
Iftar Gathering Sekolah Kesatuan Bangsa bersama akademisi dan siswa penerima medali olimpiade di Yogyakarta, Kamis (5/3/2026). (yvesta putu ayu palupi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Kesatuan Bangsa Bilingual Boarding School atau Sekolah Kesatuan Bangsa Yogyakarta menggelar Iftar Gathering bersama akademisi dan siswa penerima medali olimpiade di Yogyakarta, Kamis (5/3/2026). Kegiatan itu mengundang sejumlah profesor dari berbagai perguruan tinggi di DIY.

"Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara siswa-siswa berprestasi Olimpiade Sains Nasional (OSN) maupun internasional dengan para akademisi yang telah meniti karier hingga jenjang profesor," kata Husen Abdillah, Kepala SMA Kesatuan Bangsa, di sela acara.

Husen mengatakan kegiatan sebagai upaya memberikan wawasan tentang masa depan akademik bagi para siswa, khususnya mereka yang telah berprestasi di bidang sains. Mereka bisa belajar ilmu dari para profesor.

"Dalam kegiatan ini kami menghadirkan sekitar 23 profesor dari berbagai universitas seperti UGM, UNY dan lainnya. Kami ingin berdiskusi mengenai bagaimana perjalanan karier para akademisi hingga mencapai jenjang profesor atau guru besar," katanya.

Berbagi pengalaman

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya diikuti siswa Sekolah Kesatuan Bangsa, tetapi juga menghadirkan sejumlah peraih medali OSN dari berbagai sekolah di wilayah Yogyakarta. Tujuannya agar para siswa dapat berinteraksi langsung dengan para profesor serta mendengar pengalaman mereka dalam meniti karier di dunia akademik.

Dia menjelaskan, para profesor tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan pandangan tentang tantangan yang dihadapi dalam dunia pendidikan tinggi. Dalam sesi diskusi, para siswa juga diberi kesempatan mengajukan pertanyaan terkait perjalanan akademik, riset hingga pengembangan karier di bidang ilmu pengetahuan.

“Kami ingin anak-anak mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang masa depan mereka. Para profesor juga berbagi cerita tentang jerih payah mereka dalam belajar, berproses, hingga akhirnya bisa mencapai posisi profesor,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, sekolah juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan karakter yang kuat. Husen menilai, keberhasilan di bidang akademik tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh karakter, ketekunan dan integritas. “Selain intelektual yang memang diperlukan, karakter juga tidak kalah penting. Kami ingin anak-anak tidak hanya menjadi siswa yang cerdas, tetapi juga memiliki karakter unggul,” katanya.

Prestasi OSN

Sekolah Kesatuan Bangsa selama ini dikenal konsisten melahirkan siswa berprestasi di sejumlah ajang olimpiade. Contohnya dalam OSN 2025, sekolah ini berhasil meraih enam medali, terdiri dua emas, dua perak dan dua perunggu dari delapan siswa finalis yang dikirim.

“Alhamdulillah pada OSN 2025 kemarin kami menjadi peringkat tiga terbaik se-Indonesia dengan raihan dua medali emas, dua perak dan dua perunggu,” kata Husen.

Tahun ini, pihak sekolah telah menyiapkan sekitar 32 siswa yang akan berkompetisi pada tahap Olimpiade Sains Kabupaten/Kota (OSK) sebagai langkah awal menuju OSN. Target sekolah, kata dia, tetap sama yakni mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi yang telah diraih.

“Target kami minimal tetap bisa meraih medali emas. Mudah-mudahan tahun ini prestasinya bisa lebih baik,” ujarnya.

Mencatat kejutan

Disebutkan, beberapa bidang yang dinilai memiliki potensi kuat, seperti Fisika, Biologi dan Matematika. Namun pada tahun lalu, sekolah tersebut juga mencatat kejutan dengan meraih medali emas di bidang Kebumian.

Selain itu, bidang astronomi juga menjadi salah satu kekuatan sekolah, bahkan pernah mengantarkan siswa meraih medali emas pada kompetisi tingkat internasional.

“Tahun lalu kompetisi astronomi internasional berlangsung di India dan kami berhasil mendapatkan medali emas. Itu merupakan rekor pertama kami untuk medali emas internasional,” katanya.

Salah seorang siswa SMA Kesatuan Bangsa yang meraih prestasi gemilang adalah Billy Anand Khalifah, siswa kelas XII yang berhasil meraih medali emas bidang Kebumian pada OSN 2025. Billy menjelaskan, kompetisi tersebut memiliki beberapa tahapan pengujian yang menuntut kemampuan teori maupun praktik lapangan.

Banyak ilmu

Kompetisi OSN bidang kebumian tahun lalu diikuti sekitar 30 siswa dari seluruh Indonesia dan digelar di Malang. Billy mengaku bersyukur bisa meraih medali emas dan berharap dapat terus belajar serta mengikuti jejak para akademisi yang hadir dalam kegiatan tersebut.

“Saya berharap bisa mendapatkan banyak ilmu dari para profesor dan suatu saat bisa menjadi seperti mereka,” katanya.

General Manager Sekolah Kesatuan Bangsa, Vezir Ashyrnepesov, mengatakan kegiatan Iftar Gathering tersebut merupakan salah satu program penting yang diselenggarakan sekolah selama Ramadan.

Menurutnya, para siswa Olimpiade merupakan generasi muda dengan kecerdasan luar biasa yang perlu diarahkan agar dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat dan negara.“Menjadi siswa Olimpiade bukan hal mudah. Kecerdasan adalah anugerah dari Tuhan dan anugerah itu tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk melayani bangsa dan negara,” ujarnya.

Dialog ilmiah

Dia menilai salah satu cara terbaik untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan menempuh karier di dunia akademik, seperti menjadi dosen, peneliti, hingga profesor. Melalui dialog ilmiah yang digelar dalam suasana Ramadan tersebut, sekolah berharap para siswa dapat memperoleh inspirasi serta motivasi untuk melanjutkan pendidikan hingga jenjang tertinggi.

Selain itu, sekolah juga berencana membangun kerja sama akademik dengan berbagai universitas, termasuk membuka peluang bagi siswa Olimpiade untuk terlibat dalam penelitian dan penulisan artikel ilmiah bersama para profesor. “Kami ingin ada kerja sama antara profesor dan siswa Olimpiade untuk mengerjakan proyek ilmiah dan menulis artikel yang bisa dipublikasikan. Ini akan menjadi peluang besar bagi mereka,” katanya.

Pengajar Sekolah Kesatuan Bangsa, Eko Andi Hartono, menambahkan kegiatan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan generasi ilmuwan muda yang kelak mampu berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

"Harapannya akademisi dan profesor Indonesia masa depan berasal dari peraih medali olimpiade OSN," ungkapnya. (*)