Hanung Raharjo Ketua Umum PBVSI Bantul 2026-2030

Joko Purnomo berpesan pengadaan bola voli di bawah standar jangan terulang.

Hanung Raharjo Ketua Umum PBVSI Bantul 2026-2030
Peserta Muskab PBVSI Kabupaten Bantul tahun 2026. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, BANTUL -- Ketua Umum Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kabupaten Bantul periode 2022-2026, Joko Purnomo, menyampaikan laporan pertanggungjawaban (LPJ) dalam Musyawarah Kabupaten (Muskab) PBVSI di Warung Djujugan Grudosari Pundong Bantul, Sabtu (18/4/2026).

Muskab diikuti perwakilan dari 15 klub (dua klub absen), para pengurus PBVSI DIY dan Bantul. Secara aklamasi, peserta sepakat memilih Hanung Raharjo yang juga Ketua DPRD Bantul sebagai Ketua Umum PBVSI Bantul periode 2026-2030. "Saya menjabat ketua PBVSI sudah dua periode dan sekarang telah dipilih ketua yang baru," kata Joko.

Selama periode kepemimpinannya banyak program yang telah dilaksanakan. Di antaranya menumbuhkan iklim bola voli yang sehat, memudahkan berdirinya klub sehingga yang semula di Bantul 15 klub tumbuh menjadi 17.

PBVSI pada masa kepemimpinannya juga melakukan kegiatan pemassalan bola voli serta menyelenggarakan pertandingan bola voli tingkat kalurahan atau prokal.

Memberi ruang

Dari 75 kalurahan di Kabupaten Bantul sebanyak 59 kalurahan menggelar prokal. "Kenapa saya memudahkan untuk pendirian klub di Bantul?  Tujuannya memberi ruang bagi para atlet dan bibit-bibit pemain bola voli untuk memiliki tempat berlatih, mengasah dan mengembangkan kemampuannya," kata Joko.

Hanya saja ada satu catatan di periode kepemimpinannya yakni terkait pengadaan bola voli dan peralatan penunjang lain yang dibagikan untuk klub pada tahun 2023.

Saat itu, menurut Joko, juga ada anggaran Belanja APBD Bidang Sarpras Disdikpora pada angka Rp 200 juta-an untuk pengadaan alat dan bola voli yang dibagikan untuk klub di Kabupaten Bantul. Sayangnya bola yang diterima di bawah standar sehingga tidak digunakan oleh klub-klub tersebut untuk berlatih atau bertanding.

"Padahal anggarannya adalah bola voli berkualitas standar nasional. Namun pada kenyataannya bola voli yang diterima klub kualitasnya di bawah sehingga bola bantuan tidak digunakan. Saya berharap kejadian tersebut jangan sampai terulang pada masa yang akan datang," tandasnya. (*)