Guru Figur Terhormat, Anggota DPR RI Azis Subekti Ajak Masyarakat Belajar dari Sejarah Jepang
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pendidikan sebagai poros pembangunan bukan sekadar pelengkap.
KORANBERNAS.ID, PURWOREJO -- Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, mengajak masyarakat untuk belajar dari pengalaman Jepang. Sewaktu Hiroshima runtuh menjadi puing akibat ledakan bom atom, dunia seakan menyaksikan ambruknya nalar kemanusiaan.
Namun di tengah kehancuran yang nyaris total itu, Kaisar Hirohito justru mengajukan pertanyaan yang melampaui logika perang. Dia tidak meminta laporan tentang sisa kekuatan militer, tidak pula menghitung cadangan logistik, tetapi bertanya tentang guru berapa banyak yang masih hidup.
Bagi anggota Komisi II DPR RI itu, pertanyaan itu menandai sebuah kesadaran mendalam, masa depan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang tersisa dari peperangan, melainkan oleh siapa yang mampu menumbuhkan kembali akal dan karakter manusia.
"Keputusan Jepang pasca-perang adalah keputusan yang sunyi namun menentukan. Mereka tidak membangun kebangkitan melalui slogan, melainkan melalui kerja sistematis di ruang-ruang pendidikan. Sekolah dijadikan pusat pemulihan peradaban, guru ditempatkan sebagai figur terhormat. Proses belajar diarahkan membentuk disiplin, tanggung jawab serta ketekunan," ujar Azis Subekti melalui siaran pers, Selasa (3/2/2026).
Pelajaran penting
Menurutnya, hasil dari pilihan tersebut bukan sekadar kemajuan ekonomi tetapi transformasi kualitas manusia. Jepang tumbuh sebagai bangsa dengan tingkat literasi tinggi, kemampuan inovasi kuat dan etos kerja yang menjadi rujukan dunia. Semua itu berakar dari satu kesadaran awal, membangun manusia adalah prasyarat bagi kebangkitan bangsa.
"Sejarah Jepang memberi pelajaran penting, pendidikan tidak bekerja dalam bentuk janji melainkan melalui keberlanjutan tindakan. Mereka memastikan anak-anak tumbuh dengan gizi memadai, sekolah hingga komunitas paling dasar dan pengetahuan dapat diakses secara luas. Investasi ini membentuk daya tahan nasional yang membuat Jepang mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi, bencana alam dan perubahan global yang cepat," kata dia.
Jadi, lanjutnya, cermin sejarah tersebut kini relevan bagi Indonesia. Satu tahun terakhir di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, negara mulai menempatkan pendidikan sebagai poros pembangunan bukan sekadar sektor pelengkap.
Program makan bergizi bagi anak sekolah, santri pesantren, ibu hamil dan balita merupakan langkah mendasar yang berangkat dari fakta ilmiah. Kecerdasan tidak mungkin berkembang optimal tanpa pemenuhan gizi. Bangsa yang ingin maju harus terlebih dahulu memastikan generasinya tumbuh sehat secara fisik dan mental.
Perluasan akses
Menurut dia, langkah tersebut berjalan seiring dengan perluasan akses melalui peningkatan penerima beasiswa, agar pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa mereka yang mampu secara ekonomi.
“Perbaikan sekolah-sekolah yang rusak bukan hanya soal bangunan, melainkan pemulihan martabat ruang belajar. Di wilayah terpencil, pembangunan akses jalan dan infrastruktur dasar menegaskan bahwa kehadiran negara adalah syarat bagi pendidikan yang hidup,” tambahnya.
Sekolah rakyat berasrama gratis memberi harapan nyata bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk keluar dari lingkaran ketertinggalan, sementara pembangunan sekolah unggulan dan perluasan SMA berstandar nasional berkualitas menyiapkan generasi pemimpin dengan disiplin, karakter dan daya saing akademik.
Dia menyatakan, pada level pendidikan tinggi, kerja sama dengan universitas-universitas terkemuka di Inggris membuka jalur transfer pengetahuan dan standar global langsung ke dalam negeri, mempersempit jarak antara Indonesia dan pusat-pusat ilmu dunia.
Kerja nyata
"Rangkaian kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia sedang dijalankan sebagai kerja nyata bukan sekadar narasi. Negara mulai bekerja dari hulu, dari tubuh yang sehat, pikiran yang terasah dan lingkungan belajar yang layak,” ungkapnya.
“Pengalaman Jepang juga mengajarkan bahwa negara tidak pernah bekerja sendirian. Keberhasilan pendidikan lahir dari keterlibatan kolektif, guru yang berdedikasi, orang tua yang peduli, masyarakat yang menghargai ilmu dan dunia usaha yang memberi ruang bagi pengetahuan untuk tumbuh," lanjut anggota DPR RI dari Dapil VI Jawa Tengah (Jateng) meliputi Kabupaten Purworejo, Wonosobo, Temanggung dan Magelang itu.
Dia menambahkan di titik inilah kesadaran bersama perlu digugah. Tidak ada bangsa besar yang lahir tanpa kesediaan seluruh elemen masyarakat untuk mendidik generasinya.
“Pemerintah dapat membuka jalan, tetapi akal budi hanya akan berkembang bila kita semua ikut menumbuhkannya. Saatnya berhenti sekadar mengamati perubahan dan mulai mengambil peran di dalamnya. Dari rumah, sekolah, pesantren, kampus, hingga ruang publik, inilah momentum untuk bangkit bersama, membangun akal budi, menajamkan kecerdasan dan memastikan masa depan Indonesia ditopang oleh manusia yang berpikir jernih, berkarakter kuat dan bertanggung jawab pada bangsanya,” kata dia. (*)
Wahyu Nur Asmani EW
