Gebyar Budaya “Rasoura” UST Yogyakarta Pamerkan Puluhan Karya Boga & Busana Inovatif
Kegiatan ini, bukan semata-mata ajang pertunjukan seni, tetapi ruang pembelajaran autentik yang mencerminkan pendidikan berdampak
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA–Nuansa kekayaan budaya Nusantara terasa kental di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta. Ratusan pasang mata terpukau oleh deretan gaun megah dan inovasi kuliner unik dalam gelaran Gebyar Budaya Pagelaran Karya Cipta 2025 yang diinisiasi oleh Program Studi Pendidikan Vokasional Kesejahteraan Keluarga (PVKK) FKIP UST, baru-baru ini.
Mengusung tema besar “Rasoura”, ajang tahunan ini menjadi panggung pembuktian bagi mahasiswa jurusan Boga dan Busana dalam mentransformasikan wastra Nusantara serta bahan pangan lokal menjadi karya bernilai jual tinggi.
Rektor UST Yogyakarta Prof Drs H Pardimin M.Pd, Ph.D dalam sambutannya menyatakan kekaguman atas terselenggaranya acara ini. Menurutnya, tema "Rasoura" bukan sekadar tajuk, melainkan perpaduan kekuatan cipta, rasa, dan karsa yang menjadi landasan kreativitas manusia seutuhnya.
“Saya memandang kegiatan ini bukan semata-mata ajang pertunjukan seni, tetapi ruang pembelajaran autentik yang mencerminkan pendidikan berdampak,” tegas Rektor UST.
Ia menambahkan bahwa setiap karya yang ditampilkan lahir dari kedalaman perasaan dan tekad kuat untuk memberikan manfaat bagi sesama, membuktikan mahasiswa UST menguasai kompetensi abad 21 seperti berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Senada, Wakil Rektor 1 UST, Dr. Yuli Prihatin, M.Pd, menekankan bahwa even ini merupakan ajang uji kompetensi nyata.
“Mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan intelektual, tapi juga karya. Ini adalah wahana kebermanfaatan, sebab tantangan ke depan tidak semua lulusan menjadi pegawai, justru banyak yang akan menjadi wirausahawan di bidang boga dan busana,” jelasnya.
Wastra Nusantara dan Inovasi Kuliner Asia
Kaprodi PVKK UST, Dr. Anggri Sekar Sari, M.Pd, menjelaskan bahwa tahun ini Gebyar Budaya menampilkan 53 karya busana bertema “Swarnadwipa” (Pulau Emas) dan 27 karya boga bertema “Sthaniya Asiya”.
“Keunggulan karya mahasiswa kali ini terletak pada penggunaan bahan lokal wastra Nusantara yang diolah menjadi gala gown anggun dengan ornamen seni tinggi. Sementara di bidang boga, mahasiswa mengangkat cita rasa Asia melalui pemanfaatan bahan lokal Indonesia yang tinggi gizi dan nilai budaya,” papar Anggri.
Dosen UST Yogyakarta meraih penghargaan dalam Gebyar Budaya Pagelaran Karya Cipta 2025. (istimewa)
Menariknya, mahasiswa PVKK yang berasal dari Sabang sampai Merauke ini membawa keunggulan daerah masing-masing untuk dituangkan dalam karya. Prosesnya pun tidak main-main, karya boga telah melewati tahap penjurian ketat sebelumnya, sementara karya busana dinilai langsung saat acara oleh dewan juri yang terdiri dari akademisi, praktisi industri, dan pakar di bidangnya.
Selaras dengan Asta Cita Presiden
Lebih lanjut, Anggri menyebutkan bahwa kegiatan ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam hal pelestarian budaya bangsa agar tidak tergerus oleh budaya asing. Melalui ajaran Tamansiswa yang menerapkan konsep Tri-Kon (Kontinyu, Konvergen, Konsentris), mahasiswa diajak untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
“Luaran dari agenda rutin ini adalah menghasilkan alumni yang adaptif dan transformatif. Meskipun orientasi lulusan kami ada yang menjadi guru, namun tidak sedikit yang terjun ke industri atau sukses menjadi wirausahawan mandiri,” tutup Anggri.
Gebyar Budaya “Rasoura” diharapkan menjadi model pembelajaran yang mampu mengangkat kearifan lokal Indonesia ke kancah dunia, sekaligus membuktikan bahwa produk inovatif berbasis potensi daerah memiliki daya saing yang luar biasa di pasar global.
Setelah dilakukan penilaian, juara 1 untuk busana dalam Gebyar Budaya kali ini adalah Nadia Aurora Faliana Effendi. Disusul kemudian Izza Aulia Ramadhanti (2), Syelvi Ariwijaya (3) dan Putri Erawati (favorit). Sedangkan untuk Boga, juara 1 adalah Rati Mahardia, Juara 2 Utaminingsih, Juara 3 Destri Amalia dan Alfiyah Nurul Hayati juara Favorit.
“Melalui setiap karya yang ditampilkan, kita diingatkan bahwa menjaga, menghargai, dan mengangkat kain nusantara bukan sekadar pilihan estetika, melainkan tanggung jawab budaya untuk merawat jati diri bangsa dan mewariskannya kepada generasi mendatang di panggung dunia,” ujar Enggar Kartikasari, S,Pd., M.Pd selaku dosen pembimbing Tata Busana. (*)
Siaran Pers
