Filmmaker Asal Hong Kong Jadi Narasumber Diskusi di JAFF
Kami harus menemukan suara baru tanpa meninggalkan akar budaya.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- JAFF 20 memperluas jangkauan dialog sinema Asia melalui Forum Komunitas yang menghadirkan empat filmmaker asal Hong Kong. Sesi ini paling padat peserta karena membuka peluang mendengar langsung praktik produksi, dinamika industri hingga kisah-kisah kerja kreatif yang jarang terungkap dari salah satu pusat perfilman terbesar di Asia.
Empat narasumber tersebut adalah Man Lim Chung sebagai perancang produksi pemenang berbagai penghargaan, Mandrew Kwan selaku sutradara dan pengajar di Hong Kong Academy for Performing Arts, Quist Tsang sebagai fotografer stills dari berbagai film dan studio ternama serta Ivan Cheung selaku sutradara film pendek yang aktif di jaringan festival internasional.
Dalam sesi tersebut, keempat pembicara membuka diskusi dengan berbagi pengalaman tentang cara kerja industri film Hong Kong yang dikenal cepat, efisien dan sangat kolaboratif. Mereka juga menjelaskan perubahan-perubahan signifikan yang terjadi dalam satu dekade terakhir.
Man Lim Chung menyatakan pentingnya disiplin visual sejak tahap awal. “Di Hong Kong, perancang produksi tidak hanya bicara estetika, tetapi cara membangun ruang cerita. Kami harus bisa menerjemahkan visi sutradara dalam waktu yang sering kali sangat ketat," ujarnya, Senin (1/12/2025), di LPP Convention Yogyakarta.
Tradisi panjang
Sementara itu, Mandrew Kwan mengungkapkan bagaimana generasi baru filmmaker Hong Kong berupaya mempertahankan identitas sinemanya.
“Kami tumbuh dengan tradisi panjang film Hong Kong, tetapi kini harus berhadapan dengan pasar yang berubah cepat. Tidak cukup hanya membuat film bagus, kami harus menemukan suara baru tanpa meninggalkan akar budaya," kata dia.
Quist Tsang berbagi cerita mengenai pengalamannya menangkap momen-momen penting selama proses produksi, termasuk bagaimana foto stills menjadi elemen strategis dalam pemasaran film.
“Kadang satu foto bisa menentukan persepsi penonton sebelum film dirilis. Tantangannya adalah menangkap emosi yang mungkin tidak terlihat di kamera utama," ujarnya.
Ruang kecil
Sementara itu, Ivan Cheung menyoroti peran film pendek sebagai laboratorium ide di Hong Kong.
“Bagi banyak pembuat film muda, film pendek adalah ruang untuk bereksperimen. Kami bisa mengambil risiko tanpa tekanan besar. Dari ruang kecil itu sering lahir peluang internasional," tambahnya.
Forum Komunitas JAFF 20 ini menjadi ruang penting bagi sinema Indonesia untuk membuka dialog lebih luas dengan industri Hong Kong yang telah lama menjadi rujukan teknik, estetika, dan sistem produksinya di Asia.
Peserta dari berbagai komunitas film pun memanfaatkan sesi tanya jawab untuk menggali peluang kolaborasi.
Jaringan kreatif
Menurut penyelenggara, forum ini dirancang agar komunitas film Indonesia dapat memahami langsung kondisi industri di luar negeri, sekaligus melihat potensi pertukaran pengetahuan dan jaringan kreatif antarnegara.
“Kami ingin JAFF menjadi tempat belajar lintas budaya yang nyata, bukan sekadar perayaan film,” ujar salah seorang koordinator program.
Dengan antusiasme peserta yang tinggi, forum ini mempertegas posisi JAFF 20 sebagai festival yang tidak hanya memutar film, tetapi juga memperkuat relasi kreatif Asia melalui diskusi, kolaborasi dan pertukaran pengalaman. (*)
Muhammad Zukhronnee Muslim
