DPRD DIY Mengingatkan Keselamatan Wisatawan Jadi Prioritas
Diprediksi curah hujan wilayah DIY Desember 2025 kriteria menengah-tinggi, berkisar 150-400 mm.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, mengingatkan jajaran Pemda DIY untuk memprioritaskan keselamatan wisatawan, sehubungan dengan datangnya momentum wisata akhir tahun di tengah kondisi cuaca ekstrem.
Ini disampaikan Andriana Wulandari saat membuka Diskusi Forum Wartawan Unit DPRD DIY dengan tema Pariwisata Akhir Tahun di Tengah Cuaca Ekstrem, Rabu (3/12/2025), di DPRD DIY. "Yang terpenting adalah bagaimana wisatawan aman dan nyaman saat berwisata di Yogyakarta,” ungkapnya.
Seluruh pemangku kepentingan, lanjut dia, perlu meningkatkan koordinasi menjelang liburan akhir tahun termasuk mengingatkan wisatawan supaya taat imbauan saat berada di lokasi pariwisata.
Dengan begitu wisatawan tetap nyaman, pelaku pariwisata memperoleh manfaat dan kewaspadaan terhadap ancaman kebencanaan tetap terjaga.
Peta kawasan destinasi wisata rawan longsor. (istimewa)
Sekretaris Dinas Pariwisata DIY, Lis Dwi Rahmawati, selaku narasumber diskusi menyampaikan pihaknya bekerja sama dengan berbagai instansi termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY sudah memetakan kawasan destinasi wisata rawan longsor.
Ini penting mengingat perkembangan kondisi hidrometeorologi di DIY yang juga perlu diwaspadai. Merujuk data BMKG, prediksi curah hujan di wilayah DIY Desember 2025 berada pada kriteria menengah-tinggi, dengan curah hujan berkisar 150-400 mm.
Menurut dia, kawasan destinasi wisata yang perlu diwaspadai adalah Nglinggo-Tritis, Puncak Widosari, Puncak Suroloyo, Sendangsono, Embung Tonogoro, Desa Wisata Tinalah, Desa Wisata Jatimulyo, Tumpeng Menoreh (Magelang) akses masuk lewat DIY.
Kemudian, Nglanggeran, Goa Pindul, Kalisuci, Air terjun Srigethuk, Goa Jomblang maupun Desa Wisata Wukirsari, Mangunan (Becici, Pengger), Imogiri, HeHa Sky View, Bukit Bintang.
Mitigasi dan edukasi
Diperkirakan, jumlah wisatawan yang masuk DIY pada Desember 2025 sebesar 4,6 juta orang atau meningkat sebesar 23 persen dibandingkan Desember 2024). “Proporsi terbesar wisatawan mengunjungi destinasi wisata di Sleman, yaitu sebesar 37,45 persen,” ungkapnya.
Narasumber lainnya, Dosen Prodi Bisnis Perjalanan Wisata Sekolah Vokasi UGM yang juga Mahasiswa Doktor Kajian Pariwisata Sekolah Pascasarjana UGM, Ghifari Yuristiadhi M Makhasi, antara lain menjelaskan pentingnya mitigasi dan edukasi terhadap wisatawan agar selalu beradaptasi dan mematuhi imbauan BMKG. “Kayaknya, mohon maaf, kultur kita masih ngeyel ketika sudah diberitahu masih nekat,” katanya.
Pemerintah dan industri wisata juga perlu melakukan langkah antisipasi. Mitigasi penting dilakukan dan wisatawan perlu diberi rekomendasi yang jelas agar tetap aman. Misalnya, lewat pembatasan jumlah wisatawan di area rawan atau mencari alternatif destinasi yang lebih aman.
Pemda DIY, lanjut dia, juga perlu memikirkan langkah substitusi. Contohnya, mengganti aktivitas outdoor dengan wisata indoor (museum, kuliner, workshop budaya). Sehingga, aktivitas wisata tetap berjalan tanpa risiko cuaca.
Tangguh bencana
Dia juga mengingatkan kewaspadaan terhadap kondisi Gunung Merapi juga tidak boleh diabaikan. “Gunakan data dari BMKG dan BPBD DIY untuk menginformasikan prakiraan cuaca kepada pelaku wisata, penginapan, operator transportasi, serta publik/wisatawan,” katanya.
Ke depan, perlu dipikirkan potensi pengembangan wisata “tangguh-bencana” (indoor, budaya, edukasi, komunitas) sebagai alternatif untuk wisata tradisional alam/outdoor. (*)
---
