DPRD DIY Mengingatkan Generasi Muda Perlu Belajar Sejarah

Perlu langkah yang strategis dalam rangka proses pendidikan dan meneguhkan karakter kebangsaan.

DPRD DIY Mengingatkan Generasi Muda Perlu Belajar Sejarah
Penerimaan kunjungan DPRD DIY di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon, Senin (17/2/2028). (sholihul hadi/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, CIREBON -- Komisi A DPRD DIY bersama awak media melaksanakan kegiatan kunjungan ke Cirebon Jawa Barat. Ini merupakan langkah yang strategis dalam rangka proses pendidikan dan meneguhkan karakter kebangsaan.

Selain itu, juga untuk mengingatkan generasi muda mengenai perlunya belajar sejarah tidak hanya dari buku-buku melainkan datang langsung ke tempat-tempat bersejarah.

"Tanpa mengerti sejarah, sulit untuk memahami Pancasila," ungkap Eko Suwanto, saat berkunjung ke Masjid Sunan Gunung Djati Cirebon, Senin (17/2/2025).

Didampingi Wakil Ketua DPRD DIY, Umaruddin Masdar, lebih lanjut dia menyampaikan kunjungan kali ini merupakan rangkaian dari kegiatan sinau Pancasila.

Kunjungan DPRD DIY ke Masjid Sunan Gunung Djati Cirebon. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Eko Suwanto menyatakan, di Cirebon salah satu pelajaran  yang penting adalah bagaimana pemerintah harus memberi perhatian pada tiga aspek.

"Ilmu pengetahuan harus diikuti dengan riset agar naskahnya otentik. Kedua, soal pentingnya pembangunan museum. Ketiga, perlu dibuat film atau buku yang dipublikasikan," ujarnya.

Menurut dia, Pemda DIY ke depan perlu menguatkan kerja sama dengan banyak pihak guna merealisasikan sinau Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. "Di Cirebon kita melihat langsung bagaimana kerukunan dan budaya hadir dalam kehidupan masyarakat," kata Eko Suwanto.

Dia menambahkan, upaya pembatinan rasa cinta tanah air bisa dijalankan dengan memberikan pemahaman sejarah budaya bangsa Indonesia lewat berkunjung ke museum dan situs-situs bersejarah.

Prasasti pemberian nama Masjid Sunan Gunung Djati Cirebon. (sholihul hadi/koranbernas.id)

"Ada yang luar biasa, kalau menengok kembali apa yang dilakukan oleh Presiden Soekarno di Cirebon. Kita bisa telusuri warisan beliau, bagaimana menghadirkan Masjid Sunan Gunung Djati di Cirebon dan latar sejarahnya perlu kita gali bersama," kata anggota dewan dari Fraksi PDI Perjuangan itu.

Dalam sejarahnya, lanjutnya, relasi Bung Karno dengan Islam dan budaya cukup besar. Pernah ada diskusi dengan pemimpin Soviet serta kunjungan ke makam Imam Bukhari.

"Kalau di Yogyakarta ada Masjid Syuhada. Bung Karno memiliki catatan sejarah besar bagi budaya dan sejarah. Inilah nilai penghormatan dan memperkokoh bagaimana Islam berdampingan dengan yang lain. Ke depan Pemda DIY perlu mengembangkan museum untuk menyampaikan pendidikan kepada penerus bangsa," kata Eko Suwanto.

Umaruddin Masdar menambahkan keberadaan Masjid Sunan Gunung Djati yang pernah dipakai beribadah oleh Bung Karno menjadi pesan penting menyatunya agama, nasionalisme dan budaya.

Masjid Sunan Gunung Djati Kota Cirebon. (sholihul hadi/koranbernas.id)

"Bung Karno dengan nasionalisme menyatukan agama dan kebudayaan. Pak Karno selalu pakai pakaian adat Cirebon kalau ke Masjid Sunan Gunung Djati ini," ujarnya.

Cirebon, lanjut dia, dipilih sebagai lokasi kunjungan karena memiliki histori yang kuat kaitannya dengan nilai-nilai kebangsaan sekaligus menguatkan fondasi kebangsaan di tengah gempuran nilai-nilai budaya dari luar yang begitu masif.

Dari kunjungan tersebut, Wakil rakyat dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini sepakat DPRD DIY perlu terus berkomunikasi dengan Dinas Kebudayaan DIY untuk merawat dan memfasilitasi kaum muda agar belajar sejarah.

Di tempat yang sama, budayawan sekaligus sejarawan Cirebon, Jajat Sudrajat, menjelaskan seputar sejarah berdirinya Masjid Sunan Gunung Djati yang merupakan salah satu kebanggaan masyarakat di kota itu.

Kepala Disbudpar Kota Cirebon, Agus Sumanjaya. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Didampingi H Satori dari DKM (Dewan Kemakmuran Masjid), Jajat mengungkapkan pada tahun 1960 Presiden Soekarno saat di Cirebon pernah berdialog dengan masyarakat, kemudian memberi nama Masjid Sunan Gunung Djati sebagai penghormatan didirikannya masjid yang tanahnya merupakan wakaf R Hj Siti Garmini Sarojo.

Pada masjid itu pula terpasang prasasti yang menerangkan pemberian nama masjid tersebut oleh presiden pertama Republik Indonesia.

Menurut Jajat, waktu itu pada 17 Agustus 1960 Garmini sebagai tokoh perempuan Nahdlatul Ulama (NU) yang juga istri dari Sultan Hasanuddin keempat dari Keraton Kanoman Cirebon mewakafkan lahan sekitar 500 meter persegi untuk pembangunan masjid.

Disebutkan, Masjid Sunan Gunung Djati yang terletak di Jalan Kesambi Kecamatan Kesambi itu menyimpan kisah yang menggambarkan sisi religiusitas Soekarno. lahan tempat berdirinya masjid tersebut merupakan area persawahan.

Jangan dilupakan

Jajat mengingatkan catatan sejarah dan budaya jangan dilupakan oleh generasi hari ini sebab Presiden Soekarno telah memberikan perhatian terhadap sejarah, budaya dan agama. "Jadi jangan ajari toleransi orang Cirebon, karena sudah lama kami menjalankan," katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, Agus Sumanjaya, memberikan apresiasi atas kunjungan DPRD DIY. Antara Cirebon dan Yogyakarta secara kultural ada kemiripan. Inilah yang dijadikan sebagai rujukan bagi pengembangan kebudayaan dan pariwisata.

"Warisan budaya merupakan modal penting sebagai lokomotif pariwisata. Konsepnya adalah pariwisata berbasis kebudayaan," ujarnya didampingi jajarannya saat penerimaan kunjungan DPRD DIY di Kantor Disbudpar Kota Cirebon.

Melalui kunjungan ini Agus menyampaikan pihaknya membuka ruang seluas-luasnya bagi aktivitas kebudayaan dan pariwisata mengingat adanya koneksi budaya antara Yogyakarta dan Kota Cirebon. Harapannya ke depan lebih banyak lagi kolaborasi demi kemajuan sektor kebudayaan dan pariwisata.

Pemerintahan

Kunjungan kali ini juga diikuti Wakil Ketua Komisi A Hifni Muhammad Nasikh beserta anggota komisi yang membidangi pemerintahan.

Mereka adalah Yuni Satia Rahayu, D Radjut Sukasworo, Akhid Nuryati, Purwanto, Didik Kuswanto, Sigit Nursyam Priyanto, Sofyan Setyo Darmawan, Arif Kurniawan dan Stevanus Christian Handoko.

Turut mendampingi, Sekretaris DPRD DIY Yudi Ismono maupun Kabag Humas dan Protokol, Marlina Handayani beserta jajarannya. (*)