Daya Beli Masyarakat Menjadi Tantangan Bisnis BKK Kebumen
bisnis BPR BKK Kebumen, snagat dipengaruhi oleh penurunan daya beli masyarakat
KORANBERNAS.ID, KEBUMEN--Daya beli masyarakat menjadi tantangan tersendiri bisnis BPR BKK Kebumen. Daya beli yang berkurang, otomatis mempengaruhi permintaan pinjaman modal dari para pelaku UMKM yang menjadi nasabah loyal BKK.
Direktur Kepatuhan BPR BKK Kebumen yang juga Pelaksana Tugas Dirut BPR BKK Kebumen Dr Sudihadi SH MH pada acara Penguatan Sinergitas Wartawan Kebumen, Senin (9/3/2026) mengungkapkan, daya beli masyarakat menurun disebabkan harga sejumlah kebutuhan masyarakat naik menjelang Idul Fitri 2026 ini.
Kondisi ini mempengaruhi UMKM untuk menambah permodalan, tidak setinggi ketika daya beli masyarakat relatif baik.
“Kami berikhitiar terus,” kata Sudihadi yang didampingi Direktur Pemasaran BPR BKK Duhita Paramita Ayu, SH.
Calon kuat Direktur Utama BPR BKK ini menambahkan, program MBG sebenarnya potensi pasar yang cukup baik. Pelaku usaha yang memenuhi kebutuhan bahan pangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPT) sebenarnya potensi pasar yang baik. Karena pertimbangan tertentu, potensi pasar ini belum menjadi prioritas digarap.
“Risikonya tinggi,” kata Sudihadi.
Sudihadi mengatakan, publikasi melalui media salah satu program yang akan terus dikembangkan. Peran strategis media, menjadi salah satu pertimbangan publikasi melalui media, akan ditingkatkan frekuensinya. Misalnya penyebarluasan kegiatan produksi BKK Kebumen.
Pengamatan koranbernas.id di Pasar Tumenggungan, khususnya di los pakaian, Senin (9/3/2026) menunjukkan jumlah konsumennya belum sebaik konsumen di retail modern. Jumlah pembeli lebih sedikit dibandingkan jumlah pedagang pakaian yang menempati lantai 2 pasar terbesar di Kota Kebumen.
“Dibandingkan tahun lalu, sekarang sedikit lebih baik,” ujar Farhan, salah seorang pedagang pakaian. (*)
Nanang W Hartono
