Dari Saron ke Sound Horeg, Gamelan akan Terus Relevan

Yogyakarta tidak akan kehilangan jati diri selama generasi mudanya masih memukul saron, meniup suling, dan menggema bersama gong.

Dari Saron ke Sound Horeg, Gamelan akan Terus Relevan
Pembukaan Yogyakarta Gamelan Festival di Taman Budaya Embung Giwangan. (muhammad zukhronnee muslim/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di bawah langit sore Embung Giwangan yang mulai merona, suara gamelan menggema penuh semarak, seolah mengajak siapa pun yang datang masuk ruang waktu. Hari ini bukan hari biasa bagi para pecinta budaya di Yogyakarta bahkan dunia.

Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) resmi digelar untuk yang ke-30 kalinya, menandai tiga dekade perjalanan menjaga nyala api tradisi, sekaligus 25 tahun kiprah Komunitas Gayam 16, salah satu komunitas gamelan paling aktif di Indonesia.

Yang istimewa bukan sekadar angka tahunan atau seremonial rutin. Bagi Ishari Sahida atau lebih dikenal sebagai Sir Ari Wulu selaku Direktur YGF, keistimewaan YGF ke-30 justru terletak pada niat kolektif yang tak pernah padam dari tahun ke tahun.

"Sebenarnya kalau YGF tidak ada, ya hidup tetap berjalan. Kita masih harus nyekolahke anak, bayar cicilan, mancing sama teman. Tapi yang luar biasa adalah semangat bersama untuk tetap menghadirkannya," ucap Ari Wulu saat membuka festival, Senin (21/7/2025).

Tidak harfiah

Yang membuat YGF ke-30 unik adalah bagaimana gamelan tidak melulu ditampilkan secara harfiah. Festival ini justru membuka ruang bagi anak-anak muda bentuk ekspresinya sendiri. Salah satunya adalah program Simak Siar yang akan tampil di panggung utama pada 24 Juli.

"Anak muda nanti main musik rock, pop, tanpa gamelan. Tapi ini bagian dari semangat YGF. Kita beri ruang, dan mereka merespons," ujar Ari.

Lebih dari itu, seni visual juga mengambil peran penting. Sebanyak 15 visual artist dari berbagai daerah merespons 15 komposisi gamelan karya para maestro, seperti Ki Narto Sabdo, Hari Rusli, dan I Wayan Sadra, melalui pertunjukan video mapping ke dinding Gedung Graha Budaya Embung Giwangan.

“Gamelan bisa masuk ke ruang mana pun. Bahkan ruang-ruang yang hari ini dikuasai sound horeg,” kata Ari, menyinggung kerasnya realita budaya populer.

Sebagai spirit

Dari sejak pertama digelar tahun 1995 oleh Sapto Raharjo bersama pendengar setia salah satu radio swasta di Yogyakarta Geronimo Listener Club (GLC), hingga dihidupkan kembali dan dirawat oleh Gayam 16 sejak 2000, YGF berkembang menjadi festival musik lintas zaman dan lintas batas. Di tangan anak-anak muda Gayam 16, gamelan tidak membatu sebagai pusaka museum, tapi hidup sebagai spirit.

“Gamelan itu bukan benda, tapi jiwa. Spirit. Instrumen hanyalah medianya,” begitu pesan Sapto Raharjo yang dikutip kembali dalam sambutan Sri Sultan Hamengku Buwono X dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Dian Laksmi Pratiwi.

Semangat itu menjelma dalam tiga gendhing pembuka yang dimainkan lebih dari 400 pengrawit dari seantero DIY yaitu Gendhing Ladrang Wirangrong (Laras Pelog Pathet Nem), Gendhing Ladrang Prosesi (Laras Pelog) dan Gendhing Mars YGF (Laras Pelog Barang).

Komposisi-komposisi itu bukan hanya memperdengarkan musik, tapi menjadi simbol dari perjalanan panjang, kerja bersama dan regenerasi yang nyata.

Masa depan

Lebih dari festival musik, YGF adalah ruang bertemu antara tua dan muda, tradisi dan inovasi, lokal dan global. Gamelan di tangan generasi muda bukanlah benda mati yang tinggal dikenang, melainkan medium untuk mencipta masa depan.

Dalam dunia yang makin gaduh dan individualistik, gamelan sebagai pengingat akan harmoni, kolektivitas dan kesadaran ruang.

“Yogyakarta tidak akan kehilangan jati diri selama generasi mudanya masih memukul saron, meniup suling, dan menggema bersama gong,” kata Sultan HB X dalam sambutannya.

Festival ini tak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga ekosistem ekonomi. Di belakang panggung, deretan tenda UMKM kuliner. Inilah wajah ekonomi kreatif berbasis budaya yang menjadi kekuatan Yogyakarta selama ini.

Luar biasa

“Kita bisa lihat, ekonomi mikro bergerak karena budaya bergerak. Inilah bukti ekosistem kebudayaan kita di DIY sudah luar biasa,” kata KPH Purbodiningrat, Penasihat Jogja Festivals.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X,  Manggar Sari Ayuati SS MA, menyebut YGF sebagai ajang regenerasi budaya yang patut dibanggakan. "Saya bangga lihat anak-anak muda tampil. Ini luar biasa. Sudah 50 negara terlibat dalam sejarah YGF, gamelan sudah menjadi milik dunia," tandasnya. (*)