Dari Budaya Tumbuh Wirausaha, GKR Mangkubumi: Sugih tanpa Bandha
Kewirausahaan di Yogyakarta penuh makna, tidak semata-mata berorientasi materi tetapi teguh menjaga eksistensi budaya.
KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA – Produk budaya bukan sebatas tari atau tembang. Lebih dari itu, budaya mampu menumbuhkan wirausaha di masyarakat. Inilah keunikan, kekuatan sekaligus keunggulan Yogyakarta sebagai pusat budaya Jawa yang terbukti mampu menggugah semangat masyarakat untuk menekuni wirausaha.
Berangkat dari budaya pula, salah satu lembaga sosial yang berpengaruh di Indonesia, Dompet Dhuafa, tertarik mengupas seluk beluk budaya Yogyakarta melalui gelaran Forum Grup Diskusi (FGD) Budaya dan Pemberdayaan #2.
Diskusi bertema Keswadayaan Lokal dan Etos Kewirausahaan itu berlangsung sehari penuh, pagi sampai sore, Rabu (24/7/2024), di Grand Rohan Jogja. Tak tanggung-tanggung, sejumlah tokoh penting diundang pada kegiatan hasil kolaborasi dengan Bina Trubus Swadaya itu.
Mereka adalah GKR Mangkubumi selaku Penjaga Inti Kebudayaan Keraton Yogyakarta dan Kepala BKKBN yang pernah menjabat Bupati Kulonprogo 2011-2019, Dr (HC) dr Hasto Wardoyo Sp OG(K). Ada juga Pakar Ekonomi Perkotaan UI Komara Djaja Ph D, Pendiri KSPPS Beringharjo Mursida Rambe, Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Muhammad Jazir Asp.
Kemudian, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM yang juga Pakar Sejarah Ekonomi Prof Dr Bambang Purwanto, Dr Ir Mahditia Paramita M Sc (CEO masterplandesa.com, HRC Caritra Foundation), Rahmawati Husein MCP Ph D (Dewan Pakar MDMC, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana PP Aisyiyah).
GKR Mangkubumi disambut penari Edan-edanan saat menghadiri diskusi Budaya dan Pemberdayaan #2 yang diselenggarakan Dompet Dhuafa. (sholihul hadi/koranbernas.id)
Menariknya, diskusi kali ini juga mengundang tokoh-tokoh lokal yang ternyata mampu menginspirasi sekaligus menggerakkan masyarakat untuk berwirausaha. Sebut saja Wahyudi Anggoro Hadi (Kepala Desa Panggungharjo Bantul), Sugeng Handoko selaku Penggerak Desa Wisata Nglanggeran, Santi Zaidan (MC, Owner Santi Galeri Kebaya, Dosen STIE SBI) maupun Andhika Mahardika sebagai Pendiri dan Pemilik Agradaya.
Sebagai Keynote Speaker, Ahmad Juwaini (Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa) dan Bayu Krisnamurthi (Direktur Utama Perum Bulog). Hadir pula Rahmad Riyadi selaku Ketua Dewan Pengawas Dompet Dhuafa serta Otok S Pamuji sebagai Pengurus YBTS.
Saat membacakan sambutannya, GKR Mangkubumi yang bertugas mewakili Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta antara lain menyampaikan seputar substansi budaya Yogyakarta yang telah mengakar begitu kuat dan memilki nilai strategis.
Budaya, menurut Gusti Mangku, mengajarkan masyarakat untuk senantiasa kreatif dan inovatif namun demikian tidak melupakan falsafah leluhur: Sugih tanpa bandha. Inilah yang menjadikan kewirausahaan di Yogyakarta penuh makna, tidak hanya semata-mata berorientasi materi tetapi juga teguh menjaga eksistensi budaya.
Menyikapi perkembangan teknologi informasi, GKR Mangkubumi menyampaikan perlunya penggunaan serta penguasaan teknologi itu untuk memperkuat kewirausahaan.
Mampu bersaing
Ini dimaksudkan agar kewirausahaan berbasis budaya terus berkembang dan mampu bersaing pada era digital. “Teknologi informasi memungkinkan kita menjangkau pasar yang lebih luas, meningkatkan efisiensi serta mengoptimalkan potensi,” ujarnya.
Dipandu MC Abuddzar Muhammad Iqbal, dalam kesempatan itu Ketua Dewan Pengawas Dompet Dhuafa Rahmad Riyadi sepakat meski menghadapi banyak tantangan akan tetapi upaya mengembangkan kewirausahaan jangan sampai kalah gengsi dengan profesi-profesi lain yang menerima gaji.
Dia pun berharap diskusi di Yogyakarta kali ini mampu menggali potensi budaya untuk menggelorakan semangat berwirausaha. Harapan ini selaras dengan pemikiran Parni Hadi selaku Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa saat menyampaikan sambutannya secara virtual.
Inisiator Maklumat Gerakan Kebudayaan yang dideklarasikan di Cibinong Bogor Jawa Barat 6 Juni 2024 itu mengakui Yogyakarta merupakan tempat munculnya ide pendirian Dompet Dhuafa.
Sedangkan Ketua Dewan Pengurus Dompet Dhuafa Juwaini menyatakan bagaimana pun budaya butuh revitalisasi yang dampaknya bisa memperbaiki wirausaha. Caranya antara lain menjauhi sikap tidak jujur, egois, curang atau bahkan menjual bangsa untuk kepentingan asing.
Banyak contoh
Disebutkan, ada banyak contoh praktik program pemberdayaan yang dilakukan Dompet Dhuafa melalui pendekatan budaya selama ini. Satu di antaranya yaitu pemberdayaan kelompok pembatik di Imogiri Bantul. Dari hampir seribuan pembatik di kawasan itu setidaknya sudah 40 orang yang bergabung.
Para perempuan pembatik tidak hanya mewariskan budaya dan tradisi tetapi juga produktif. Strata sosialnya terangkat. Jika sebelumnya di antara keluarganya hanya berpendidikan SD dan SMP saat ini sudah banyak keluarga pembatik yang memiliki anak-anak bergelar sarjana. (*)