Budaya Dianggap Hanya sebagai Keris di Balik Kaca Museum

Mulai 20 Desember hingga 28 Desember 2025, pameran bertajuk "SUARA Indonesia!" digelar di GIK UGM.

Budaya Dianggap Hanya sebagai Keris di Balik Kaca Museum
Pembukaan pameran Suara Indonesia di Galeri Bulaksumur GIK UGM. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pernahkah merasa kata "kebudayaan" terdengar begitu berat, tua dan berjarak? Seringkali, budaya dianggap hanya sebagai keris di balik kaca museum yang dingin atau tarian sakral yang tak boleh disentuh.

Persepsi itu mungkin berubah total saat mengunjungi Galeri Bulaksumur di GIK UGM. Mulai 20 Desember hingga 28 Desember 2025, sebuah pameran bertajuk SUARA Indonesia! sedang digelar. Pameran ini tidak hening. Di sini, kebudayaan sedang "berbicara", bernyanyi bahkan bermain game.

Saat melangkah masuk, pengunjung tidak akan disuguhi deretan teks sejarah yang membosankan. Pameran ini dirancang sebagai sebuah perjalanan rasa.Tujuannya sederhana yaitu sebagai pengingat budaya bukanlah fosil masa lalu. Budaya adalah apa yang dilakukan hari ini, diperdebatkan maupun diimpikan.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, lewat tayangan video saat membuka pameran, Sabtu (20/12/2025), menyebutkan momen ini sebagai titik penting. "Merawat budaya itu seperti lari estafet. Pemerintah tidak bisa lari sendirian. Butuh kita semua, komunitas, seniman, anak muda, untuk ikut ambil bagian," ujarnya.

Kehidupan keseharian

Yang membuat pameran ini terasa "hidup" adalah karya-karyanya yang menyentuh kehidupan keseharian.

Pada sudut Irama Nusantara pengunjung akan dibawa hanyut ke masa lalu lewat instalasi Dari Ngak Ngik Ngok ke Dheg Dheg Plas.

Terdengar lagu-lagu tahun 60-an, bukan sekadar sebagai musik, tapi sebagai suara perlawanan dan identitas di tengah transisi politik yang keras saat itu. Rasanya seperti membuka album kenangan kakek-nenek dan menemukan mereka pernah muda dan "berontak".

Lalu, ada kejutan dari MIVUBI. Jika ada pemikiran galeri seni itu anti-teknologi maka perlu dipikirkan lagi. Mereka memamerkan RAMpogan Arena, sebuah permainan digital (game) berlatar Benteng Belgica.

Diajak merenung

Di sini, pengunjung diajak bermain sekaligus merenung tentang bagaimana kekuasaan dan sejarah kekerasan diwariskan. Ternyata, memegang joystick pun bisa menjadi cara kita memaknai budaya.

Tak ketinggalan, Gegerboyo mengajak pengunjung melihat Yogyakarta dengan cara lain, bukan hanya sebagai kota wisata tapi sebagai ruang hidup yang punya nyawa.

Sementara itu, Umi Lestari menyuarakan mereka yang sering terlupakan. Para perempuan hebat di balik sejarah sinema Indonesia yang selama ini namanya tenggelam. "Kebudayaan akan hidup ketika setiap orang punya ruang untuk bersuara," kata Ignatia Nilu, sang kurator.

Itulah sebabnya, pameran ini tidak berakhir di pintu keluar. Pada ujung perjalanan galeri, ada ruang khusus. Di sana, tersedia tempat untuk menuliskan harapan, pandangan atau sekadar uneg-uneg(*)