Ketika Keroncong Jawa Menjadi Musik Perlawanan

Keroncong dengan lirik nada dan bahasa Jawa yang mendayu justru jadi medium kuat untuk menyampaikan keresahan sosial. 

Ketika Keroncong Jawa Menjadi Musik Perlawanan
Paksi Band. (istimewa)

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah hiruk pikuk dunia yang belakangan memanas, Paksi Band memilih jalannya sendiri bersuara lewat keroncong Jawa. Pada 12 September 2025, grup musik yang terbentuk sejak 2018 itu merilis single terbaru bertajuk Buta Murka.

Karya ini tak sekadar lagu melainkan sebuah pernyataan sikap. Liriknya mengangkat legenda Dewata Cengkar, raja zalim berwujud raksasa yang gemar memangsa manusia. Sosok itu akhirnya tumbang oleh perlawanan rakyat kecil. Bagi Paksi Band, kisah klasik dari sastra Jawa ini bukan sekadar dongeng masa lampau. Dia adalah cermin kegelisahan negeri hari ini.

“Legenda itu bisa jadi potret negeri hari ini. Jadi selain melestarikan kisah dari sastra Jawa, lagu ini juga bentuk dukungan kami pada aksi demonstrasi,” kata Paksi Raras, vokalis sekaligus pendiri Paksiband melalui keterangan tertulis, Minggu (14/9/2025).

Sudah dua tahun Paksiband tidak merilis karya baru. Terakhir, mereka eksis dengan album Panen Raya (2023) yang masuk nominasi Artis Keroncong Terbaik Anugerah Musik Indonesia 2023. Album itu membuktikan bahwa keroncong Jawa masih bisa bersaing di panggung musik nasional. Kini, lewat Buta Murka, Paksi Band melangkah lebih jauh, menjadikan musik tradisi sebagai medium perlawanan sosial.

Identik kelembutan

“Tidak hanya musik-musik modern seperti punk, rock, atau metal yang bisa menyuarakan aksi. Seni tradisi juga bisa ikut aksi. Kalau selama ini keroncong Jawa identik dengan kelembutan, kami justru memakainya untuk menyuarakan kegelisahan,” ujar Wawan, pemain ukulele cuk Paksiband.

Secara musikal, Buta Murka tetap kental dengan nuansa keroncong, namun diberi sentuhan instrumen etnik. Selain formasi inti yaitu Paksi (vokal, cak), Wawan (cuk), Dibya (bass), Bagas (drum), Irvan (flute) dan Rizky (keyboard), band ini melibatkan Jaeko untuk memperkaya lapisan bunyi dengan gamelan.

Hasilnya adalah keroncong Jawa yang terasa segar, tetapi tetap sarat tradisi. Sebuah eksperimen yang membuktikan bahwa musik warisan tidak melulu usang, melainkan bisa hadir relevan di tengah situasi kontemporer.

Di Indonesia, musik perlawanan selama ini lebih lekat dengan genre-genre keras seperti punk, rock dan metal. Paksiband membalikkan anggapan itu. Mereka menunjukkan bahwa keroncong, dengan lirik nada dan bahasa Jawa yang mendayu, justru bisa jadi medium kuat untuk menyampaikan keresahan sosial.

Video klip

Bagi Paksi Band, setiap karya seni adalah bentuk andil sekecil apapun untuk mendukung pergerakan rakyat. Buta Murka menjadi bukti bahwa tradisi tidak hanya untuk nostalgia, melainkan juga perjuangan.

Video klip lagu ini segera dirilis di kanal resmi YouTube Paksi Band. Dengan begitu, pesan perlawanan lewat keroncong Jawa bisa menjangkau lebih banyak telinga dan hati. (*)